Alexander is Cumlaude

Alexander is Cumlaude
Gordon Berkunjung Ke Apartemen Jane



Selama Jane masih berada di perkebunan teh, hari-hari yang Gordon lalui seakan sepi. Berkali-kali pria ini melihat dari balik tirai di ruang kerjanya, bayangan wajah Jane seolah tengah duduk di kursi kerjanya, di dekat Nyonya Rean. Lamunan itu mampu membuat seorang Gordon yang super cuek, larut dalam buai hayalnya, sampai-sampai suara seseorang yang baru saja memasuki ruangan nya tidak terdengar oleh Gordon.


"Kak, Kak, Kak Gor...." teriak Daren membuyarkan lamunan Gordon.


Wajah tampan dengan manik kecoklatan itu berubah memerah layaknya kepiting rebus saat kehadiran sang adik yang tiba-tiba saja dan sangat mengejutkan dirinya.


"Mana Jane?"


Kalimat yang pertama kali keluar dari bibir Gordon adalah nama Jane, dan hal itu membuat Daren terkekeh mendengarnya.


"Ha ha ha..., rupanya ada yang sedang merindukan seorang Jane."


Gordon meninju pelan lengan sang adik yang mentertawakannya, "Auw...!" pekik Daren berpura kesakitan. Keduanya lalu sama-sama tertawa dan terkekeh.


Gordon beralih duduk di sofa yang ada di ruang kerjanya bersama Daren. Sang adik pun mulai bercerita keadaan Jane selama berada di perkebunan teh dua hari. Tampak Gordon mendengarkan cerita Daren dengan seksama dan bertanya tentang Alexander.


"Apa tampan sudah masuk sekolah?" tanya Gordon, seraya melonggarkan dasinya.


"Belum, Kak. Mungkin besok tampan akan kembali bersekolah," sahut Daren.


Gordon merogoh ponsel dari dalam saku celananya, pria ini menekan sebuah kontak nomor yang baru saja ia simpan beberapa hari yang lalu saat Alexander berada dalam ruangan kerjanya.


"Hai tampan, apa kabarmu?" suara Gordon yang besar, terdengar penuh perhatian saat berbicara dengan putra Jane.


"Hai Uncle Gor, aku baik-baik saja. Apa Uncle ingin berbicara dengan Mommy?"


Gordon gelagapan seketika saat lawan bicaranya di telepon menyebut kata Mommy. Wajah pertama kali yang terlintas di benak Gordon adalah Jane Audrey.


"Oh, ti- tidak perlu tampan. Biarkan saja Mommy kamu beristirahat. Apa tampan tidak merindukan Uncle?" Gordon berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Tentu Uncle, aku sangat merindukan Uncle Gor. Apa Uncle bisa datang ke rumah malam ini?" pinta Alexander.


Gordon pun seketika mengiyakan pertanyaan bocah berusia delapan tahun itu. Keduanya larut dalam obrolan yang seru, layaknya seorang anak bercerita banyak hal kepada sang ayah. Sementara Daren yang sempat menangkap dengar obrolan sang kakak bersama Alexander, ia pun tersenyum. Kemudian beralih menuju ruang kerjanya. Meninggalkan sang kakak mengobrol berdua bersama putra Jane dari sambungan suara ponsel.


****


Gordon segera melajukan mobilnya seusai membayar ke kasir, dengan wajah yang diselimuti kebahagiaan ia memilih arah apartemen Jane.


"Teet, teeettt...." suara bunyi bel apartemen Jane. Seorang pria dengan dua kantong besar ditangannya, tengah berdiri di depan pintu.


Alex yang sudah mengira bunyi bel itu adalah Gordon, segera berlari membuka pintu.


"Uncle Gorrrr....!" Seketika bocah kecil itu memeluk erat tubuh pria yang berdiri di depan pintu seraya berteriak menyeru nama Gordon.


Gordon menyambutnya dengan gembira, melepas kedua kantong besar ditangannya, dan membiarkan tergeletak di lantai. Membalas pelukan hangat Alexander, dan menggendong bocah itu, berputar-putar. Saling melepas rindu setelah tiga hari tidak bertemu, pasca kecelakaan kecil yang menimpa Jane. Gordon juga menghujani wajah tampan Alexander dengan ciuman kecil. Suara gelak tawa kedua pria ini terdengar hingga ke telinga Jane yang sedang berada di dalam kamar.


"Tuan Gordon," gumam Jane.


Alexander segera turun dari gendongan Gordon dan mengajak pria itu masuk ke dalam. Gordon meletakkan barang bawaannya ke dapur, kemudian diantar Alexander pergi ke kamar Jane. Seorang wanita cantik dengan balutan dress lengan pendek motif bunga, warna merah menyala tengah duduk berbaring di atas kasur, dengan rambut yang terurai. Terlihat sungguh mempesona di mata Gordon, wanita tersebut.


"Cantik sekali," batin Gordon yang tanpa sengaja tatapannya berada satu poros dengan wanita yang terbaring di kasur. Sejenak keduanya larut dalam tatapan penuh arti, berbicara dengan bahasa kalbu dari dalam hati masing-masing, sehingga tanpa sadar keduanya pun sama-sama mengulas senyum secara malu-malu.


Alexander sempat menangkap adegan kedua orang dewasa di kamar Jane saat itu, dan bocah itu pun turut tersenyum. Mempersilahkan Gordon untuk duduk, dan meninggalkan keduanya di dalam kamar.


Bocah berusia delapan tahun itu seolah mengerti apa yang diinginkan kedua orang dewasa tersebut, sehingga sengaja membiarkan keduanya bersama dan memberi ruang waktu untuk saling berbicara dari hati ke hati.


Sembari membiarkan Gordon berbincang dengan Jane, Alexander kembali ke dalam kamarnya dan mengerjakan tugas sekolah yang dua hari ini tidak ia sentuh sama sekali. Ia pun asyik mengutak-atik layar laptopnya, dan mulai menguras otaknya untuk berkonsentrasi pada tugas yang sedang ia kerjakan saat itu.


"Aku ingin mengatakan sesuatu."


Akan kah keduanya saling terbuka dan mengutarakan isi hati serta perasaan masing-masing?


****


BERSAMBUNG....