
Jalanan yang biasanya macet, pagi menuju siang kala itu masih terlihat sepi. Entah karena hawa dingin serta salju yang masih berjatuhan membuat para pengguna jalan yang biasanya berlalu lalang jalan kaki, terlihat sepi tidak seperti biasanya. Jadi semakin memperlancar perjalanan Gordon menuju rumah sakit.
Di tempat lain, Vincent terlihat kesal penuh kemarahan terhadap sikap Gordon tadi di kantor. Vincent merupakan salah satu pengusaha muda yang sukses di kota tersebut. Dan selama nama Alexander mencuat di beberapa stasiun televisi serta awak media, pria itu mulai menunjukkan ketertarikannya terhadap Jane. Namun beberapa kali ia ingin meminta bocah genius itu untuk menjadi penasehat di perusahaan nya, Jane selalu saja menolak bahkan tidak pernah menerima undangan pria tersebut untuk makan malam.
Vincent sengaja menjalin kerja sama dengan perusahaan Gordon sebab ia ingin mendekati Jane beserta putra geniusnya. Melalui kerja sama tersebut yang nantinya pasti bakal punya kesempatan berjumpa Jane tanpa direncanakan agar terkesan tidak mengejar. Selain pengusaha sukses Vincent juga merupakan pria yang sering bergonta-ganti pasangan, boleh dibilang seorang playboy.
"Aku harus bisa mendapatkan mu, Jane!" gumam Vincent antusias, otaknya mulai berpikir mencari cara mendekati Jane.
***
Mobil Gordon baru saja tiba di halaman rumah sakit, dan ia menghentikan mobilnya berjejer dengan deretan mobil lainnya, Gordon juga melihat mobil sang adik terparkir di kejauhan. Maka dengan langkah besarnya ia menyusuri lorong koridor rumah sakit menuju ruangan VVIP tempat Jane dan Alexander dirawat.
"Ceklek," suara pintu ruang perawatan Jane yang dibuka Gordon.
Tampak ibu dan anak yang berbaring bersebelahan, sama-sama tertidur lelap. Sepertinya Daren sedang tidak di ruangan tersebut.
"Di mana Daren? Kenapa tidak ada di sini?" batin Gordon mengedarkan pandangan ke seluruh kamar, juga mencari di kamar mandi namun kosong.
Karena tidak ada sang adik dan tidak ingin membangunkan kedua pasien di ruangan tersebut, Gordon keluar dari kamar dan menelepon Daren kembali tapi tetap tidak ada jawaban. Akhirnya ia masuk kembali ke ruangan itu dan duduk di sofa yang ada di sudut ruangan.
Selepas kepergian wartawan, Daren berpamit namun karena ia tidak tega membiarkan Alexander sendirian di ruangan itu menemani Jane, maka ia pun urung pergi. Dan kali itu ia tengah mencari makan karena perutnya belum terisi apa pun.
"Ceklek," pintu terbuka, Gordon menoleh dan rupanya Daren yang masuk.
Gordon beranjak bangun dari duduknya, "Bisa kita bicara sebentar?" bisik Gordon.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Kak," tolak Daren berbisik sama.
Merasa tidak sabar lagi dengan ke ingin tahuannya, Gordon menarik paksa tangan sang adik dan membawanya keluar kamar. Gordon membawa Daren menjauh dari kamar tersebut agar tidak menimbulkan keributan. Dan sampailah pada bangku kosong yang ada di taman rumah sakit.
"Lepas, Kak! Katakan apa yang ingin Kak Gor bicarakan!" teriak Daren kesal.
"Apa yang terjadi tadi pagi di kamar Jane?" tanya Gordon mulai tidak sabar.
"Sejak kapan Kak Gor menjadi kepo dengan urusan orang," sindir Daren menatap kesal.
Kedua pria kakak beradik ini sama-sama duduk di bangku taman, meski salju berjatuhan. Sesaat keduanya sama-sama saling membisu menikmati hawa dingin yang menusuk hingga ke tiap persendian. Keduanya terlihat beberapa kali menggosok telapak tangan, guna mengurangi rasa dingin.
"Tadi pagi saat aku baru tiba di depan kamar Jane, sudah banyak wartawan bergerombol untuk melakukan wawancara kepada tampan mengenai insiden mereka semalam," Daren akhirnya memulai obrolan.
"Mereka menyebut kedekatan Kakak dengan Jane, namun aku membantahnya dengan mengatakan kita hanya sebatas rekan kerja karena tampan adalah penasehat perusahaan kita," cerita Daren.
"Kenapa kamu biarkan mereka masuk dan melakukan wawancara, sedangkan Jane masih sakit," protes Gordon.
"Bukan aku yang mengijinkan mereka masuk, tampan sendirilah yang memberi mereka ijin melakukan wawancara," imbuhnya.
Gordon terdiam dan kembali mengingat ucapan Vincent beberapa waktu lalu. Rupanya berita itulah yang membuat pria rekan bisnisnya tersebut berani berulah menyindir dirinya. Daren melihat wajah sang kakak yang terlihat seperti memikirkan sesuatu.
"Bukan kah harusnya hari ini Kakak ada meeting dengan Tuan Vincent, kenapa bisa ke sini? Apa terjadi sesuatu?" tanya Daren.
"Sepertinya dia mempunyai niat tidak baik terhadap Jane dan tampan. Tapi kerja sama kita sudah terlanjur ditandatangani, andai aku tahu lebih awal niat pria itu, pasti aku tolak kerja sama ini," Tandas Gordon.
"Bagaimana Kakak bisa berkata seperti itu? Apa terjadi hal buruk saat meeting tadi?" wajah Daren berubah serius.
Gordon mengangguk kepada Daren dengan wajah tertunduk. Siang itu Gordon benar-benar merasa kesal kepada Vincent. Dan menyesali terjalinnya kerjasama tersebut.
"Apa kamu masih marah kepadaku?" Kali ini pertanyaan Gordon kembali membuat sang adik diam ambigu.
"Aku akan pergi beberapa waktu setelah mereka sembuh. Aku harap Kak Gor membahagiakan mereka berdua, selalu."
Siang yang dinginnya semakin menyusup ke tulang semakin menambah suasana hati Gordon siang itu menjadi tidak karuan. Ditambah setelah mendengar ungkapan dari sang adik tercinta yang begitu mengejutkan mengenai niatnya yang ingin pergi demi melihatnya bahagia.
"Lebih dari apa pun aku tidak ingin menyakiti mu Ren, kedua orang tua kita sudah menitipkan mu kepadaku sebelum kepergiannya. Sungguh aku akan semakin berdosa jika kamu sampai pergi hanya karena demi ingin melihatku bahagia bersama Jane."
Meski dari dalam hati Daren sebenarnya masih belum rela, namun tekadnya benar-benar sudah bulat untuk mengikhlaskan sang kakak bersama wanita yang juga dicintainya . Selama ini sudah banyak pengorbanan yang Gordon lakukan demi kebahagiaan dirinya. Termasuk merawat serta menjaga dia sejak kepergian kedua orang tuanya. Dan memilih menjauhi wanita-wanita yang menyukainya demi dirinya.
"Aku ikhlas Kak, aku yakin kalian akan hidup bahagia," harap Daren tulus.
Ada rasa haru dari obrolan kakak beradik siang itu di bangku taman rumah sakit dengan berhiaskan salju yang berjatuhan. Gordon memeluk Daren seraya menangis di pundak sang adik.
"Terima kasih!" bisiknya.
Daren mengusap pundak sang kakak serta menyemangati nya agar lebih optimis dan tidak bersedih lagi. Siang yang berhiaskan salju menjadi musim dingin penuh sejarah bagi kakak beradik tersebut.
***
BERSAMBUNG...