Alexander is Cumlaude

Alexander is Cumlaude
Kagetnya Aldrich



"Apa benar dia adalah putra Jane? tidak, tidak! Itu hanya kebetulan saja mirip denganku!" gumam Aldrich lirih.


Tidak hanya sang putra yang sedang mencari sosok ibunda dari bocah genius tersebut. Tapi wanita paruh baya yang sedang duduk di samping Aldrich Barayeve, juga turut mengedarkan pandangan mencari hal yang sama.


Entah disengaja atau tidak, kehadiran Jane di samping suaminya, benar benar tidak terlihat oleh pasangan ibu dan anak tersebut. Kendati demikian, sembari terus mencari keberadaan Jane, keduanya juga fokus menyimak jalannya acara pagi itu.


"Apa pria itu ayahnya? Mengapa tidak memiliki kemiripan sama sekali?" Aldrich semakin berusaha keras menerka bocah genius tersebut.


"Selamat pagi saya ucapkan, kepada seluruh jajaran pengurus Universitas ZahLon beserta para Dosen, Dekan, dan juga Rektor. Selamat pagi juga kami ucapkan kepada seluruh mahasiswa yang akan melaksanakan pendidikan kilat di kampus ini selama dua pekan, tak lupa selamat pagi kami haturkan kepada dewan komite, Nyonya Madisson yang terhormat. Untuk mempersingkat waktu, sebaiknya kita perkenankan satu persatu bagi para mahasiswa untuk naik ke atas podium, memperkenalkan diri!"


Acara pembukaan dari profesor pagi itu mendapat sambutan hangat serta applaus riuh dari seluruh undangan yang hadir. Satu per satu dari mereka memperkenalkan diri bergantian. Hingga tiba pada giliran yang sangat ditunggu-tunggu oleh seluruh profesor.


Perihal sosok yang sangat langka dalam sepanjang sejarah dunia pendidikan. Dimana bocah yang baru berusia delapan tahun, ternyata mampu menempuh pendidikan pada tingkat yang bukan semestinya dari biasanya. Perbagai pertanyaan pun silih berganti datang terlontar kepada Alexander yang merasa kagum juga penasaran, akan sosok dirinya.


"Selamat pagi semuanya! Perkenalkan nama saya adalah, Alexander Au...!" mendadak si genius teringat jika ia sedang berdiri di tengah-tengah tokoh penting dan disaksikan oleh banyak pasang mata. Menggantung ucapannya.


"Maaf interupsi, perkenalkan nama saya adalah Alexander Ramsay!" Hati yang sedari tadi berdetak kencang saat sang putra naik ke atas panggung, kini tak kuasa lagi dibendung untuk tidak jatuh buliran anak sungai dari manik Jane. Wanita itu sama sekali tidak menyangka jika sang putra rupanya sadar untuk tidak membuka siapa jati dirinya yang sebenarnya. Meski seluruh Dosen yang hadir mengetahui jika nama bocah itu adalah Alexander Audrey Barayeve.


"Ternyata bukan putraku dia!" batin Aldrich kecewa begitu pun dengan Nyonya Madison.


Setelah sesi acara perkenalan kini sesi selanjutnya yaitu akhir, nyonya Madison dipersilahkan untuk naik ke atas podium guna menyampaikan sambutan sepatah kata. Karena hatinya telah kecewa maka hal itu ia wakilkan kepada sang putra.


"Mama mohon kamu saja yang naik ke atas, Al!" seru Nyonya Madison sedikit memohon.


"Mama kenapa? Mama baik baik saja bukan?" Aldrich terlihat khawatir dengan kondisi sang ibu saat itu yang terlihat pias.


"Mama baik saja, hanya mendadak sedikit lelah!" ujar nyonya Madison lesu.


Sebagai putra yang sangat berbakti kepada sang ibunda, maka Aldrich pun naik ke atas panggung sebagai perwakilan donatur kampus.


"Jeder....!" bagai petir yang menyambar di siang hari yang terang benderang bagi Aldrich saat berdiri di depan khalayak mahasiswa.


"Di- dia!" gumam Aldrich bergetar menyebut nama wanita dari masa lalunya hadir di depan mata.


Siap atau tidak, kedua pandangan dari keduanya sempat bertabrakan. Bak dihunus pedang tajam tepat ke jantungnya, bagi seorang Aldrich Barayeve kala itu. Saat kedua bola mata melihat kehadiran sosok yang daritadi ia cari-cari.


"Ternyata benar itu dia! Jadi anak itu benar putra Jane?"


"Dia!" ujar Jane lirih, seraya membungkam mulut.


"Takdir benar benar tidak adil padaku. Kenapa harus secepat ini dia melihatku," batin Jane penuh kemarahan.


Sementara pria yang tengah duduk manis di samping sang istri, rupanya sempat melihat kejadian ******* antar istrinya dengan pria yang sedang berdiri di depan umum.


"Apa itu dia?" batin Gordon menerka. Pandangannya bergantian melihat ke arah Jane dan Aldrich.


Namun pemilik GD COMPANY itu tidak mau langsung mengambil kesimpulan sebelum melihat lebih jelas dan mendengar langsung siapa sosok yang mampu membuat sang istri tercinta terdiam dengan tatapan nyalang.


Hingga sampai sesi Aldrich Barayeve memperkenalkan diri tiba. Dari situlah Gordon tersenyum miring. Bahkan merengkuh pundak sang istri dengan mesra, membuat mata Aldrich nanar dan panas.


Dan Jane pun sengaja membiarkan Gordon berbuat demikian, karena ia tahu pasti jikalau Gordon sudah paham akan siapa pria yang kini berdiri di atas podium.


Rupanya penampilan Jane yang begitu tenang, membuat pertahanan kokoh seorang Aldrich Barayeve runtuh di depan umum. Pria itu tak tahu lagi akan berkata apa, sebab hati, otak, serta bibirnya sudah dipenuhi rasa takut yang teramat ketika melihat wanita yang dulunya baisa saja kini kembali dalam bentuk berbeda, sungguh sebuah kado yang mengejutkan yang Tuhan kirim padanya.


"Apa benar itu anak ku? Apa Alexander benar benar darah dagingku?" satu per satu batin Aldrich kembali berkecamuk penuh penyesalan serta ketakutan. Bahkan Nyonya Madison sendiri merasa heran dengan sikap sang putra yang mendadak ambigu di depan podium.


"Ada apa dengan anak itu? Seperti belum pernah mengisi acara di depan umum saja, benar benar membuatku malu!" dengus Nyonya Madison kesal.


Aldrich sempat terdiam untuk beberapa waktu di atas podium. Bahkan suara bisik dari beberapa undangan, tidak juga mampu membuatnya untuk tersadar kembali dan terjaga dari lamunan. Kehadiran Jane pagi itu benar benar merupakan kejutan sekaligus pukulan hebat sampai ke relung hati Aldrich.


Bocah yang selama ini menganggap sang ayah telah meninggal seperti pernyataan Jane, kini akhirnya bisa melihat secara langsung sosok pria yang beberapa hari terakhir baru ibundanya ceritakan.


"Apa dia benar Daddy Al?" gumam si genius.


Ingin menghampiri seraya bertanya kebenaran kepada pria yang berdiri di atas podium, namun niat itu Alexander urungkan. Sebab ia masih ingat dengan jelas bahwa sang ibunda pernah berkata jika Daddy Al adalah orang yang jahat.


"Jika itu benar adalah Daddy Al, aku harus mencari tahu kenapa dia jahat kepada Mommy?"


***


BERSAMBUNG...