
"Aku mengaku salah, kamu boleh menghukum ku. Asal jangan meminta bercerai dariku, sayang," ucap Aldrich bersimpuh di bawah pangkuan Cyril memohon dengan tatapan menghiba.
"Pernikahan kita percuma juga jika diteruskan, Al. Itu hanya akan saling menyakitkan untuk kita berdua," sahut Cyril masih tak bergeming tak ingin mengubah pendiriannya.
"Benar kata Mama kamu, sebaiknya kamu carilah wanita itu beserta anakmu. Karena dia lah yang lebih pantas tinggal di sisimu," imbuh Cyril.
"Tapi aku masih mencintaimu, sayang. Aku mohon beri aku satu kesempatan lagi," mohon Aldrich.
Meski Aldrich telah memohon dan menghiba sebagaimana pun caranya, hal itu tetap saja tak menggoyahkan tekad Cyril yang ingin melepas pria yang dicintainya. Dan memilih pergi dari kehidupan Aldrich Barayeve. Karena merasa kasihan dengan Jane, di mana keberadaannya masih belum mereka ketahui hingga kini.
Cyril segera beranjak mengemas semua barang-barang nya, malam itu juga ia memutuskan meninggalkan Aldrich dan Nyonya Madison. Dan kembali ke rumah orang tuanya.
***
Seorang pemuda dengan semangat menggebu, pagi itu berangkat ke kantor dengan terpisah dari sang kakak. Pria ini berniat hendak menjemput wanita yang dicintainya, karena baru saja semalam ia mendengar dari Alexander bahwasannya pagi itu Jane mulai kembali masuk bekerja. Tak lupa pula sebelum sampai di apartemen wanita tersebut, Daren terlebih dahulu mampir ke sebuah toko bunga. Ingin memberi kejutan untuk Jane, karena telah sembuh.
"Tolong, berikan satu buket bunga mawar merah untukku!" seru Daren kepada pelayan toko.
"Ini, Tuan," sahut pelayan toko sembari menyodorkan bunga pesanannya kepada Daren. Setelah membayarnya, Daren pun bergegas meninggalkan toko bunga dan menghidupkan kembali mesin mobil nya, menuju apartemen Jane.
Sesampainya di apartemen Jane, Daren terlihat kecewa karena apartemen tersebut terlihat sepi, tidak ada sahutan dari dalam sana. Daren pun akhirnya segera kembali ke mobil dan segera melanjutkan perjalanan nya.
Mobil yang dikendarai Gordon baru saja berhenti tepat di depan gerbang utama Universitas Teknologi Berlin seperti permintaan Jane, untuk berhenti di sana.
"Jane, untuk apa kamu berhenti di sini? apa kamu ingin mengambil S2 mu di sini?" tanya Gordon penasaran.
Jane menggelengkan kepalanya dan tersenyum, tiba-tiba bocah kecil yang tengah duduk di jok belakang samping Jane pun bersuara, "Mommy tidak sedang ingin berkuliah Uncle, akan tetapi Alex lah yang bersekolah di sini."
"Uhuk...." pria yang sedang duduk di belakang kemudi setir itu pun tersedak dengan salivanya sendiri, seraya membulatkan kedua bola matanya. Menatap bocah kecil yang baru saja bercerita dengan santainya.
"Tampan bersekolah di sini? Ini tidak sedang bercanda kan? Usia kamu masih kecil sayang, harusnya masih duduk di bangku sekolah dasar."
Jane dan Alexander tersenyum menatap kekagetan yang ditunjukkan Gordon. Ibu dan anak itu terkekeh kecil bersamaan, "Awalnya aku pun bereaksi yang sama sepertimu, sangat tidak percaya. Tapi itu lah kenyataannya, dan akhirnya aku pun hanya bisa mendukung semua keinginan Alex," sahut Jane.
"Hai Alex, selamat pagi. Bagaimana kabarmu hari ini?" tanya Profesor Robert.
Gordon semakin melongo ternganga bibirnya, bahkan pria ini menampar pipinya sendiri untuk meyakinkan bahwa yang dilihatnya bukanlah mimpi, "Auw..." Gordon mengaduh mengusap pipinya.
Bocah yang sedang berbicara dengan Profesor Robert pun menoleh saat mendengar suara pekikan Gordon.
"Uncle, sedang apa di sini?" tanya Alexander.
"Oh tidak ada, Uncle hanya ingin memastikan, tampan masuk sekolah baik-baik saja," kilah Gordon mengusap tengkuknya seraya tersenyum simpul.
Untuk menghindari rasa malunya, Gordon segera berpamit kepada Alexander dan pergi dari sana kembali bersama Jane menuju perusahaan.
"Sejak kapan tampan memiliki kelebihan itu?" tanya Gordon di sela kebisuan nya dengan Jane. Di mana Jane kini beralih duduk di depan, di samping Gordon.
"Tidak lama ini aku juga baru mengetahuinya." sahut Jane lirih.
"Aku sendiri bingung harus bahagia atau bersedih, entah mengapa sejak aku mengetahui Alex memiliki kelebihan di atas anak seusianya, aku takut kehilangan dia. Aku takut si brengsek itu akan merebutnya dariku," tiba-tiba kedua manik bulat Jane mulai basah dan beranak sungai.
Gordon segera menepi menghentikan mobilnya. Tangannya beralih meraih tisu yang ada di atas dashboard dan mengusap pipi Jane yang basah. Pria ini pun menggenggam lembut tangan Jane, memberi kekuatan wanita yang duduk di sampingnya agar tidak kembali mengingat masa lalunya.
"Jangan takut, aku akan selalu ada di samping kalian," bisik Gordon meyakinkan Jane.
"Aku tidak akan membiarkan pria biadab itu mengganggu kehidupan kalian lagi," imbuh Gordon.
Jane semakin terharu dengan ketulusan Gordon, dan wanita yang sedang terisak ini menyandarkan kepalanya pada bahu Gordon, menumpahkan kesedihannya pada bahu pria tersebut, agar beban trauma masa lalunya menghilang. Gordon pun membalas dengan mengusap rambut Jane lembut, sambil sesekali mengusap pipi basah Jane dengan tisu.
"Jane! Kak Gor!"
***
BERSAMBUNG....