
Lama berjibaku dengan tumpukan kertas-kertas serta layar komputer di depannya. Jam kerja kantor akhirnya usai juga. Jane merapikan semua kertas yang berserakan di atas mejanya dan menatanya ke sebuah map besar. Sementara itu, bocah kecil yang dari tadi menunggunya sambil berbincang-bincang dengan Nyonya Rean, beranjak bangun dari duduknya dan menghampiri Jane.
"Ayo, Momm....!" Alexander menggandeng tangan Jane. Dibalas anggukan oleh Jane, sore itu. Dan keduanya berjalan melewati divisi Mier.
"Hai tampan! Apa itu? Sepertinya berat sekali," celetuk Mier menyapa putra Jane yang berjalan membawa kotak pemberian Gordon.
"Hai Nyonya, ini hadiah dari Uncle Gor."
Alex kemudian berlalu bersama Jane, seraya tersenyum kepada Mier, dibalas lambaian tangan oleh wanita tersebut.
Ibu dan anak itu tiba di apartemen sesaat sebelum petang. Setibanya di apartemen, Alex segera pergi ke kamar mandi dan mengganti pakaian. Kebiasaan yang selalu ia lakukan semenjak bersekolah di Universitas Teknologi Berlin. Sementara Jane segera menyiapkan makan malam untuknya bersama sang putra.
"Ting tong... Ting tong....!"
Sebuah suara bel dari luar terdengar dari dapur, dan Jane yang sudah mengenakan celemek di tubuhnya segera menghampiri si pengetuk pintu.
"Iya, ada apa ya?" Tanya Jane kaget melihat seorang kurir yang tengah berdiri di depan pintu apartemen nya. Yang membawa dua buah kotak berukuran sedang di tangannya.
"Apa benar ini kediaman Nyonya Jane?" tanya sang kurir dengan sopan.
"Iya, Saya sendiri? Anda siapa?"
"Ini Nyonya ada kiriman untuk Anda!" kurir pun menyodorkan kotak yang ada di tangannya kepada Jane. Jane semakin bingung saat menerima kotak tersebut.
"Tapi Saya tidak memesan apa pun?" Kedua netra Jane kemudian beralih pada kotak tersebut, mencari nama pengirimnya namun tidak ada.
Jane pun mengerutkan keningnya dan kembali ke dalam setelah kurir pergi. Segera ia duduk untuk membuka kotak tersebut, karena rasa penasaran yang menghinggapinya.
"Apa itu Mom?" Alexander tiba-tiba muncul dari depan pintu kamarnya. Kemudian duduk mendekati Jane.
"Entah lah, Sayang. Mommy nggak tahu apa isinya. Nama pengirimnya juga tidak ada," jawab Jane tangannya berusaha membuka kotak tersebut.
Betapa kaget Jane saat melihat isi kotak tersebut. Sebuah kue ulang tahun yang bertuliskan nama Alexander beserta lilin berbentuk angka 8 di dalamnya. Bibir Jane ternganga seketika, kedua matanya pun membola.
Sebuah kartu ucapan selamat ulang tahun, yang kata-katanya sangat menyentuh hati Jane saat membaca tulisan tersebut.
Teruntuk si Tampan....
G....
Wajah yang sudah basah oleh air mata saat membaca ucapan selamat ulang tahun yang begitu mengharukan itu, segera memeluk erat buah hati yang sedang duduk di sampingnya. Tangisnya pun pecah.
Setelah kotak pertama berhasil dibuka dan isinya adalah kue ulang tahun, kini seusai tangisnya reda, Jane mulai membuka kotak kedua dimana kotak kedua ini semakin menyisakan rasa penasaran serta keinginan tahuan yang begitu teramat terhadap siapa si pengirim.
Kotak kedua ini berisi tentang nama sebuah rumah sakit yang saat itu juga mengingat kan ingatan Jane pada sebuah rumah sakit tempat ia bersalin beberapa tahun silam.
"Huuuuu.....! Apakah itu kau? Kenapa aku tidak bisa menemukanmu, kemana aku harus mencarimu untuk berterima kasih," keluh Jane meraung tangisannya yang semakin pecah.
Bocah kecil yang sedang berada dalam dekapan Jane itu hanya bisa diam sembari berpikir, apa yang telah terjadi terhadap ibunya. Dan memeluk erat tubuh Jane.
Malam itu Jane merayakan ulang tahun ke delapan Alexander dengan sederhana, seperti tahun-tahun sebelumnya. Baru tahun ini saja Jane tidak merayakan ulang tahun putra semata wayangnya dengan makan malam berdua di luar, karena kesibukan Jane akhir-akhir ini di kantor. Karena sebenarnya besok saat akhir pekan, Jane berniat mengajak Alexander bertamasya.
Puas menikmati kue ulang tahun serta makan malam yang dibuat oleh Jane, Alexander mulai terasa mengantuk. Namun sebelum tidur, bocah yang berusia tepat delapan tahun malam itu, membuka kado pemberian Gordon. Isinya adalah sebuah robot keluaran terbaru yang tidak di jual di sembarang gerai toko mainan. Limited edition.
Alexander memiringkan bibirnya, tersenyum saat membuka kotak tersebut. Dan membiarkan mainan itu tergeletak di dalam kotaknya yang di dalamnya berisikan sebuah ucapan persahabatan dari Gordon kepada Alexander.
"Terima kasih Uncle Gor!" gumam bocah tersebut kemudian segera naik ke tempat tidurnya.
Seusai beberes meja makan dan dapur, Jane segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya. Kemudian pergi ke kamar sang putra. Dilihatnya bocah kecil yang tampan, sedang terlelap tanpa dosa. Dikecupnya kening Alexander, "Selamat Ulang tahun, Sayang."
Ketika hendak beranjak keluar, mata Jane terusik dengan keberadaan kotak pemberian sang pemilik GD COMPANY, yang terbuka di atas meja. Dilihatnya kotak tersebut, dan Jane menyunggingkan senyuman melihat isi kotak tersebut, "Pasti ini mahal sekali!" gumam Jane.
Netra Jane kembali kaget saat melihat secarik kertas di bawah mainan itu yang bertuliskan ucapan selamat ulang tahun, serta pernyataan persahabatan nya dengan Alexander.
Sebuah misteri yang selama ini ia cari keberadaannya namun tidak kunjung Jane temukan. Dan malam itu ia kembali mendapat sebuah kejutan dari Tuhan yang sama sekali tidak ia duga.
****
BERSAMBUNG....
NANTIKAN TERUS KELANJUTANNYA YA KAKAK, JANGAN LUPA UNTUK LIKE, VOTE, RATE, SERTA MENINGGALKAN JEJAK KOMENTAR DAN KRISAR UNTUK AUTHOR.
TERIMA KASIH 🙏🥰🥰