
"Apa aku harus mengatakan yang sebenarnya kepada Alex?" ucap Jane lirih kepada sang suami di ruang kerjanya.
"Apa kamu sudah siap, sayang?" Gordon menghentikan tangannya dari laptop. Beralih memegang kedua bahu sang istri yang kini duduk di pangkuannya.
Jane mengangguk pelan, dengan wajah tertunduk lesu. Mengangkat dagu Jane, menatapnya lekat, "Jika ini adalah yang terbaik menurut kamu, cobalah berbicara dari hati dengan tampan sayang. Aku yakin perlahan dia akan mengerti, waktunya sudah tidak ada lagi jika bukan sekarang."
"Apa aku sanggup? sedang aku pernah mengatakan bahwa ayahnya sudah bahagia di surga," tampak kesedihan Kembali bergelayut di wajah Jane.
"Aku akan menamani sayang, mari kita bicara dengan anak kita," Gordon lalu mengantar sang istri pergi ke kamar sang putra yang rupanya masih terjaga, sedang mencari tahu informasi tentang nama-nama kota dari kota kelahiran sang ibu.
"Tok tok tok...!"
"Masuk!" sahut Alexander dari dalam.
"Mommy, Daddy, sini temani Alex melihat destinasi untuk kita sekalian liburan di kota kelahiran Mommy!" tukas Alexander bersemangat memperlihatkan layar laptopnya kepada sang ibunda.
"Wah boleh dong biar Daddy lihat," celetuk Gordon melihat laman yang sedang dilihat sang putra. Sementara Jane duduk di samping Alexander seraya mengulas senyum. Dan turut menyimak laman tersebut.
"Nah ini pantai tidak jauh dari kampus Alex nantinya. Jika ada waktu senggang, nanti kita berkunjung ke sana ya Dad?" ucap Jane.
"Tentu dong, Mom. Daddy juga penasaran nih seperti apa indahnya kota kelahiran Mommy. Pasti sangat indah, karena tempat lahirnya bidadari. Benar kan tampan?" kelakar Gordon mencairkan suasana.
Setelah lama ibu dan ayah itu mengikuti alur obrolan sang putra, kini Gordon berusaha mengganti topik pembicaraan sang anak.
"Nah bahas tempat liburannya sudah kan? bagaimana kalau sekarang, Alex tutup laptopnya. Dan naiklah ke tempat tidur. Malam ini Mommy sama Daddy ingin tidur bersama di sini, boleh kan?" ujar Gordon.
"Benar kah Mom?" Alexander terlihat berantusias mendengar kedua orang tuanya hendak menghabiskan malam bersama di kamarnya.
"I Love You Daddy, Mommy!" ucap Alex tampak kegirangan. Mencium pipi kedua orang tuanya bergantian.
Ketiganya kini menenggelamkan diri di balik selimut. Dengan kode isyarat dari suami tercinta, Jane mulai membuka obrolan. Walau sebenarnya terasa sesak untuk ia melakukannya. Tapi benar seperti apa yang dikatakan sang suami dan sahabatnya bahwa mungkin ini adalah saat yang memang Tuhan berikan untuk dia berterus terang tentang siapa ayah kandung Alexander sebenarnya.
"Sayang, boleh tidak Mommy berterus terang tentang sesuatu?" pancing Jane.
Alexander menatap sang ibu dan memeluknya, "Katakanlah Mom, Alex akan mendengar cerita Mommy, iya kan Dad?"
"Iya benar sayang, kita berdua menyimak cerita Mommy ya!"
Jane menghela napas panjang sebelum memulai bercerita. Degub jantungnya pun mulai berdetak kencang.
"Alex merindukan Daddy Al tidak?" selidik Jane.
"Alex belum pernah melihat wajah Daddy Al, tapi Alex sangat menyayangi Daddy Al, Mom," jawab Alexander. Bocah genius itu mengusap pipi sang Mommy.
"Lantas jika misal Daddy, Tuhan hadirkan di hadapan sayang suatu saat nanti, apakah Alex mau menerima Daddy?" sesaat bocah genius itu terdiam, sepertinya otak geniusnya mulai mencerna ucapan sang ibunda.
"Kata Mommy, Daddy Al sudah bahagia bersama Tuhan di surga, bagaimana mungkin bisa hadir di hadapan Alex, Mom?" Kali ini Jane yang mulai kebingungan melanjutkan cerita.
"Boleh Mommy berterus terang, sayang?" ucap Jane penuh harap.
Gordon merasa iba melihat sang istri yang kesulitan untuk bercerita, dan ia pun tak mau melihat Jane kembali bersedih. Maka Gordon pun unjuk suara.
"Mungkin Mommy takut salah ucap sayang, biar Daddy yang lanjut bercerita ya?" ujar Gordon. Si genius pun mengangguk.
"Sebenarnya Daddy Al masih hidup sayang, sengaja Mommy merahasiakan hal itu dari tampan, karena Mommy tidak ingin tampannya Daddy ini bersedih."
"Kenapa Mommy takut Alex bersedih, Dad?" sejenak Gordon pun mulai kesulitan untuk menjelaskan, sebab ia tahu benar lawan bicaranya bukanlah anak kecil yang gampang dibodohi tanpa penjelasan yang benar benar dapat diterima akal.
"Ka- karena Daddy Al sudah berbuat jahat sama Mommy dan Alex?" tiba-tiba kalimat itu terlontar begitu saja dari bibir Jane. Saat itu juga Alexander yang tadinya menatap ke arah Gordon, segera berganti ke arah wajah Jane.
"Jahat bagaimana Mom?" si genius makin dikuasai rasa penasaran dari cerita sang ibu. Namun bibir Jane kembali bungkam karena air mata mulai tidak dapat dibendung lagi untuk tidak terjun bebas dari maniknya.
Jane membungkam mulutnya, menahan Isak tangis yang kembali pecah. Gordon segera bangun dan menenangkan sang istri yang mulai bersedih.
"Ayo sayang, cobalah kuat untuk sekali ini saja! Aku yakin kamu pasti bisa sayang," ucap Gordon menyemangati hati sang istri.
Sementara itu si genius hanya terdiam berusaha mencerna sepenggal-sepenggal cerita antara sang Daddy dan Mommy nya.
"Apa yang sudah dilakukan Daddy Al, sehingga Mommy sangat bersedih begitu? Aku kasihan, tidak tega melihat Mommy menangis," batin si genius.
Suara Isak tangis Jane semakin membuat si genius penasaran akan masa lalu pahit apa yang pernah dilalui oleh sang ibu. Hingga tangisnya seolah sangat mendalam, mewakili luka dari batinnya.
"Maafkan Alex, Mom. Tidak usah Mommy lanjutkan cerita ini. Alex yakin, Mommy pasti punya satu alasan yang sangat kuat untuk merahasiakan semua masa lalu Mommy bersama Daddy Al."
Tangis Jane kian pecah mendengar kata-kata sang putra. Bagaimana bocah seumuran dia bisa begitu mengerti dan menghargai apa yang telah ia alami. Dengan tidak menuntut kelanjutan cerita yang tidak sanggup untuk ia ceritakan.
Alexander pun memeluk tubuh sang ibu erat, begitu juga dengan Gordon. Ketiganya malam itu berusaha menghibur hati Jane. Hingga tanpa sadar mereka akhirnya tertidur dengan lelap dalam sebuah pelukan hangat.
"Aku pasti akan mencari tahu sendiri kejahatan apa yang sudah Daddy Al lakukan terhadap Mommy. Aku tidak akan membiarkan Mommy bersedih lagi, itu janji Alex, Mom."
Itulah gumaman hati si genius sebelum ia memejamkan mata dan tertidur.
"Maafkan Mommy, Nak!" batin Jane.
"Kamu memang anak hebat kesayanganku, kamu benar-benar seorang lelaki sejati yang tidak membiarkan wanita bersedih, carilah tahu tentang kejahatan ayah kandungmu. Berilah keadilan untuk ibumu," batin Gordon.
***
BERSAMBUNG....
*Penasaran kan akan kelanjutan cerita si genius☺️🙏 jangan lupa tinggalkan jejak like, rate 🌟 5 serta vote nya ya kakak 🥰 agar othor semangat menulis🥰🥰*