Alexander is Cumlaude

Alexander is Cumlaude
Si Biadab Mr. V



Pagi yang masih berselimut salju nan dingin. Si bocah genius mulai masuk kuliah kembali dengan di antar langsung oleh Jane. Seperti biasa wanita itu selalu berhasil memukau setiap pria yang melihatnya. Termasuk pagi itu, dari kejauhan seorang pria sedang duduk di dalam mobil warna putih dengan kaca mata hitamnya. Rupanya sudah sejam lalu ia berhenti sekitar lima puluh meter dari apartemen Jane.


"Akhirnya dia keluar juga, kesempatan yang aku tunggu-tunggu telah tiba," gumam pria tersebut.


Mobil milik Jane yang telah diperbaiki oleh Gordon, keluar dari garasi. Dengan balutan busana musim dingin, ibu satu anak itu mengendarai mobilnya dan melintasi mobil warna putih yang terparkir di dekat apartemen nya.


"Mommy kenapa Uncle Daren pergi meninggalkan kita?" tanya bocah genius yang duduk di samping Jane.


"Uncle Daren harus pergi sayang, perusahaan Uncle Gor memerlukan dia untuk mengelolanya," sahut Jane fokus menyetir.


Mobil putih mengekor di belakang mobil Jane, namun wanita itu tidak menyadari jika sedang dibuntuti oleh seseorang.


"Baiklah, saat liburan nanti kita pergi berlibur ke tempat Uncle Daren ya Mom?" ujar si genius.


"Baik, sayang."


***


Sesampainya di depan kampus Alexander, bocah genius itu mencium kedua pipi sang Mommy serta mencium punggung tangan nya. Lalu turun dari mobil dan melambaikan tangan. Jane pun menyambut lambaian tangan sang putra disertai sebuah senyum.


"Hati-hati, sayang!" ucap Jane melambai.


"Cantik sekali, sepertinya sekarang dia sendirian. Ini tidak boleh terlewatkan!" batin pria itu.


Selepas sang putra turun dari mobil, Jane kembali memutar arah dan menuju perjalanan pulang. Sosok laki-laki yang tengah membuntuti pun tersenyum miring dengan imajinasinya. Membayangkan kemolekan tubuh Jane yang selalu membuatnya terhipnotis.


Tepat di rambu lalu lintas warna merah, mobil Jane berhenti. Melihat kesempatan yang ditunggu sedang berpihak kepadanya. Maka pria itu mengambil kesempatan jalanan yang lengang dengan menghentikan mobilnya tepat di samping mobil, Jane. Kaca spion pun di buka oleh pria tersebut agar bisa menyaksikan langsung kecantikan Jane dari dekat.


"Sabar, Vin, sabar. Sebentar lagi kamu akan berhasil memilikinya. Bersabarlah sedikit lagi," gumam pria tersebut yang mulai tidak dapat mengontrol napsu nya melihat kecantikan Jane.


Lampu hijau menyala dan Jane kembali jalan, disusul mobil warna putih tersebut. Namun kali ini bukan di belakang mobil Jane akan tetapi tepat di samping mobil wanita yang tengah diincarnya itu.


Dan setelah sampai di apartemen, pria dari mobil putih itu bergegas turun menghampiri Jane. "Maaf, Nona selamat pagi," ucapnya.


"Selamat pagi juga. Maaf, Anda siapa?" tanya Jane kaget.


"Perkenalkan nama saya Vincent," ujarnya kembali mengulur tangan pada Jane.


"Jane!" balas Jane singkat.


"Maaf jika saya mengganggu Nona. Bisa minta qwaktunya sebentar sayang?" ujar Vincent menggoda sembari menyipitkan sebelah matanya.


Jane terperanjat kaget melihat kegenitan pria di hadapannya yang baru pertama ia lihat.


"Tolong Anda sopan! Kita baru pertama bertemu, jangan mencoba bersikap kurang ajar," sahut Jane memasang muka judes.


"Oke, oke Nona cantik, maaf! Benar kah Nona tidak mengenal saya? Coba Anda ingat-ingat lagi!"


Perkataan Vincent membuat Jane berpikir keras untuk mengingatnya namun tetap saja tidak mengingat.


"Apa mau Anda? Saya tidak mengingat Anda," tandas Jane datar.


Pria yang berdiri di hadapan Jane pun tersenyum miring. Mendengar jawaban wanita yang kini diincarnya.


Jane mengangguk pelan.


"Nona menolak tawaran saya untuk meminta putra Anda menjadi penasehat perusahaan. Apa masih ingat?"


"Maaf, bukannya saya menolak tawaran Tuan. Akan tetapi putraku masih terlalu muda untuk menjadi penasehat di perusahaan Anda. Apa lagi dia juga sibuk dengan kuliah serta tugas-tugas dari Rektornya yang sering memintanya untuk menjadi perwakilan kampus ," sanggah Jane.


Pria di hadapan Jane masih bersikekeh dengan pendapatnya yang ingin meminta Jane menyetujui tawarannya.


"Nona sangat pandai beralasan. Pada perusahaan saya Anda menolak, namun dengan perusahaan kekasih Nona, Anda bersedia," cibir Vincent bersendekap.


"Itu bukan urusan Tuan. Tolong pergilah dari sini!" usir Jane.


Vincent sangat tersinggung dengan ucapan Jane. Merasa harga dirinya diremehkan, maka pria itu menarik tangan Jane paksa membuat wanita itu kesulitan menghindar meski sudah berusaha sekuat tenaga menepis tangan Vincent.


"Lepas! jaga sikap Anda atau saya akan teriak bahwa Anda sudah bersikap kurang ajar!" ancam Jane dengan muka yang mulai memerah karena marah.


Vincent berhasil menarik Jane dalam pelukannya, lalu mencoba bersikap kurang ajar dengan mencoba mendaratkan bibirnya ke bibir Jane. Namun sekuatnya wanita itu meronta serta berteriak.


"Toloooong!"


Teriakan Jane semakin membuat Vincent bernapsu dan seperti kerasukan setan. Terus berusaha mencium bibir ranum ibu satu anak tersebut.


"Cuih!" Jane meludah tepat di wajah Vincent, saat wajah pria tersebut hampir saja berhasil merapat pada bibir nya.


"Jangan pernah bermimpi untuk bisa bekerja sama dengan putra ku. Karena sampai kapan pun tidak akan aku biarkan dia berteman dengan iblis sepertimu," maki Jane mengucap sumpah serapah.


Vincent semakin beringas dan kian menjadi kebrutalannya. Tak berhasil mendaratkan ciumannya di pipi Jane. Maka ia terus berusaha mendarat pada leher jenjang yang tertutup syal. Jane yang biasanya lemah mendadak seperti memiliki kekuatan baru untuk melawan pria sinting yang mendekapnya itu dengan menendang bagian sensitif pria gila tersebut sehingga mengaduh kesakitan. Dan Jane berhasil kabur. Segera membuka pintu apartemen.


Belum juga berhasil masuk, baru juga pintu berhasil dibuka. Pria sinting yang tergila-gila terhadap Jane itu kembali mengejarnya. Dan menangkap tubuh Jane dari belakang.


"Tolong!" berontak Jane.


"Bajingan, lepas tangan kotor mu itu!"


Kali ini Vincent merasa menang setelah berhasil menangkap tubuh Jane, dan terkekeh dengan kencangnya, sementara Jane terus berusaha berontak dengan meninju perut Vincent dengan sikunya.


"Kali ini aku berhasil dan tidak akan melepaskan mu, Ha ha ha ha!" kekeh Vincent merasa menang. Mengendus bau aroma wangi tubuh Jane dan menyusurkan hidung serta bibirnya ke rambut Jane.


Merasa sulit untuk lepas dari cengkeraman pria sinting itu, Jane terus berteriak meminta tolong. Sungguh malang Jane pagi itu, karena semua penghuni apartemen sebelahnya terlihat senyap tak berpenghuni. Membuat Jane hampir kehilangan suara akibat kebanyakan berteriak kencang meminta tolong.


"Menangislah sayang, tidak akan ada yang menyelamatkan diri mu kali ini. Tuhan memang sungguh berpihak kepadaku, ha ha ha ha," kelakar Vincent bak orang kehabisan akal.


"Tuhan, jangan biarkan hal yang sama terulang lagi. Singkirkan pria biadab ini dari sini!" batin Jane yang mulai melemah kekuatannya karena teringat akan peristiwa delapan tahun silam. Kebiadaban ayah biologis dari sang putra. Dan seluruh urat syaraf di tubuh Jane serasa luruh tak bertenaga seketika, teringat kenangan kelam itu.


Akankah peristiwa itu terjadi kembali?


***


BERSAMBUNG...