
"Tolong....! Tolongggg....!" Jane terus berteriak, dan Gordon yang baru saja berlari bersama kuda kesayangannya masih tak begitu jauh dari tempat Jane terjatuh, sehingga teriakan Jane terdengar samar di telinga Gordon.
"Jane!" gumam Gordon memutar arah, kembali bersama kuda hitamnya. Mencari sumber suara.
"Toloooong....!"
"Jane, kau kah itu?" teriak Gordon dari atas kuda, mengedarkan pandangan serta pendengarannya ke sumber suara.
"Tolong, Tuan! Aku di sini," sahut Jane lirih mulai terasa sangat sakit kakinya.
Sambil terus bersahutan dalam teriakan. Gordon akhirnya berhasil menemukan sumber suara serta sosok wanita dari balik semak pohon teh yang sedang terduduk di pinggir parit. Dan Gordon pun segera meloncat turun dari kudanya, menghampiri Jane yang kakinya sudah dipenuhi darah segar.
"Astaga, Jane!" Gordon segera meraih kaki Jane dan membasuhnya dengan air dari parit yang mengalir dengan jernih.
"Auw...., perih sekali!" lenguh Jane kesakitan.
Tak tega melihat wanita yang dicintainya merintih kesakitan, Gordon pun segera menggendong tubuh Jane, dan membawanya menuju vila. Di dalam vila, Gordon membaringkan tubuh Jane di atas kasur. Seraya meraih ponselnya dan menelepon seorang dokter.
"Halo, Dokter Edward. Segera datang ke mari. Terjadi insiden kecil, pada kaki seorang wanita. Dia banyak mengeluarkan darah," ujar Gordon membuka percakapan kepada dokter kepercayaan nya.
"Iya, baiklah, Tuan Gor. Saya akan segera ke sana. Tolong Anda kirimkan alamat Anda sekarang juga, share lokasi!"
Tak lama kemudian, dokter Edward pun segera mempersiapkan peralatannya, termasuk obat-obatan yang akan ia butuhkan di sana nantinya. Dengan secepat kilat, mobil yang dikendarai dokter Edward melesat jauh membelah jalanan ibu kota, menuju alamat yang sudah dikirim oleh Gordon.
Setelah hampir satu jam lebih berkendara, dokter Edward pun berhasil menemukan lokasi Gordon saat itu. Dan sesampainya di sana, dokter Edward segera memeriksa luka kaki Jane, serta menjahit luka tersebut. Obat-obatan pun dikeluarkan dari dalam tas yang dibawa oleh dokter Edward. Dan menuliskan dosis pemakaian pada obat tersebut.
"Untuk sementara, usahakan luka ini jangan terkena air dulu, Nyonya. Obat yang bisa Anda konsumsi sudah Saya tuliskan, tiga hari lagi Nyonya bisa pergi ke Klinik atau Rumah Sakit untuk chek jahitan pada luka Anda."
Jane pun mengangguk, menanggapi ucapan dokter Edward, dan meraih obat dari tangan beliau. Sementara Gordon yang sedari tadi berdiri melihat sang dokter memeriksa Jane, segera mengantar dokter Edward hingga pintu keluar.
Hari mulai beranjak siang, kedua orang yang sedang asyik berkuda akhirnya kembali ke tempat berkumpul semula, namun tak melihat keberadaan Jane dan juga Gordon.
"Uncle, kemana Mommy ku dan Uncle Gor?" tanya Alexander kebingungan.
"Entahlah Tampan, sebentar Uncle hubungi Mommy."
Daren merogoh saku dan mengambil ponsel miliknya, kemudian berusaha menghubungi Jane. Tapi sayang tidak ada sahutan, sebab ponsel Jane yang ada di dalam tas, rupanya tertinggal di dalam mobil.
"Iya halo, ada apa Ren?" sahut Gordon mengawali percakapan di telepon.
"Ah syukurlah akhirnya Kak Gor mengangkat telepon ku. Kita baru saja tiba, tapi aku lihat kalian tidak ada, dan aku coba hubungi ponsel Jane, tidak ada sahutan. Makanya aku menelepon Kakak. Jane ada bersama Kak Gor kan?" suara Daren terlihat panik, membuat Gordon terdiam, kembali tersulut api cemburu.
"Begitu cemasnya Daren terhadap Jane, masih pantas kah Aku berharap lebih. Aaaahh....! lupakan dia Gor, lupakan! Dia adalah kekasih adik mu." batin Gordon dari balik ponsel.
"Halo, Kak. Kak Gor, Jane ada bersama Kakak kan?" paksa Daren bertanya.
"Oh, i- i- iya. Jane ada bersamaku. Aku membawanya ke vila, karena tadi dia mengalami insiden kecil di perkebunan," jawab Gordon gugup.
"Apa? Jane kenapa Kak?"
Belum juga Gordon menjawab pertanyaan sang adik, Daren segera mematikan sambungan telepon dan berlari menggandeng Alexander menuju vila.
"Sayang, Sayang, kamu kenapa?" teriak Daren saat memasuki villa, dan suaranya terdengar hingga ke kamar, tempat Jane dan Gordon berada.
"Mommy!" teriak Alexander segera menghambur memeluk sang mama yang terbaring dengan kaki dibalut kasa, di atas kasur.
"Mommy kenapa?" Alexander bertanya seraya menatap Jane dengan mata berkaca-kaca.
Daren pun mendekat, duduk di samping Jane dan Alexander, di tepi ranjang. Daren memeriksa kaki Jane dengan lembut, kemudian mengusap rambut Jane menatapnya dengan tatapan penuh kasih. Membuat pria yang berdiri di dekat jendela itu merasa sakit dan kembali dibakar cemburu, kemudian memilih pergi meninggalkan mereka.
"Tuan, Gor!" teriak Jane lirih, membuat Gordon sejenak menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang, ke arah Jane yang menatapnya dengan tatapan memelas, seolah tak mengharapkan dirinya pergi dari sana.
"Tenang, Sayang. Ada aku dan Tampan di sini, yang akan menjaga mu!" sahut Daren dengan suara lembutnya.
Mendengar ungkapan sang adik, Gordon pun terus melangkah. Mengabaikan tatapan Jane yang sebenarnya mengharapkan dirinya yang berada di sana, bukan Daren. Gordon pun pergi menaiki kudanya berkeliling kebun teh, menghibur dirinya dan menghilangkan rasa kecewanya saat itu.
"Lupakan dia Gor! lupakan...! Aaaargh....!" teriak Gordon dari atas kudanya, berlari entah kemana sang kuda membawa dirinya.
****
BERSAMBUNG....