
Bab 20
Dua belas jam kemudian, aku menutup intu yang sama dan langsung bergegas menuju ke tempat Paul menungguku. Saat aku melangkah masuk, aku melihatnya di samping bar dan jantungku pun berdebar keras. Pria itu menatapku lalu tersenyum manis. Wajahnya berseri-seri seperti saat kulihat di optik minggu lalu, lututku pun tiba-tiba merasakan keram yang tak berkesudahan.
“Akhirnya, kau datang juga.” Paul tersenyum lebar sambil menarik kursi untukku. “Senang rasanya kau datang sungguhan untuk kencan pertama kita.”
“Memangnya kau pikir aku tidak jadi datang?”
“Entahlah. Wanita cantik sepertimu akan sulit di tebak. Mereka gampang sekali berubah pikiran seperti berganti baju.”
“Aku tidak seperti yang kau bayangkan. Lagi pula kita bertemu janji untuk membahas humas. Kau tak pernah menyebutkan kata kencan selain urusan bisnis,” sahutku.
“Ah. Jadi, sekarang bagaimana?”
Aku pun mengangkat kedua bahuku. “Selagi kita berada di sini, maksimalkan saja acaranya,” usulku.
“Baiklah. Ngomong-ngomong, kau mau minum apa?”
Aku memesan minuman kesukaanku. Tak lama, kami sudah asyik mengobrol, saling bertukar kisah satu sama lain, tentang pekerjaan, masa kecil, membicarakan film favorit kami, dan hebatnya lagi, kami saling merayu seperti pasangan yang ada di tempat pijat. Dan ternyata kami juga banyak kesamaan.
“Ternyata asyik juga. Kita mempunyai banyak kesamaan. Sama-sama suka kegiatan outdoor. Apakah aku sudah cerita kalau aku pernah mendaki gunung di salah satu negara skoltandia tahun lalu?”
Aku memang bukan sepenuhnya penggemar kegiatan outdoor. Aku malah tidak tahu bedanya crampon dan tampon, tapi aku tidak akan mungkin bilang begitu di depannya.
“Oh, aku belum pernah mendakinya,” timpalku seakan-akan aku belum sempat mendakinya karena berlatih keras untuk mendaki puncak gunung selama tiga tahun.
“Kau harus mencobanya,” ujarnya. “Pemandangannya sungguh luar biasa kalau dilihat dari puncak,” lanjutnya dengan wajah binar yang tak sirna.
Setelah beberapa jam dan bebrapa gelas wine, aku hanya bisa berharap dengan tulus bahwa hubungan ini akan berlanjut lebih lama dari pada yang lainnya. Dan pada akhirnya aku bisa menikmati kencan pertamaku. Paul sungguh menghiburku, lucu dan juga seksi. Ia juga tidak menganggapku gila sama sekali. Mungkin itu belum. Ahaha
“Jadi, apa hubunganmu dengan pria yang datang bersama ke optikku minggu lalu?” tanyanya.
“Oh, itu..,”
“Siapa namanya? Apakah kalian berpacaran?”
“Castello. Namanya Castello,” ujarku. “Aku dan Castello emm, maaf saja tidak. Tidak ada apa-apa diantara aku dan dirinya.” Aku menahan senyuman di bibirku.
“Apa kalian ada hubungan darah? Maksudku bersaudara?”
“Tidak sama sekali. Meskipun Castello sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri. Dia itu sahabatku. Tapi tidak lebih dari itu. Sama sekali.” Aku pun menjelaskan hubunganku dengan Castello kepada Paul. Menurutku ini adalah suatu pendekatan sebelum melangkah ke jenjang yang berikutnya. Mungkin.
“Kurasa dia ingin lebih dari itu,” ujarnya dengan sebelah alis yang terangkat naik.
“Lebih? Bagaimana maksudmu?”
“Kau pasti tahu maksudku. Lagi pula, pria mana yang tak suka dengan dirimu?” Paul mengedipkan sebelah matanya ke arahku.
Aku pun segera menggelengkan kepala menandakan tidak sependapat dengan apa yang dikatakannya. “Kau sungguh keliru.”
Aku hanya menggerakkan tanganku yang tidak mengerti akan apa yang dimaksudkan.
“Berarti aku tidak memiliki saingan,” ujarnya berterus terang. Paul langsung mendekatiku, dan dari jarak sepuluh sentimeter, ia pun tersenyum lagi. Sayangnya, dia tak kunjung bergerak. Setelah rasanya sepuluh menit berlalu, meskipun mungkin sebenarnya cuma kurang dari sepuluh detik, aku jadi merasa canggung.
“Jadi..., sudah berapa lama kau bekerja di optik?” tukasku.
Ucapanku terpotong karena bibir Paul mendadak mengecupku, menciuumku dengan mantap dan percaya diri. Aku jadi terbawa suasana saat aku merasakan aroma wangi ditubuhnya. Aroma wangi mint dan wine merah yang bercampur. Selagi membalas ciumannnya, paul kemudian menggerakkan bibirnya ke telingaku dan menyisir rambutku dengan jemari tangannya.
“Barnya akan segera tutup, ikutlah ke tempatku,” bisiknya.
Semburan adrenalin memenuhi tubuhku. “Aku,.. sebaiknya pulang saja.
Paul berhenti lalu kembali duduk bersandar dan mengangkat bahunya. “Baiklah.”
Aku seakan-akan baru dihantam sebongkah batu besar berton-ton beratnya dengan kekecewaan yang aku derita. Jujur saja, aku ingin mengulang cumbuan itu dengannya sekali lagi untuk meneruskan hubungan ini. Moengobrol saja takkan melanggar aturan kencan pertama. Tapi tidak melakukan hal lebih dari pada itu.
Tiba-tiba saja aku berubah pikiran. “Mungkin saja aku bisa mempertimbangkannya,” bisikku sambil mengecup bibirnya lagi. Ia membalas ciumanku sementara denyut jantungku bertambah kencang. Ia lalu menarik dirinya, berdiri dan meraih mantelku dan kemudian tanganku.
“Ikutlah denganku,” ujarnya sementara aku merasa lega karena aku sempat membersihkan area bikiniku tadi sore.
...****************...
Tenang. Aku tidak berakhir tidur dengan Paul. Aku tak akan pernah begitu, tapi kadang aku kaget sendiri akan betapa teguhnya diriku.
Ketika kami tiba di rumahnya, dua orang teman serumahnya sedang bertanding nyanyi dengan pacar-pacar mereka. Aku bergabung dengan penuh semangat, tak ingin kekhilangan kesempatan mengalahkan mereka menyanyikan lagu-lagu The Beatles. Kami menyanyikan dan minum sampai jam tiga. Setidaknya, aku menyanyi, sedagkan Paul hanya diam saja, yang pasti akan membuatku kurang percaya diri seandainya aku tidak mabuk. Dan yang lain pergi tidur, suasana kembali memanas di sofa. Dengar ya, aku belum pernah bilang kalau aku ini malaikat yang suci, kan?
Dengan enggan aku meminta Paul menghentikan percumbuan kami jam lima tiga puluh, yang bertekad akan membiarkan Paul terjerat hasratnya. Aku harus betul-betul bisa mengumpulkan segala daya upayaku. Sungguh ini tantangan yang berat, karena tekadku sudah nyaris lenyap. Terkadang aku berpikir mana mungkin aku akan bertahan menghadapi masalah ini andaikata aku hidup di abad sebelum masehi.
Akhirnya aku terhuyung-huyung keluar dari taksi. Dengan berjalan sempoyongan aku melewati jalan setapak flat ku lalu masuk ke dalam kamar, otakku berputar sebab agak mabuk bercampur gembira. Aku baru saja berkencan dan kencan itu berjalan mulus. Tanpa terkecuali.
Aku pun tertidur lama sekali dan terbangun oleh permainan piano yang ada di ruang tamu. Yang pastinya Castello yang memainkan piano itu. Aku bangun, Castello sedang berada di dapur sepertinya ia sudah lama berada di kamarku.
Aku menghampirinya dan berdiri di ambang pintu dapur, “Semalam sangat sukses!” seruku. Kepalaku pening sekali rasanya berputar sehingga aku bisa mengepel lantai dengan lidahku, tapi aku tetap masih kuat menari-nari di dapur.
“Aku tahu. Baru kali ini kau terlambat untuk pulang ke apartemenmu. Apa kau mau kopi?”
“Sekalian buatkan untukku. Oh Tuhan, Paul itu baik sekali. Dia benar-benar baik. Aku merasa dia suka padaku,” ucapku.
“Itu kabar yang menggembirakan, Jane.” Castello menyalakan teko listrik dan menyendokkan kopi bubuk ke dalam alat pembuat kopi.
“Memang. Anyway, apa kau baik-baik saja?” tanyaku.
“Aku baik-baik saja. Hanya aku sedikit gugup tentang nanti malam,” ujar Castello.
...****************...
tbc