
Bab 59
Ketika lenganku sudah tidak kuat lagi, aku melemparkan kain itu di wastafel, lalu menuangkan air mendidih ke dalam cangkir teh kami, diikuti oleh sedikit susu dan meletakkan
cangkir Castello di depannya.
Aku meneguk tehku. "Aku terburu-buru."
"Jane... tunggu," tegas Castello menghalangi langkahku.
Aku berhenti, punggungku masih menghadapnya. "Kemari dan duduklah."
Dengan enggan aku berbalik, berjalan ke meja dan menenggelamkan diri di kursi di seberangnya. Mataku terpaku pada cangkirku.
"Masalahnya..." Castello berhenti. "Astaga, kulitmu kenapa?"
"Tidak apa-apa," jawabku malu-malu. "Hanya sensitif, itu saja."
Ini bukan satu-satunya.
"Masalahnya," Castello mengulangi, menatap tehnya, "kupikir kita harus membahas peristiwa tadi malam."
"Tidak ada yang perlu dibicarakan," kataku, menggeser posisi dudukku.
"Ada."
"Cast! Sungguh." Aku memaksakan senyum. "Hal terburuk yang mungkin terjadi pada kita adalah membesar-besarkan masalah itu."
"Ini memang masalah besar."
"Tidak, ini bukan masalah besar." Aku menelan saliva dengan susah payah.
"Ayolah, hal itu adalah kesalahan. Sebuah kesalahan yang bodoh. Kesalahan bisa terjadi kapan saja, kan?”
Castello menatapku dan tidak berkata mau membalas tatapannya. apa-apa. Aku tidak ingin membalas tatapannya.
"Kita harus menerima bahwa peristiwa itu adalah hal yang... menggelikan, buruk, mabuk... yang seharusnya tidak pernah terjadi," aku mengoceh. "Dan bersyukurlah bahwa hal itu tidak berlanjut lebih jauh lagi. Semakin cepat kita bisa melupakannya, itu semakin baik. Begitu caraku memandang masalah ini. Kuharap kau juga begitu, Cast."
Aku tidak bisa menebak ekspresinya saat aku mendongak ke atas menatapnya. Tetapi matanya menatap tajam ke arahku.
"Sudahlah. Semuanya akan baik-baik saja, dan kembali normal seiring waktu berjalan. Oke. Anyway, aku akan pergi berbelanja, apa kau ingin menitip sesuatu?" ujarku tak ingin memperpanjang masalah ini.
...****************...
Sulit untuk menggambarkan suasana di apartemenku selama dua minggu kemudian. Awalnya Castello tampak selalu ada setiap kali aku pulang, aku agak sulit membiasakan diri dengan hal ini, mengingat bahwa kehadirannya begitu langka sebelumnya. Castello berulang kali mencoba membicarakan peristiwa itu,
Namun tidak denganku. Setiap kali ia ingin membicarakan itu setiap kali pula aku segera memotongnya.
Hal ini bertentangan dengan semua yang kupelajari dari majalah. Namun aku tidak bisa menahan diri. Aku malu setengah mati. Benar-benar malu. Aku berharap aku tinggal di tempat lain untuk selamanya. Misalnya di Saturnus atau di Uranus.
Aku masih belum membahas kejadian itu dengan Julian ataupun Erin. Dan aku jelas belum memberitahu mereka apa yang terjadi pada malam itu. Aku sudah memikirkannya, tentu saja, namun seolah-olah membahas perasaanku pada Castello akan membuatnya lebih nyata dan aku lebih suka memilih menganggap bahwa perasaanku itu tidak nyata. Aku lebih memilih agar perasaanku itu tidak ada.
Beberapa hari, pun berlalu seiring terlupakan hal yang pernah terjadi. Aku masih disibukkan dengan adanya kasus perusahaan fashion yang menggunakan jasa dari Peaman Brown. Ketika aku sampai di rumah pukul setengah sebelas malam, Castello masih terlihat terjaga. Lampu-lampu di ruang tamu diredupkan dan ia sedang bermain piano, membelai-belai tutsnya, saat lagu mengalun dalam ruangan itu. Castello berhenti ketika aku membuka pintu. Aku hingga hampir lupa untuk merasa canggung. sangat lelah.
"Aku baru tahu kau sudah menambahkan lagu Beyoncé ke dalam daftar lagumu."
Castello tersenyum. "Ini Stravinsky."
"Yah, mendekati." Aku mengangkat bahu. "Bagaimana kabarmu?"
"Baik. Kau pulang larut sekali."
"Yah, hari ini seperti neraka."
"Setidaknya hari ini sudah berakhir."
Castello meringis. "Kata-katamu itu tidak terdengar terlalu optimis. Ada yang bisa kubantu?"
"Kurasa tidak. Aku mengalami masalah kasus yang melibatkan klien. Maksudku, kasus besar-besaran. Satu-satunya hal yang akan membuatku mampu melewati dua puluh empat jam ke depan adalah kerja keras, keberuntungan, dan mungkin kekuatan doa," sergahku.
"Apakah itu standar dalam industri humas?"
"Aku mulai berpikir bahwa memang seharusnya seperti itu," masih dengan posisi berdiri.
Lagi-lagi Cast tersenyum. "Kalau begitu, selamat tidur."
Aku berbalik untuk kembali ke kamarku melalui pintu meninggalkan Castello sendirian di ruang tengah.
"Oh, Jane?" panggilnya tiba-tiba.
Aku berbalik lagi.
"Setelah kasusmu berlalu, kau mau jalan denganku untuk minum-minum?"
Aku mengangkat alis dengan kelelahan. "Ya." Aku mengangguk. "Boleh juga."
"Lusa?"
"Setuju. Paling tidak, aku butuh menghapus kesedihanku."
Ketika aku masuk ke kamar tidurku, aku berbaring di tempat tidur dengan pikiran yang mengganggu berputar-putar dalam benakku. Aku mengambil ponselku dan mulai mengetik sebuah pesan kepada Julian.
Maaf aku krm pesan mlm2. Kau tdk cerita kpd siapa
pun ttg kasusku kan? Peach gear, kan?
Kukirimkan pesan itu dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka dan sikat gigi. Ketika aku kembali ke kamarku. aku mengambil ponsel dan melihat belum ada balasan dari Julian.
Akulah wanita yang paling beruntung. Artikel di media Gazette ternyata lebih baik daripada yang aku, Roger, atau siapa pun yang terlibat dalam proyek masalah Peach Gear harapkan.
Beritanya adil, seimbang, dan juga menyoroti tindakan positif mereka yang cepat, bahkan memuji tekad mereka untuk menebus kesalahan dalam komentar editorial bersama kutipanku yang berasal dari Aliansi Perdagangan Beretika dan wawancara dengan salah satu anggota mereka.
Liputan media dalam dua puluh empat jam berikutnya mengikuti arah yang sama, menerbitkan percakapan yang Roger dan aku lakukan dengan para produser stasiun-stasiun TV dan Radio serta para editor berita dari berbagai macam surat kabar. Ketika aku bertemu dengan Phil Edward untuk minum kopi bersama, aku sangat merasa percaya diri sekali.
"Jane, kau hebat. Kau telah melakukan aksi penyelamatan yang benar-benar hebat!" katanya padaku, sambil mengaduk cappuccino nya.
Aku tersenyum, dengan perasaan yang benar-benar lega. "Terima kasih, Phil. Aku ..,"
"Itulah komentar yang kuberikan kepada Janine."
Aku berhenti sejenak untuk membaca ekspresinya. Ia
tampak tidak nyaman. "Bagaimana pendapat Janine tenang kinerja kami?" tanyaku dengan hati-hati.
Phil membuka bungkus gula keduanya dengan perlahan-lahan. "Dewan direksi masih percaya bahwa kami tidak akan pernah berada dalam situasi seperti ini jika berita itu tidak bocor. Mereka tetap yakin kebocoran itu bersumber darimu."
"Mengapa aku melakukan itu kepada salah satu klienku sendiri?" aku berseru dengan marah.
Ia mengambil sendok dan mengaduk cappuccino-nya lagi. "Aku dengar kata-katamu. Aku mendukungmu, Jane, jujur saja. Namun reporter dari media Gazette tahu hampir segala sesuatu yang kau lakukan. Bagaimana kau bisa menjelaskan hal itu?"
Aku menggigit bibir. "Mungkin seseorang mendengar kita berbicara di kafe ketika aku bertemu denganmu dan Janine."
Phil menatapku dengan iba. Aku menatap ke luar jendela untuk mencari penjelasan lain. Sayangnya, aku tidak bisa menemukan apa pun dari luar jendela.
...****************...
Tbc