Alexander is Cumlaude

Alexander is Cumlaude
Aksi Si Genius



"Mommy bisa ikut mengantarku ke kampus?" pinta Alexander sebelum berangkat.


"Tampan ke kampusnya sama Uncle Gor ya? biar Mommy beristirahat di rumah," ujar Gordon.


"Aku mau Mommy sama Uncle mengantarku sekarang juga ke kampus," timpal Alex semakin antusias.


Jane dan Gordon saling mengangkat bahu serta bersitatap satu sama lain. Keduanya tidak mempunyai pikiran sama sekali akan kenekatan si bocah genius tersebut.


"Baiklah sayang, mari kita antar tampan," timpal Gordon.


Tak lama kemudian mereka menaiki mobil yang dibawakan oleh Gordon. Berangkat menuju kampus Alexander. Dengan sangat antusias bocah genius itu terus membayangkan bagaimana wajah melas sang CEO pshycopat saat itu pastinya peluh telah bercucuran menghujaninya.


"Uncle, antar aku ke Vintron Company!" pinta Alexander. Pandangannya menatap ke arah jendela luar.


"Vintron? bukankah itu perusahaan Tuan Vincent?" terka Gordon membatin dalam hati.


"Sayang, stop sudahi masalah kemarin. Mommy yakin dia tidak akan berani lagi mengganggu Mommy," pinta Jane kepada sang putra. Memohon untuk mengurungkan niatnya.


"Iya benar apa yang Mommy mu bilang tampan, biar Uncle yang membereskan sendiri nanti," celetuk Gordon.


"Kali ini turuti saja permintaanku, Uncle, Mom!"


Bocah genius itu tetap tak mengalihkan pandangannya, niatnya benar-benar sudah bulat sekali. Sekali ia sudah bertekad maka harus terwujudkan. Keras kepala yang dimiliki oleh Alexander mewarisi dari sifat yang dimiliki oleh Aldrich sang ayah biologisnya.


Setelah melewati jalanan kota menuju arah Vintron Company, maka mobil Gordon pun tiba di halaman gedung berlantai delapan yang tak kalah besar dan kokohnya seperti perusahaan milik Gordon.


Beberapa awak media terlihat berjejal mengerumuni halaman perusahaan milik Vincent. Tak hanya itu para pemegang saham juga tampak berdiri di tengah kerumunan menunggu si pemilik perusahaan keluar dari ruangannya untuk memberikan penjelasan kebrangkutrannya.


***


"Ahhhh, sial. Bagaimana ini bisa terjadi, panggil semua teknisi terbaik di kota ini. Berapa pun yang mereka minta akan aku penuhi asal mereka bisa memulihkan semua data yang hilang," hardik Vincent kepada sang asisten yang sudah terbakar emosi.


"Tapi, Tuan. Anda bisa lihat sendiri bukan? mereka yang ada di dalam sana adalah teknisi terbaik yang selalu berhasil mengatasi masalah sabotase di perusahaan ternama. Mereka baru saja mengucapkan angkat tangan untuk masalah ini, sebab hacker satu ini sepertinya sangat lihai dan bisa mengendalikan semua dalam kendalinya," ujar asisten Vincent.


CEO pshycopat yang tengah terbakar emosinya saat itu, semakin terlihat panik tiada terkira. Yang ia khawatirkan bukanlah masalah saham yang sudah jatuh anjlok, namun rahasia besar perusahaan dia yang selama ini tidak diketahui publik. Akan runyam dan berakhir di balik jeruji pesakitan tentunya jika rahasia itu berhasil diketahui oleh sang hacker yang tidak ia ketahui siapa.


"Dert..., dert...!" bunyi ponsel milik asisten Vincent.


"Apa? siapa dia? baiklah kalian tunggu saja di dalam. Tuan Vincent pasti akan mengundang bocah genius itu!" sahut sang asisten Vincent dengan panik.


Asisten tersebut lalu segera berbisik kepada Vincent, tentang telepon yang baru saja diterimanya. Sungguh kaget sang CEO Vintron Company setelah mendengar nama si bocah genius. Seketika kesadarannya kembali, sungguh bak ditampar batu karang yang amat keras Vincent baru saja menyadari apa yang telah ia lakukan kemarin dan apa yang terjadi saat ini. Perusahaan yang selama ini baik-baik saja harus mengalami masalah besar hanya dalam waktu semalam.


"Bagaimana kamu mengundang dia Vin, setelah apa yang telah kamu perbuat kepada Jane kemarin," batin Vincent terlihat pias seketika. Benar saja ucapan si genius barusan, kini CEO pshycopat si pemilik Vintron Company tengah dihujani keringat dingin di sekujur tubuhnya. Mulutnya pun bahkan seolah tak mampu berucap lagi, bayangan akan mendekam di balik jeruji besi semakin terlihat nyata.


"Jadi benar berita di televisi tadi? perusahaan Tuan Vincent mengalami kebangkrutan?" batin Gordon masih tak percaya.


Namun apa yang dilihatnya terlihat jelas menjawab semua rasa ketidak percayaannya tersebut. Beberapa pemegang saham yang mengenal Gordon pun memberi hormat kepadanya yang baru saja tiba di kerumunan.


"Selamat pagi Tuan Gordon!" sapa salah satu pemegang saham.


"Selamat pagi Tuan," balas Gordon sopan.


"Apa kedatangan Tuan Gordon beserta Tuan Alexander ke sini menjadi penyelamat perusahaan ini? Sungguh senang saya jika itu benar," ujar si pemegang saham.


Gordon hanya bisa diam tidak tahu apa yang akan ia katakan, semua terlihat membingungkan baginya.


"Bisa kah saya bertemu pemilik perusahaan ini?" tiba-tiba si genius bertanya.


Mendengar perkataan sang genius, para pemegang saham beserta paparazi yang ada terlihat menyambut kedatangan Alexander. Para awak media pun mulai mengambil gambar si bocah genius beserta sang ibunda dan juga Gordon. Mereka terlihat memberi jalan kepada si genius beserta kedua orang yang mendampingi.


"Tuan, di bawah ada Tuan Alexander si bocah genius yang saya katakan tadi. Beliau ingin bertemu Anda," ucap sang asisten.


Mendengar nama si bocah genius kembali disebut, tubuh Vincent kian gemetar. Peluh bak sebesar biji jagung juga mengalir derasnya. Wajah tampan yang dimiliki pun berganti pias tak berdaya.


Para pengawal serta keamanan mengamankan ketiga orang yang tengah menuju ruangan Vincent.


Pintu ruangan yang tidak tertutup, menampakkan ketiga orang layaknya tim investigasi yang siap mengeksekusi dirinya. Tanpa aba-aba mereka semua langsung masuk begitu saja.


"Selamat pagi, Tuan yang terhormat! Bagaimana pagi Anda hari ini, sungguh menyenangkan sekali bukan?" sindir si genius.


Terlihat Vincent mengusap keringat yang berjatuhan beberapa kali. Mengumpulkan keberanian menatap Jane dan putranya.


"Selamat pagi, aku tahu ini semua pasti adalah ulah kamu," terka Vincent geram.


Sebuah senyum sinis menyapa Vincent dari bibir si genius, "Apa beginikah cara Tuan menyambut tamu Anda?" sindir si genius kembali.


Jane menepuk pundak sang putra, Gordon menarik sebuah kursi untuk si genius duduk. Dan keduanya berdiri di belakang kursi yang diduduki si genius. Dengan santai menyaksikan wajah si pecundang Vincent.


"Tidak perlu berbasa-basi. Katakan saja apa mau kalian?"


***


BERSAMBUNG....


JANGAN LUPA VOTE, RATE, LIKE DAN KOMENTAR NYA DITUNGGU YA KAKAK🥰🥰