Alexander is Cumlaude

Alexander is Cumlaude
Murka Vincent



Mendengar kabar bahagia Gordon telah berhasil menikahi Jane, hal itu semakin membuat CEO pshycopat yang tengah mendekam di balik jeruji besi hatinya meradang kepanasan. Tatkala otaknya mendidih seketika. Bahkan guncangan emosi yang dialaminya semakin membuat Vincent tidak dapat mengontrol kemarahannya.


"Jaaaaaaaane....!" teriak Vincent sekuat tenaga.


Para petugas penjaga sel tahanan pun segera bergegas berlari menghambur menuju ruang sel Vincent.


"Hei, kau tahanan baru! Tidak bisakah mulutmu diam sejenak? Kamu telah mengganggu tahanan lainnya!" hardik kepala penjaga sel.


"Cepat kalian keluarkan aku dari tempat biadab ini, atau kalian semua akan menyesal nanti!" ancam Vincent sekali lagi berteriak sekencangnya kepada petugas penjaga.


"Sepertinya pria ini sudah mulai kehilangan kewarasannya. Cepat panggil dokter ke sini!" teriak kepala penjaga.


Terlihat dua orang sipir tengah berlari mencari dokter. Sementara di dalam sel tahanan, kemarahan Vincent kian menggila. Para tahanan yang lain tak ada satu pun yang berani mendekat. Semua terlihat ketakutan dan meminta kepada kepala penjaga sel untuk memindahkan mereka ke sel sebelah, tentunya yang lebih aman.


"Pak, tolong pindahkan kami semua atau pria gila ini akan membunuh kami satu persatu," hiba salah seorang tahanan.


"Iya, Pak, tolong kami! Sebaiknya bawa saja Tuan itu!" sahut tahanan lainnya.


"Tenang, tenang! Kalian tenang saja sebentar!" sahut kepala penjaga.


Tak lama setelah kedua sipir berlari mencari dokter, maka dokter pun datang untuk memeriksa kondisi Vincent yang terus saja berteriak mengamuk.


"Lepas! Aku tidak gila, lepaskan aku!" teriak Vincent tepat di wajah dokter yang memeriksa.


Karena dokter merasa kuwalahan menghadapi tenaga Vincent yang melebihi orang kerasukan, maka beberapa sipir yang berjaga pun menghambur membantu sang dokter. Memegangi tubuh Vincent, hingga pria itu tidak berdaya setelah susah payah melakukan perlawanan. Setelah berhasil dilemahkan, maka dokter pun menyuntikkan sebuah suntikan yang berisi obat penenang.


Terlihat tak lama kemudian setelah obat berhasil bekerja, perlahan kekuatan besar yang dimiliki Vincent pun melemah. Dan kini pria yang terkenal pshycopat itu tampak terkulai lemas di atas ranjang. Lalu dokter pun meninggalkan ruang sel tahanan tempat Vincent mendekam. Setelah Vincent tampak lebih tenang dalam tidurnya.


***


"Kalian awasi ruangan ini lebih ketat. Perketat penjagaan, dia bisa berbuat nekat!" ujar kepala penjaga seraya berlalu pergi meninggalkan ruangan sel Vincent.


Hari pertama setelah menikah dengan Jane, Gordon tinggal bersama di apartemen sang istri. Alasan mengapa istri beserta anak sambungnya tidak tinggal di kediaman Gordon adalah ia menghormati keputusan Jane yang tidak ingin diisukan di laman berita bahwa ia menikahi Gordon hanya demi status sosial semata.


"Hei tampan nya Daddy! Apa yang kau lakukan di sini?" sapa Gordon membuka pintu kamar sang putra sambung.


"Hei, Daddy, kemarilah!" balas Alexander menatap ke arah Gordon yang mendekat.


Gordon pun mendekat dan turut merebahkan tubuhnya di samping sang putra, yang sedang memainkan layar laptopnya tengah sibuk menyiapkan tugas kuliahnya. Tangan Gordon lalu mengusap pucuk kepala si genius seraya mendaratkan sebuah kecupan di sana.


"Tampan, apa kamu tidak merasa bosan sayang dengan semua tugas yang melelahkan ini? Tentunya pasti sangat menguras otak kamu," tanya Gordon.


Dengan santai bocah yang masih fokus pada layar laptop nya pun menggeleng, "Aku sangat senang sekali Daddy. Ditambah jika mendapat tugas tambahan baru yang belum pernah aku pelajari," tandas Alexander bersemangat.


"Mommy kemana Dad?"


"Mommy sedang menyiapkan makan malam kita. Baiklah, tampan lanjut kerjakan tugas kuliahnya, Daddy akan membantu Mommy."


Gordon pun akhirnya pergi ke dapur membantu sang istri yang tengah menyiapkan makan malam.


"Hei, sayang! Masak apa? Baunya harum sekali?" tanya Gordon yang tiba-tiba memeluk tubuh sang istri dari belakang.


Aroma wangi tubuh Jane semakin membuat Gordon tak hentinya mengendus rambut serta area leher jenjang sang istri.


"Sayang, ngagetin deh. Ini aku sedang memasak kesukaan anak kita," jawab Jane tak menghalangi tangan sang suami yang masih melekat erat di pinggulnya.


"Sayang mau aku buatin apa nih?" balas Jane berpura tidak tahu akan arah pembicaraan sang suami.


"Aku mau Mommy buatin Gordon junior," bisik Gordon menggoda.


"Sayaaaang....!" teriak Jane reflek, membalik badan.


Tak ayal kesempatan bagus itu tak ingin Gordon lewatkan percuma. Gordon pun menyambut bibir Jane yang dimanyunkan dan ********** lembut. Jane tak dapat menolak serangan yang tiba-tiba saja terjadi. Karena posisi dia tepat dalam pelukan sang suami, sementara kedua tangannya masih memegang spatula beserta saringan.


Aksi romantis yang mereka lakukan berlangsung beberapa detik di dapur, dan terhenti saat si genius tiba tiba memasuki dapur dan mengagetkan keduanya, hingga spatula yang ada di tangan Jane pun terjatuh dan mengenai tepat kaki kanan Gordon.


"Auw....!" pekik Gordon mengaduh.


"Mommy, Daddy bukannya kalian sedang memasak? Kalian malah berciuman disini" celetuk Alexander tanpa merasa bersalah dengan kepolosannya.


Jane berjongkok mengambil spatula yang terjatuh, dengan kedua pipi yang memerah karena malu. Sementara Gordon masih terlihat santai melihat kedatangan si genius.


"Tampan, sedang apa di sini sayang? Bukannya tampan sedang belajar," timpal Gordon santai.


"Tidak seperti itu sayang, tadi ada sesuatu yang menempel di bibir Daddy, karena tangan Mommy tidak bisa membersihkannya maka Mommy menggunakan bibirnya untuk membersihkan," imbuh Gordon menyeringai.


"Ya Tuhan, pintar sekali dia membuatku malu di hadapan putraku. Awas saja kau!" batin Jane menggerutu.


Melihat sang istri yang mulai tersulut kesal, Gordon pun tersenyum penuh kemenangan. Karena telah berhasil mengerjai Jane.


"Baiklah, kalian lanjutkan saja! Aku akan kembali ke kamar. Jika sudah siap panggil saja."


Alexander lalu berjalan kembali menuju kamarnya. Dan menggelengkan kepala.


" Aahh...., dasar drama orang dewasa, seenaknya saja membohongi anak kecil. Membersihkan mulut itu menggunakan tissu bukannya memakai bibir," gerutu si genius menepuk jidat.


"Kenapa harus berbohong menjadikan aku alasan?" ucap Jane terlihat kesal, menata masakannya dengan kasar.


Gordon kembali dibuat gemas oleh sikap Jane yang semakin lucu saat kesal. Membuat pria yang baru saja menyandang gelar sebagai suami tersebut semakin ingin mengerjai sang istri.


"Kalau aku tidak berbohong, lantas apa sayang ingin aku memberi alasan kepada tampan 'iya aku sengaja mencium Mommy."


Mendengar jawaban yang semakin membuatnya kesal, sendok pun hampir saja dilayangkan Jane ke arah Gordon, namun secepat kilat pria itu kembali berhasil menangkap tubuh sang istri dan memeluknya erat dalam dekapannya.


"Aduh Mommy cantik sekali ya kalau marah. Semakin membuat Daddy gemas dan semakin sayang," rayu Gordon berbisik.


"Maaf ya sayang atas kenakalan ku. Aku hanya ingin membuat suasana rumah ini menjadi lebih hidup dan dihiasi canda tawa kita bersama," imbuh Gordon.


"Tapi aku malu!" balas Jane dengan suara lirih yang hampir saja menangis.


"Mommy sayang, dengar baik-baik ya! Mulai saat ini Mommy harus terbiasa mendengar gurauan serta candaan Daddy. Daddy mau Mommy menghapus semua kesedihan dari masa lalu kalian. Hari hari kita yang ada hanyalah kebahagiaan."


Sejenak Gordon berhasil membuat kekesalan Jane kembali luluh. Dalam pelukan Gordon wanita itu terlihat pasrah. Dan tak lama kemudian ketiganya melakukan makan malam bersama dengan penuh kasih sayang.


***


BERSAMBUNG....