Alexander is Cumlaude

Alexander is Cumlaude
Sindiran Nyonya Madison



"Sayang....!" Teriak Cyril mencari keberadaan sang suami, yang suaranya terdengar hingga ke ruangan dua insan yang tengah mengobrol, di ruang kerja Aldrich.


Mendengar suara Cyril yang memanggil putranya, Nyonya Madison menyudahi pembicaraan penting dengan sang putra, dan pergi meninggalkan ruang kerja. Wanita paruh baya ini pun berjalan menuju meja makan, yang kebetulan berpapasan dengan Cyril sang menantu.


"Ma, Mama lihat Aldrich tidak?" tanya Cyril yang baru saja masuk, setelah pergi keluar mencari keberadaan sang suami.


"Di ruang kerjanya!" sahut Nyonya Madison datar, lalu lanjut duduk di kursi meja makan.


Cyril bergegas menemui sang suami, namun Aldrich sudah keburu keluar dari ruang kerjanya dan mereka berpapasan di depan pintu.


"Ada apa, Cy?" tanya Aldrich menatap sang istri.


"Kenapa ada di ruang kerja, bukan kah kamu baru datang?" balas Cyril sembari membuka pintu ruang kerja Aldrich, melihat ada apa di dalamnya.


"Mendadak Bryan mengirim file penting dan aku baru saja membukanya," kilah Aldrich beralasan.


Keduanya kemudian berjalan menuju kamar, Aldrich pun segera mengguyur tubuhnya dengan guyuran air dan seketika kembali segar. Di bawah guyuran air dari shower, Aldrich terus terngiang akan semua perkataan sang Mama. Membuat pria ini terus berpikir, akan kah hal itu akan terjadi, akan kah Jane memaafkan dirinya.


"Kenapa kamu tampak kusut sekali malam ini, Sayang?" Cyril mencoba mendekati suaminya yang baru saja selesai mengganti pakaian.


"Biasa, masalah pekerjaan saja," timpal Aldrich datar. Keduanya kembali turun dan menuju ruang makan.


Tampak kekesalan yang selalu terlihat dari wajah Nyonya Madison, tiap kali melihat wajah sang menantu. Namun demi menghormati sang putra, Nyonya Madison selalu bersikap tenang. Dan malam itu mereka menikmati makan malam dalam keheningan, tanpa keakraban atau kehangatan seperti dulu, awal pernikahan mereka.


"Al, pernikahan kalian sudah cukup lama, namun istri kamu belum juga bisa memberimu keturunan, menikahlah lagi Al. Mama ingin melihat mu menggendong seorang anak sebelum Mama tiada," sindir Nyonya Madison seusai makan malam.


Perkataan Nyonya Madison terdengar bagai tamparan bagi Cyril, dirinya sadar sudah gagal menjadi seorang istri, karena sampai saat ini masih belum juga bisa memberi keluarga Barayeve seorang penerus. Cyril membanting sendok dengan kasar, menyudahi makan malamnya. Seketika moodnya hilang, oleh sindiran sang ibu mertua. Wanita itu beranjak bangkit dari duduknya, namun Aldrich menahan tangannya, dan membuat wanita itu kembali duduk.


"Ma, di luar sana masih banyak juga pasangan yang sudah menikah bertahun-tahun namun belum juga memiliki keturunan. Cyril tidak bersalah, yang salah Aldrich, Ma."


"Perempuan yang tidak bisa memberikan keturunan bagi pasangannya, maka perempuan itu tidak berguna. Mama hanya ingin seorang cucu, titik....!"


Nyonya Madison kemudian pergi meninggalkan ruang makan, seusai menghardik sang menantu. Kini tinggallah Aldrich dan Cyril di meja makan, yang saling membisu.


"Semakin hari Mama kamu semakin keterlaluan, sudah tua, mulutnya masih saja pedas!" gerutu Cyril kesal, pergi meninggalkan ruang makan.


Otak Aldrich kembali dibuat panas oleh kedua wanita di rumah tersebut. Sebenarnya di antara keduanya tidak ada yang salah sama sekali, sebab berulang kali Nyonya Madison membawa Cyril pergi ke dokter kandungan untuk memeriksakan kesuburan, hasilnya wanita itu dalam kondisi baik-baik saja alias subur. Andai Aldrich mampu membuka suara dan mengatakan semua kebenaran tentangnya kepada kedua wanita tersebut, maka ke salah pahaman pun tidak akan terjadi berkelanjutan.


Malam itu sepulang dari tempatnya bekerja, Jane sedang berdiri di depan jalan raya. Sedang menunggu taksi pesanannya datang. Seraya menggandeng tangan Alexander. Tiba-tiba sebuah mobil mewah yang sudah sedari tadi mengawasinya dari kejauhan, berhenti tepat di depan Jane dan Alexander berdiri.


Seorang pria yang wajahnya sudah tidak asing lagi, tampak membuka kaca pintu mobil. Sebuah senyuman lebar menyambut Jane dan Alexander dari pria tersebut, yaitu Daren.


"Naiklah! Sebentar lagi hujan turun, kasihan anak kamu, kedinginan."


Daren membuka pintu mobil nya, wanita yang tengah berdiri bersama buah hatinya terlihat canggung dan malu untuk masuk ke dalam mobil atasannya. "Terima kasih, Tuan Daren. Biar kami menunggu di sini saja, sebentar lagi juga taksi itu datang."


Jane menolak halus ajakan atasannya tersebut, masih ragu untuk masuk. Namun benar saja apa yang diucapkan oleh Daren, tiba-tiba gerimis mulai berjatuhan, membuat Alexander menutupi kepalanya dengan tas yang ada di punggungnya.


Tak menunggu lagi jawaban dari wanita di depannya, Daren segera turun dari mobil dan menarik tangan Alexander, membawanya masuk, duduk di sampingnya. Jane semakin salah tingkah, sementara sang putra telah dengan nurutnya ikut bersama Daren masuk mobil.


"Apa kamu masih ingin berdiri di situ sampai hujan turun? Dan membiarkanku menculik putra mu," Goda Daren dengan tatapan lembut.


Jane tak bisa beralasan menolak lagi, sebab di luar hujan mulai turun. Dan ia pun terpaksa bergegas masuk ke dalam mobil Daren, dan duduk di bangku belakang. Membuat pria yang sudah menyukainya sejak lama secara diam-diam itu, tersenyum. Sebuah celah untuk bisa mendekati Jane lebih dekat lagi, pikir Daren saat itu. Dan mobil mewah itu pun meninggalkan kawasan perusahaan.


****


BERSAMBUNG....