Alexander is Cumlaude

Alexander is Cumlaude
Murka Aldrich



Hari demi hari tanpa terasa telah berlalu begitu saja. Dan sampai hari ke lima di kota itu, semenjak kunjungan ke rumah sakit, Alexander lebih banyak diam juga tetap tidak bercerita obrolan di rumah sakit kepada kedua orang tuanya. Sementara di tempat yang berbeda, Nyonya Madison hari ini sudah boleh diperkenankan pulang oleh dokter.


"Hari ini Nyonya kami izinkan pulang, tapi dengan catatan, tetap jaga kesehatan. Hindari emosi dan juga stress berlebihan," ucap dokter sebelum meninggal kan ruangan.


"Tentu saja Dokter, Saya akan lebih menjaga kesehatan. Aku sudah mempunyai alasan untuk terus bertahan hidup dan menikmati masa tua bersama cucu ku, Dokter," balas nyonya Madison tersenyum lebar dengan sebuah bayangan bermain bersama Alexander.


"Baguslah kalau begitu, tetap semangat Nyonya. Saya harap kita berjumpa di lain waktu dalam momen bahagia," timpal dokter kembali menyemangati.


Dan tak lama kemudian dokter segera pergi meninggalkan kamar perawatan nyonya Madison. Aldrich yang sedari tadi berdiri di samping ibunya, mengantar dokter sampai ke depan pintu kamar.


****


"Bawa Mama menemui Jane!"


Aldrich yang tengah mengendarai mobil, seketika kaget dengan ucapan ibunya barusan.


"Sebaiknya kita langsung pulang, apa Mama lupa apa kata dokter?" Aldrich mulai khawatir akan apa yang bisa saja sang ibu lakukan tanpa sepengetahuan dirinya.


"Kamu tenang saja, Mama lebih tau bagaimana kondisi Mama. Kali ini bawa saja aku menemui Jane!" Seperti biasa perintah Madison selalu harus dituruti.


Dengan terpaksa Aldrich tidak bisa menolak apa keinginan wanita di sampingnya, dan membawa mobil memutar arah menuju hotel tempat Jane sekeluarga menginap.


Tanpa bertanya kepada resepsionis Aldrich segera membawa Madison naik ke lantai 4 menggunakan lift. Dan tak butuh waktu lama lift berhenti tepat di depan kamar Jane.


"Tingtong....!" Dengan anggunnya nyonya Madison berdiri tegap melupakan bahwa beberapa hari lalu dirinya terbaring lemah di kamar ICU. Kini dengan percaya diri berusaha menemui Jane.


Berulang kali wanita paruh baya itu menekan tombol bel yang ada di depan kamar Jane, namun tetap tidak ada jawaban.


"Apa kamu yakin ini kamar Jane?" tanya Nyonya Madison mengernyitkan alisnya sebelah kanan.


"Tentu saja benar Ma. Sebaiknya Mama tunggu sebentar, Al akan menelepon resepsionis!"


Tampak Aldrich segera meraih ponsel dari dalam saku jas dan mengusap layar. Tak lama kemudian mengobrol dengan salah satu resepsionis.


"Apa? Sejak kapan merek chek out? Apa mereka ada bilang mau kembali pulang atau bagaimana?"


Terlihat wajah gusar dari paras tampan Aldrich mendengar jawaban yang begitu mengagetkan dirinya.


Telepon pun diakhiri dan Aldrich mulai panik.


"Katakan Al, apa yang terjadi? Mereka masih di negara ini kan?" cecar nyonya Madison dengan wajah tak kalah paniknya.


"Tenang Ma, tenang. Al pasti bisa menemukan mereka kembali," ujar Aldrich menenangkan hati nyonya Madison.


Aldrich segera membawa nyonya Madison kembali pulang ke rumah. Di sepanjang perjalanan menuju arah kediamannya Aldrich terus berpikir kemana Gordon membawa kabur anaknya. Bahkan tak cukup sampai di situ. Ia pun segera memerintahkan semua anak buahnya untuk mencari keberadaan Jane dan Alexander.


"Bagaimana bisa kamu kecolongan seperti ini. Sebagai laki-laki kamu sungguh kurang tegas Al," cibir nyonya Madison dengan raut kesal. Namun Aldrich tak berusaha menjawabnya.


"Mama istirahat dulu. Biar Al yang urus semuanya!" ucap Aldrich mencium kening sang ibu. Kemudian pergi menemui beberapa anak buahnya.


***


"Apa saja yang kalian lakukan sehingga kehilangan jejak putra ku. Kalian tahu, anak itu, dia adalah Putra Ku! Penerus Madison pewaris tahta Ku," teriak Aldrich penuh amarah.


Hampir sebelas bodyguard yang berdiri berjejer berbaris rapi di depannya, tidak ada yang menyahut apalagi membantah satu pun. Pria itu memang jarang berbicara namun sekalinya berbicara bersiaplah untuk bersiap dengan amarahnya.


"Jawab....!"


Suara amarah seorang Aldrich Barayeve terdengar melengking membahana memenuhi seisi rumah tempat para bodyguard itu tinggal.


"Ma- maaf Tuan. Terakhir kali kami sempat melihat mereka sedang keluar dari hotel. Namun kami pikir beliau akan kembali dan tidak akan pergi begitu saja. Sebab mereka tidak terlihat keluar dengan koper ataupun barang bawaan apa pun," tutur salah satu bodyguard bercerita.


"Lantas kalian diam saja tanpa mengawasi?"


Saking marahnya kepada semua bodyguard, Aldrich mengeluarkan sebuah pistol yang memang selalu dia bawa kemana pun ia pergi dari dalam jas, tepatnya dari pinggang. Dan mengarahkan pistol tersebut ke arah salah satu bodyguard yang berdiri tepat di depannya.


"Cepat temukan Putra Ku, atau nyawa kalian gantinya!"


Pria bertubuh tegap dan tinggi besar itu mulai mengucur keringat dingin dari sekujur tubuh. Ia tahu persis resiko dari pekerjaan yang sedang lakoni saat ini. Bayaran yang sangat fantastis namun jika salah sedikit saja atau lalai maka nyawalah taruhannya.


Sepuluh orang bodyguard lainnya yang menyaksikan peristiwa menegang kan itu mulai dirundung ketakutan. Demi membantu menyelamatkan temannya yang sedang berada di ujung tanduk, ke semuanya pun melakukan sujud bersimpuh bersamaan mengelilingi kaki Aldrich.


"Maafkan Kami, Tuan. Maafkan! Kami memang telah lalai. Tapi tolong lepaskan dia. Beri kesempatan untuk menemukan Tuan Muda atau jika gagal, Tuan boleh membunuh Kita semua," ucap sepuluh orang bodyguard yang sedang bersujud bersamaan.


Perlahan Aldrich menjauhkan pistol dari kepala bodyguard di depannya. Dan kembali memasukkan ke pinggang. Bukan karena takut, namun ia ingin bukti nyata kinerja dari semua anak buahnya yang ia bayar.


"Baik, aku pegang ucapan kalian. Jika kalian tidak berhasil menemukan Putra Ku, di tempat ini, di jam yang sama, nyawa kalian tebusannya!"


Aldrich segera pergi meninggalkan rumah tersebut, menyisakan rasa ketakutan yang nyaris saja membuat nyawa salah satu bodyguard melayang. Dan tanpa berpikir panjang lagi ke sebelas bodyguard itu berpencar mencari keberadaan Alexander.


Kesal bercampur marah yang sangat besar ditambah tekanan dari sang ibu, membuat Aldrich merasa emosi. Namun apa daya ia sendiri pun tidak bisa berbuat banyak, maka setelah menyusuri jalanan ibu kota yang membuatnya letih. Mobil mewah warna hitam pekat yang ditumpangi Aldrich berhenti di sebuah pinggiran kota, tepatnya di pesisir pantai. Dimana hari saat itu mulai beranjak sore. Sebuah pantulan kemilau cahaya berwarna keemasan tepat mengenai wajah pria itu yang kini sedang berdiri bersandar di samping mobil dengan kaca mata hitam bertengger di hidung mancung Aldrich.


Tampak gurat penyesalan yang begitu dalam dari wajah tampannya. Bayang bayang wajah Jane kian menari di pelupuk mata, seakan enggan menghilang dari ingatan dari pertemuan terakhir bersama Jane. Sesekali air mata pun jatuh membasahi wajah tampan pria ini. Dirinya tanpa sadar sungguh begitu menyayangi Jane. Dan mungkin kini ia telah mulai tergila gila akan pesona Jane Audrey. Namun sayang yang ada kini hanya penyesalan.


Terlena dan larut akan bayang Jane tanpa tersadar kenangan singkat di malam dimana ia merenggut paksa kesucian Jane kembali terlintas di pikiran nya. Pria itu mulai memejamkan mata sembari mengulas senyum seolah tengah menikmati kembali kemolekan tubuh indah Jane Audrey. Namun kali ini berbeda. Ia membayangkan Jane melakukan nya dengan perasaan penuh cinta bukan keterpaksaan seperti delapan tahun silam.


"Argh...., Jane! Kemarilah, Sayang!" Desah Aldrich tanpa sadar dari halusinasi nya dengan derai air mata.


****


Bersambung...