
"Anak apa? dengan siapa?"
Wanita yang duduk berdampingan dengan Nyonya Madison itu membuka mulutnya lebar, ternganga tidak percaya. Seluruh urat syaraf dari dalam tubuh Cyril mendadak melemah tak berfungsi dengan benar.
"Siapa wanita itu?" desak Cyril semakin tidak dapat menguasai emosi saat itu.
"Tutup mulut kamu Cy! Lanjutkan Al!" perintah Nyonya Madison dengan suara lantang.
Aldrich Barayeve akhirnya mulai bercerita tentang perjalanan bisnisnya yang membawa petaka buat Jane Audrey sekertaris nya saat itu. Bahkan detik-detik saat dirinya mengetahui kebenaran bahwa sang sekretaris tengah mengandung benih darinya. Semua Aldrich ceritakan dengan gamang tanpa ada yang terlewat dan ditutupi. Juga termasuk kebiadaban nya membuang Jane beserta janin dalam kandungannya jauh dari kehidupannya.
Suara Isak tangis dari seorang Cyril mulai terdengar membahana memenuhi ruangan tersebut. Wanita itu sama sekali tidak menyangka bahwa Aldrich akan Setega dan sekejam itu terhadap darah dagingnya. Ia pun membayangkan bagaimana nasib yang akan dialaminya karena belum bisa memberikan seorang keturunan.
"Kejam sekali kamu, hiks...."
Wanita yang tadinya duduk itu segera beranjak bangkit hendak berlalu ke kamar, namun Aldrich kembali mencegah dan menghentikan langkahnya.
"Aku mohon duduklah kembali Cy! masih ada satu hal lagi yang belum kamu ketahui tentang diriku. Setelah kamu mengetahui semuanya, apa pun keputusan kamu pasti aku hargai," mohon Aldrich penuh harap dengan suara lirih.
Cyril yang sudah terlanjur kecewa dengan Aldrich terpaksa duduk kembali dengan lesu di atas sofa. Dan Aldrich pun kembali menghirup napas panjang, seluruh udara yang ada di ruangan itu seakan tak mampu memenuhi rongga dada seorang Aldrich, yang mulai merasa sesak meski berada dalam ruangan ber AC.
Sementara Nyonya Madison sendiri masih terlihat santai dalam duduknya, tidak terlontar sedikit pun kata dari dalam bibirnya. Hanya mengamati reaksi Cyril yang menurutnya sangat berlebihan.
"Dasar rubah licik, pandai-pandai nya kau berakting menangis di hadapan putraku. Kamu sendiri juga tak kalah kejam dari Aldrich, telah berani berselingkuh dengan pria lain," gumam Nyonya Madison.
"Cukup, Ma! Jangan sangkut pautkan semua kesalahan masa lalu Aldrich dengan Cyril," protes Aldrich.
Seketika ruangan kembali hening, dan Aldrich pun melanjutkan ceritanya kembali, "Dan untuk kamu, Cy, aku benar-benar minta maaf sekali lagi. Karena tidak bisa membuatmu menjadi seorang ibu. Iya tuduhan kamu waktu itu memang benar. Nama yang selalu aku teriakkan dalam mimpiku di setiap malam, adalah nama wanita lain, dia adalah Jane."
Raungan suara tangisan Cyril kembali terdengar memenuhi ruangan itu, tak bisa lagi menahan tangisnya karena kekecewaan yang dialaminya atas sikap Aldrich selama ini. Namun wanita ini masih mampu menguasai emosinya dan kembali mendengarkan penjelasan cerita suaminya.
"Semenjak peristiwa itu, aku selalu dihantui perasaan bersalah hingga tanpa kusadari hal itu membuat kelelakianku disfungsi. Karenanya aku selalu lebih memilih tidur di ruang kerja."
Setelah Aldrich usai bercerita, Cyril segera berlalu dan berlari menuju kamar dengan membungkam mulutnya dengan tangan kanan nya. Tak sanggup berlama-lama berada dalam satu ruangan yang sama bersama pria yang sudah menyakiti dan mengecewakannya terlalu dalam.
Aldrich sendiri merasa lega setelah berhasil mengungkapkan semua rahasia yang selama ini menjadi penyebab ketidak harmonisan pernikahannya bersama Cyril. Pria ini kini diam membisu menatap punggung sang istri yang meninggalkan ruangan tersebut, penuh kekecewaan. Ia hanya bisa pasrah dan membiarkan Cyril menyendiri untuk menenangkan dirinya. Dan kini di ruangan itu hanya ada Nyonya Madison dan Aldrich yang duduk bersebelahan. Tetap pada posisi yang sama, saling ambigu.
****
Di perkebunan teh malam itu, Jane tidak dapat memejamkan kedua bola matanya sama sekali. Seluruh pikiran dan isi otaknya dipenuhi oleh wajah Gordon yang pergi meninggalkan perkebunan teh dengan wajah yang terlihat kecewa. Batinnya ingin sekali mengejar dan mengungkapkan semua isi hatinya. Namun apalah daya, keadaan tidak memberi mereka kesempatan untuk saling membuka isi hati masing-masing.
Daren yang baru saja keluar dari kamar Alexander, mengintip Jane yang masih terjaga dari balik pintu. Dan adik dari pria yang dicintai Jane itu pun mendekat.
"Kenapa kamu belum juga tidur, Sayang? Apa kaki mu sakit?"
Daren mendaratkan kedua tangannya di kaki Jane. Memeriksa kaki wanita itu dengan penuh perhatian dan kelembutan.
"Apa ini sakit?" tanya nya.
Jane pun menggelengkan kepalanya pelan, seraya menatap Daren yang sedang duduk di samping ranjangnya.
"Aku hanya belum mengantuk saja, kamu tidurlah dulu. Sebentar lagi aku juga tertidur," usir Jane secara halus kepada Daren.
Pria ini bukannya pergi dari sana, namun memilih memijat area kaki Jane yang terlihat sedikit membengkak, dengan pijatan lembut. Membuat Jane semakin merasa bersalah, karena tidak bisa membalas perasaan pria baik hati di sampingnya itu.
"Maafkan aku, Daren. Hatiku sudah milik orang lain," batin Jane.
Tak lama kemudian setelah Daren melakukan pijatan kecil di kaki Jane, wanita itu tertidur dengan pulas. Perhatian dan kelembutan yang Daren berikan, akankah mampu meluluhkan hati Jane?
****
BERSAMBUNG....