Alexander is Cumlaude

Alexander is Cumlaude
Kabar Kebangkrutan Vintron Company



Sedari usai makan malam hingga hampir tengah malam, si genius terlihat masih sibuk di depan layar laptopnya. Mempersiapkan sebuah serangan sebagai kado kejutan untuk CEO pshycopat Vincent.


Satu per satu data perusahaan berhasil dibuka oleh Alexander, dan bocah genius itu berhasil menerobos masuk pada data penting tentang rahasia perusahaan Vincent serta kecurangan-kecurangan yang dia lakukan. Ternyata setelah si genius berhasil masuk, satu fakta yang baru diketahui tentang perusahaan lawannya tersebut. Rupanya banyak melakukan penyimpangan.


"Ternyata bukan hanya sifatnya saja yang menyeramkan, namun bisnisnya juga tidak sebaik pencitraan dirinya seperti pemberitaan di televisi dan media."


Lambat laun namun pasti, kini tepat pada pukul 01.30 seluruh data penting perusahaan Vincent telah benar-benar berada dalam genggamannya. Dan bocah genius itu berniat untuk menjadikan hal itu sebagai senjata menaklukkan Vincent. Bahkan Alexander sengaja membuat saham perusahaan itu menurun drastis dalam waktu hitungan menit. Kabar kebangkrutan dari perusahaan Vincent sepertinya esok akan segera muncul.


"Ini adalah awal pembalasanku Tuan. Anda telah salah bermain dengan putra Jane," gumam Alexander tersenyum miring. Kemudian segera menarik selimut dan memejamkan mata. Sembari menunggu kejutan yang ia berikan akan segera membawa kabar baik.


***


"Pagi sayang!" sapa Gordon saat membuka mata, melihat wanita yang ada dalam pelukannya baru saja membuka mata.


"Pagi juga, sayang. Maaf aku sudah merepotkan mu, sampai ikutan tertidur di sofa. Pasti punggung mu sakit," ujar Jane penuh sesal menatap pria di depannya.


"Cuuuppp....!" sebuah kecupan hangat mendarat di kening Jane.


"Tidak sayang, justru aku merasa senang bisa melindungi mu," balas Gordon.


Keduanya segera melirik jam yang tergantung di dinding. Telah menunjuk pada angka enam pagi. Bocah yang biasanya telah bangun di jam itu, belum ada tanda-tanda bahwa ia telah terjaga. Menandakan jikalau si genius masih larut dalam tidurnya.


"Mau ke mana sayang?" tanya Gordon saat wanitanya beranjak terjaga.


"Tidak biasanya Alex jam segini belum terjaga, biasanya setiap pagi setelah dia bangun, akulah orang pertama yang dia cari dan menghadiahiku kecupan selamat pagi," sahut Jane berlalu.


Ceklek!" Jane membuka pintu kamar si genius. Dan ternganga kaget.


"Mommy!" sapa Alexander menoleh ke arah pintu.


Jane yang berdiri di depan pintu pun terperanjat, "Sayang, kamu sudah bangun dari tadi? Lantas kenapa tidak menemui Mommy?"


Bocah yang dikira masih tertidur itu rupanya tengah asyik di depan layar laptop dengan mainan baru yang ia buat semalaman. Dan terlihat rona bahagia dari wajah polos si genius menatap ke arah Jane.


"Sayang, apa yang kau lakukan? Apa pagi ini kamu tidak ke kampus?" Jane menghampiri sang putra. Lalu duduk di tepi bed.


"Sebentar lagi Mom. Kejutan besar untuk dunia pebisnis akan segera datang," timpal si genius penuh semangat.


"Mommy lihat saja nanti di televisi atau media sosial," tukas si genius berlalu menuju kamar mandi.


Setelah sang putra pergi mandi, Jane pun juga mengguyur tubuhnya di kamar mandi. Dan mempersiapkan sarapan pagi. Sementara dengan Gordon, pria itu hanya membersihkan badan masih tetap mengenakan pakaian semalam. Tengah menunggu Jane di meja makan sembari menyalakan televisi melihat berita terbaru yang muncul hari itu.


***


"Dert...., dert...," bunyi ponsel Vincent yang masih terlelap dalam tidurnya bersama seorang perempuan pekerja bar.


Dengan sisa-sisa kesadaran yang dimilikinya, Vincent merogoh-rogoh ponsel miliknya yang tergeletak di atas lantai bersama pakaian nan berserakan.


"Iya halo!" sahut Vincent masih terpejam.


"Halo Tuan. Tuan tolong Anda segera datang ke perusahaan sekarang juga. Hal buruk telah terjadi pada perusahaan!" ujar asisten Vincent.


"Ah sudah kamu urus saja. Bukankah biasanya kamu yang urus itu semua. Paling-paling juga masalah yang sama," timpal Vincent bermalas-malasan.


"Tuan, ini lebih serius dari masalah sebelumnya. Saya mohon Tuan segera ke perusahaan sekarang juga. Atau perusahaan Anda tinggal nama saja!"


Sontak pria yang kepalanya masih terasa berat karena efek mabuk semalam, langsung terbangun seketika setelah sang asisten mengejutkan dirinya. Tanpa mandi terlebih dulu, Vincent meraih pakaian yang berserakan di lantai dan mengenakannya. Segera meluncur ke perusahaan dengan wajah lusuh.


Jarum jam pagi itu merujuk pada angka delapan. Keluarga kecil Jane bersiap melakukan sarapan pagi. Gordon yang masih fokus di depan layar televisi ternganga tak percaya dengan berita yang ia lihat.


" Sekilas info, Sebuah perusahaan milik pengusaha muda sukses di kota ini, pagi ini tengah dilaporkan sedang berada di ambang kebangkrutan. Untuk mengetahui penyebab kebangkrutannya, sesaat lagi kita akan melakukan wawancara langsung dengan pemiliknya, Tuan Vincent. Demikian warta hari ini, kita akan bertemu lagi dalam sekilas info selanjutnya bersama pemilik Vintron company,"


Begitulah sepenggal isi berita pagi itu, sementara si pemilik GD COMPANY, kedua maniknya masih membola kaget, menyimak warta berita yang baru saja didengarnya. Yang sangat mengejutkan baginya.


Seluruh pengusaha di kota tersebut terlihat geger gempita mendengar kabar kejatuhan Vintron company. Sementara hanya dalam hitungan menit saja saham yang dimiliki perusahaan itu semakin mengalami kemrosotan tajam. Membuat seluruh karyawan yang baru saja tiba untuk bekerja, berubah menjadi syok. Sesaat lagi mereka akan kehilangan pekerjaan dan menjadi pengangguran.


Sementara dengan si bocah genius, hanya bisa tersenyum sinis dari depan pintu kamarnya sembari melihat kabar bahagia yang sedari malam sudah dia nanti-nanti.


***


BERSAMBUNG...