Alexander is Cumlaude

Alexander is Cumlaude
Sandiwara Gordon



Waktu terus bergulir tanpa terasa jarum jam sudah menunjuk pukul enam petang. Makan bersama sore itu pun telah berakhir. Beberapa pengunjung restoran saat itu melihat ke arah bocah delapan tahun tersebut. Sebab nama serta wajah Alexander kini sudah tak asing di mata khalayak publik. Karenanya sering mendapat sorotan saat sedang berada di luar.


Sementara Gordon sedang memanggil pelayan untuk membayar bil, Daren menarik tangan Alexander berjalan keluar. Sedangkan Jane yang berharap punya kesempatan ngobrol berdua dengan Gordon, masih duduk di kursinya hingga pelayan datang.


"Bisa kah aku bicara sebentar?" ucap Jane.


"Pergilah kasihan tampan menunggumu!" sahut Gordon.


"Aku ingin kita bicara berdua, atau aku jelaskan semua kepada Daren. Agar dia sadar dan tahu bahwa aku tidak mencintainya," ancam Jane sedikit mulai kesal.


"Kamu mengancam ku?" timpal Gordon.datar.


"Baik, akan aku katakan semua kebenaran nya kepada adik kamu!"


Jane beranjak dari duduknya dengan wajah yang dipenuhi kemarahan. Berjalan menuju arah Daren yang tengah menunggu di luar restoran bersama putranya.


Melihat Jane tidak sedang bercanda, Gordon meninggalkan beberapa uang di atas meja. Bergegas mengejar Jane.


"Lepas, biar aku jelaskan kepada Daren!" sahut Jane meronta menepis tangan Gordon.


"Stop sayang, jangan gila!" Langkah Jane terhenti, maniknya mulai berkaca.


"Sayang? Jangan pernah bilang sayang kalau kamu sendiri mengabaikan, mengacuhkan dan dingin padaku!" bentak Jane, suaranya mengundang perhatian pengunjung. Tak ingin nama baik wanita yang dicintainya tercoreng di depan publik, Gordon sekuat tenaga menarik paksa tangan Jane dan membawanya menuju toilet.


"Lepas!" berontak Jane brutal.


"Diam!"


"Kenapa diam, bukankah baru saja kamu bersikap seperti singa betina. Kenapa sekarang wajah kamu pucat begitu?" Gordon terus mendekati Jane hingga membuat wanita di hadapannya gemetar ketakutan.


Jane tak bisa berbuat apa-apa, merapatkan tubuhnya pada tembok dan ia terkunci oleh tubuh Gordon. Sedangkan Gordon mulai beraksi membelai rambut panjang nan bergelombang milik Jane. Menyusurkan telunjuknya pada setiap lekuk wajah serta leher Jane.


"Jika kamu berbuat nekad memberi tahu Daren, maka jangan salahkan aku jika trauma masa lalu mu akan kuulang kembali di sini, saat ini juga!" ancam Gordon bersikap garang. Agar wanita di depannya membenci dirinya.


"A- apa yang akan kau lakukan?" bibir Jane makin bergetar ketakutan.


Gordon tersenyum menyeringai, "Apa kamu pikir selama ini aku benar mencintai kamu?" cibirnya.


"Jangan pernah bermimpi, aku adalah typical pria yang senang menaklukkan hati wanita lalu mengacuhkan dan melupakan mereka dalam sekejap. Jadi meskipun kamu akan membongkar hubungan antara kita kepada adikku, berpikirlah seribu kali karena aku akan membalas lebih dari itu!" imbuh Gordon mengancam.


Bulir-bulir air bening mulai berjatuhan dari manik bulat Jane. Dunianya seakan runtuh dan hancur seketika. Pria yang ia cintai tega mengucap kata-kata yang menyakitkan. Dan ucapan Gordon sangatlah menyakiti hati Jane, ia sama sekali tidak menyangka akan melihat sisi lain seorang Gordon dalam bentuk yang menjijikkan menurut Jane.


"Aku tidak menyangka Anda berpikiran picik seperti itu Tuan Gordon. Aku benci, jijik melihat Anda." teriak Jane mulai pecah tangisnya.


Gordon hendak mendaratkan sebuah ciuman pada bibir ranum Jane, namun wanita itu sekuat tenaga berontak dan mendorong tubuh pria di depannya hingga Gordon terpental ke tembok. Jane segera membuka pintu toilet dan berlari membungkam mulutnya dalam Isak tangis. Sementara Gordon hanya bisa terduduk lemas di lantai toilet, mengacak rambutnya kacau dengan prustrasi.


"Maafkan aku sayang, aku terpaksa melakukan ini agar kamu membenciku dan memilih adikku." batin Gordon menahan amarah serta emosi yang hanya bisa ia luapkan dengan keputusasaan. Karena menurut Gordon, kebahagiaan sang adik adalah prioritas utama dalam hidupnya. Dan ia rela menyiksa dirinya demi kebahagiaan Daren.


Sesampainya di depan pintu masuk restoran, Jane menarik tangan Alexander paksa dan membawanya masuk ke dalam mobil. Tanpa penjelasan sepatah kata kepada Daren yang ternganga heran dengan perubahan sikap Jane petang itu. Pun dengan bocah delapan tahun tersebut hanya bisa diam menatap sang ibu penuh rasa iba serta tanda tanya, apa yang sudah terjadi dengan sang ibunda di dalam restoran tadi. Jane mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi melaju meninggalkan Daren di depan restoran.


***


BERSAMBUNG...