
"Lepaskan!"
Masih nada yang sama yang keluar dari bibir bocah kecil itu, seperti saat sebelum turun dari mobil beberapa waktu lalu, ketus dan dingin.
"Sepertinya Ibu Tuan sudah sadar, sebaiknya saya permisi dulu, Mommy pasti khawatir."
Begitulah ucapan terakhir yang terlontar dari bibir si genius sebelum bocah kecil itu benar-benar pergi meninggalkan Madison dan Aldrich di ruang VVIP. Menyisakan pilu bagi Nyonya Madison sebab ia berharap sekali ingin bisa memeluk anak kecil itu yang merupakan satu satunya penerus kerajaan bisnis Madison Corp.
"Bagaimana anak itu mau datang kemari? Apa kamu yang meminta nya?" Tanya Nyonya Madison masih dengan suara lirih.
"Maaf, Ma. Jika sikapnya menyakiti hati Mama. Ini semua salah Aldrich," timpal Aldrich sedih.
Aldrich mulai bercerita awal mula kejadian tadi sore yang ia lihat hingga kejadian mengejutkan pertemuan nya dengan Jane beserta buah hati nya. Manik manik kecoklatan yang sudah sedikit bersemu putih milik nyonya Madison, tampak mulai membasah. Impian yang selama ini ia impi - impikan agar bisa bertemu sang cucu. Namun setelah di depan mata, bocah itu justru menolak mendekati dirinya.
"Yaa Tuhan, sungguh dosa kami begitu besar kepada anak itu. Kami memang pantas diperlakukan seperti ini." Gumam nyonya Madison.
Setelah menggumam, wanita yang baru saja sadar dari pingsannya itu terlihat sedikit lebih segar meski rona pucat pasi masih tampak jelas dari wajah rentanya. Ia menghela napas panjang lalu menyeru kepada putra semata wayangnya, Aldrich.
"Untuk menebus semua dosa dosa kamu di masa lalu, Mama minta dengan sangat kepada mu, bawa kembali Cucu Madison, sebab hanya dia yang akan mewarisi kerajaan bisnis keluarga kita, bukan yang lain. Bagaimana pun caranya Mama tidak mau tau, bila perlu pisahkan wanita itu dari suaminya agar ia kembali ke pelukan mu!"
Bagai disambar petir telinga Aldrich kala itu, bagaimana mungkin sang ibu bisa menyuruh dia untuk melakukan hal yang sangat mustahil dia lakukan. Sudah sangat jelas Jane tidak akan 3Sudi menerima dirinya yang sudah bersikap kejam. Begitu juga dengan si genius mana mungkin begitu saja mau ikut tinggal bersamanya.
"Apa Mama sadar dengan ucapan Mama? Jane sudah menikah, Ma. Dan pria itu sangat menyayangi mereka. Harusnya Mama lihat itu sendiri agar tahu bagaimana Tuan Gordon memperlakukan mereka begitu luar biasa. Bahkan Al pun belum tentu bisa sebaik dan sesayang dirinya."
Aldrich beranjak berdiri dari brankar berkacak pinggang seraya memijat keningnya. Sungguh sebuah permintaan dan perintah yang sangat sulit untuk ia kabulkan. Jika menyangkut soal bisnis, mungkin dirinya akan maju dan bersaing, namun jika bicara soal membawa kembali Ibu dan anak yang pernah ia buang, sungguh hal itu sangat mustahil. Jika pun bisa ia melakukan pastinya, dirinya harus bermain kotor untuk sekali lagi dalam hidupnya.
"Maafkan Al, Ma. Kali ini Al sungguh tidak bisa memenuhi permintaan Mama. Memeluk ku saja dia tidak sudi, apalagi tinggal dengan ku?" protes Aldrich masih dengan raut sedih.
"Bukan itu jawaban yang Mama inginkan, sejak kapan seorang penerus Madison berjiwa pecundang seperti diri mu?" Teriak Nyonya Madison. Membuat wanita tua itu mulai mengusap dada kembali.
"Ma, Mama istirahat lah. Aldrich minta maaf karena sudah membuat Mama khawatir seperti ini. Akan Al usahakan semampu nya untuk membawa mereka kembali pulang."
Ayah biologis si genius kembali mendekati brankar sang ibu seraya mengusap dada wanita tersebut. Membuang napas kasar, menandakan dirinya sungguh dilema.
****
"Mommy, Daddy....!"
Teriak genius, saat membuka pintu kamar hotel yang ditempati kedua orang tuanya.
Mendengar suara sang putra memanggil namanya Jane beserta Gordon segera bangkit dari duduknya dan menghampiri bocah kecil yang baru saja masuk.
Alex duduk di sofa diapit oleh Jane dan Gordon. Menunggu bocah kecil itu bercerita. Namun sampai beberapa waktu berlalu, bocah itu tetap saja dia mengayun kedua kakinya tanpa bercerita apa pun. Jane dan juga Gordon saling menatap meminta jawaban tapi nihil.
"Sayang, bagaimana perjalanan kamu tadi? Apa menyenangkan? Bagaimana kabar Ibu itu?" Jane memberanikan diri mencecar sang putra dengan beberapa pertanyaan.
"Dia sudah sadar, dia memanggilku Cucu!"
"Terus apalagi?" selidik Jane penasaran.
Bukannya jawaban yang didapat, namun genius justru bangun dari duduknya dan meninggalkan keduanya yang tengah diliputi penasaran pergi begitu saja.
"Alex lelah, Alex lapar Mommy!"
Walau dirinya masih belum puas dengan jawaban sang putra, namun Jane tidak memaksa anak tersebut bercerita. Ia pun menyusul Alex yang pergi ke kamar sebelah tempat mereka menginap.
"Anak Mommy mandi dulu ya, Daddy sebentar lagi datang membawakan makanan kesukaan mu," bujuk Jane.
Saat Alex berkata lapar, Gordon pun segera turun ke lantai bawah memesan makanan. Sebenarnya dia bisa saja menggunakan jasa OB untuk memesan makanan, tapi tidak dilakukan sebab untuk kebutuhan putranya, Gordon tidak bisa mempercayakannya begitu saja kepada orang lain. Begitulah bukti besarnya cinta dan kasih sayang Gordon sebagai ayah sambung yang benar benar tulus menyayangi Alexander dan Jane.
Alex segera pergi mandi, dan seperti perkataan Jane, beberapa saat setelah Alexander mandi, Gordon datang membawa makanan kesukaan bocah tersebut. Masih enggan mengulas senyum seperti biasanya anak kecil itu segera menyantap makanan yang dibawakan oleh Gordon sampai bersih tak bersisa.
"Sayang, Mommy sama Daddy tidak akan meminta mu untuk bercerita lagi soal kejadian di rumah sakit. Daddy akan menunggu sampai Tampan mau bercerita sendiri," pungkas Gordon menepuk pundak putra kesayangannya, sebelum pergi meninggalkan kamar.
Dan bocah genius itu hanya membalas anggukan tanpa berkata apa pun lagi selain berterima kasih kepada Gordon.Gordon segera mengajak Jane pergi dari kamar Alexander.
"Sebaiknya kita biarkan saja putra kita berpikir jernih dan tenang. Tidak mudah baginya menerima semua kenyataan ini secara tiba-tiba. Pasti sulit bagi Tampan kita."
Gordon mendudukkan tubuh Jane di ranjang. Menatap kedua bola mata yang indah milik Jane, seraya mengecup kening wanita itu. Jane pun membalas dengan senyuman dan mengangguk.
"Maaf, aku tadi terlalu antusias ingin mendengar Alex bercerita. Aku sungguh sudah tidak sabar," balas Jane dengan wajah sendu.
"Bersabarlah Honey, Tampan butuh waktu untuk semua ini. Jika kamu ada di posisi Tampan, pasti juga akan sama seperti dia. Sebaiknya kita tunggu saja sampai anak kita mau bercerita!"
Tak lama kemudian mereka segera berganti baju dan segera tidur. Malam telah datang dengan segala pekatnya membawa cerita berbeda kala itu bagi keluarga kecil Gordon.
****
BERSAMBUNG....