
Hari yang ditunggu-tunggu pun telah tiba. Pagi ini adalah jadwal keberangkatan Alexander bersama kedua orang tuanya, mewakili kampus. Dan pagi yang indah nan cerah dengan awan seputih kapas yang membiru seolah menjadi saksi bahwa alam meridhoi keberangkatan mereka bertiga yang sengaja mengambil penerbangan menggunakan jet pribadi milik Gordon.
"Bagaimana perasaan kamu, sayang?" tanya Gordon kepada sang istri.
"Semoga perjalanan kita kali ini menyenangkan, sayang!" jawab Jane seraya mengulas senyum.
"Nah gitu dong, itu baru namanya wonder women nya Gordon, iya kan tampan?" kelakar Gordon. Diikuti suara kekehan tawa kecil dari bibir ibu dan anak tersebut.
Di atas jet pribadi yang sengaja didesain khusus oleh Gordon dengan nuansa yang sangat hangat dan menenangkan, membuat Jane beserta sang putra sangat menikmati perjalanan kali ini. Senyum merekah yang mengembang dari si pemilik bibir sensual tak hentinya untuk tidak tersenyum, tiap kali wanita yang dicintainya terlihat bahagia dengan bercanda tawa bermain sebuah permainan bersama si genius.
"Semoga canda tawa itu terus menghias hari hari dalam hidup mu, sayang," batin Gordon tersenyum bahagia.
***
Daren yang mendengar kabar bahagia tentang keberangkatan sang kakak bersama keluarga kecilnya menuju kota kelahiran sang kakak ipar. Daren pun turut bahagia dan mendoakan semoga semua rencana merek berjalan dengan lancar.
"Boleh kah, aku bertanya sesuatu?" Tanya Fiola saat baru saja mendampingi Daren rapat dalam sebuah jamuan khusus dengan investor.
"Katakanlah!" ucap Daren datar seperti biasanya.
"Aku pernah dengar bahwa istri Gordon adalah sahabat kamu juga, apa kamu juga pernah mencintainya?" tanya Fiola memberanikan diri.
Si pemilik manik warna biru itu pun seketika netranya membola segede bola pingpong. Pasalnya Fiola selama ini tidak pernah bertanya tentang pribadinya, namun kini mulai berani bertanya dan hal itu terdengar janggal di telinga Daren.
"Apa? Apa aku tidak salah dengar? seorang Fiola yang aku pikir beda dari gadis kebanyakan yang suka kepoin kehidupan orang, ternyata sama saja!" dengus Daren kesal.
"Maaf, bu- bukan begitu. Maksud aku hanya ingin tahu saja persahabatan kalian, tidak lebih," pungkas Fiola mulai takut akan amarah Daren.
"Mau aku mencintai siapa, itu bukan urusan kamu. Ingat, jangan pernah melewati batasan mu di sini. Kamu hanyalah seorang asisten, tidak lebih! Tidak berhak mengorek kehidupan pribadiku!" tandas Daren yang akhirnya pergi meninggalkan ruang rapat dengan perasaan kesal.
Fiola menutup bibirnya yang sempat menganga , seraya merutuki kelancangannya.
"Fi, Fi....! Kebiasaan banget sih itu mulut, nggak bisa direm dikit ya. Sudah tahu tabiat CEO satu itu angkuh sekali dan sangat sombong. Lah ini malah kamu singgung dia," batin Fiola seraya menepuk dahinya.
Mengingat tugas yang menanti masih belum selesai, maka Fiola pun bergegas menuju ruangannya. Dengan setumpuk map berisi berkas penting tentang nama-nama para investor. Yang akan menjadi relasi dari perusahaan Daren.
Sesampainya di meja yang letaknya tidak jauh dari ruangan Daren, Fiola sesekali terus mencuri pandang wajah Daren. Terlihat Daren yang seperti biasa dengan penampilan datar tanpa dihiasi senyum yang dulu menjadi ciri khas dari dirinya. Tetap fokus pada layar laptop serta tumpukan file di mejanya. Tak menghiraukan tatapan sembunyi dari Fiola.
"Coba saja itu bibir tersenyum sekali saja, pasti akan terlihat menawan sekali," imbuh Fiola membatin.
Lama berkutat di depan laptop serta tumpukan berkas dari para investor yang harus ia baca satu per satu. Rupanya Daren sempat melihat ulah Fiola yang ternyata diam-diam mencuri pandang dirinya. Dan hal itu semakin menambah kekesalan sang asisten dan ingin sekali ia memberi wanita itu hukuman atas kelancangannya hari ini.
"Fiola....!" Teriak Daren dengan kencang. Seketika membuyarkan lamunan sang asisten.
"I- iya Saya, Tu- Tuan!" sahut Fiola tergagap.
Wanita itu pun segera mendekat, sebelum suara bariton kedua kembali terdengar.
"Ada apa, Tuan?" ucap Fiola ketakutan.
"Apa hari ini kamu salah minum obat, hah...?" bentak Daren kembali.
"Lantas mengapa kelakuan kamu hari ini aneh sekali?" imbuh Daren, kali ini menatap langsung wajah yang mulai gemetar ketakutan di hadapannya.
"Sa- ya, aneh? aneh kenapa, Tuan? Bukannya yang aneh itu anda, ya? Marah marah tidak jelas!" balas Fiola menggerutu.
"Apa? Coba kamu ulangi? biar telingaku tidak salah dengar," seru Daren sudah merasa gregetan dengan sikap sang asisten.
"Hehehe....! Maaf, sepertinya Tuan salah dengar. Barusan saya itu bilang bahwa Tuan Daren adalah seorang bos hebat yang baik banget hatinya," puji Fiola berpura.
"Eneg sekali ya menggombal di depan pria. hanya karena supaya tidak dimarahi. Awas kau pasti aku akan membalas mu, tuan yang jutek dan galak," batin Fiola.
"Aku lapar, cepat carikan aku makan siang di restoran terdekat, tapi tidak boleh menggunakan jasa antar pesan. Pemborosan! aku maunya kamu jalan kaki!"
Kedua netra Fiola kembali membola saat ia membayangkan perintah bos killer di hadapannya itu.
Daren menyodorkan beberapa lembar uang dan memberikannya terhadap asisten. Masih diliputi kekesalan, Fiola akhirnya mengambil uang di atas meja, terpaksa mau dan jalan pergi meninggalkan ruangan Daren dengan mulut komat kamit menyumpahi Daren yang sikapnya siang itu sungguh membuat adrenalin nya berpacu.
"CEO Killer, sombong, songong!" gerutu Fiola meninggalkan ruangan sang atasan.
***
BERSAMBUNG...