
"Hai, selamat siang Tuan Al! Bagaimana kabar Anda? sepertinya sangat sibuk hari ini," Sapa tuan Pablo merentangkan kedua tangan menyambut kedatangan Aldrich. Keduanya saling berpelukan.
"Maafkan Saya, Tuan. Pertemuan kita sedikit terlambat siang ini. Ada meeting mendadak barusan di perusahaan," Sahut Aldrich beralasan.
Ketiga pria ini segera duduk di sofa yang ada di ruang kerja Tuan Pablo. Sebuah ruangan yang sangat terbuka, terletak di samping apartemen. Dihiasi aneka tanaman hias yang tertata apik dan terawat. Membuat siapa saja yang duduk di sana bisa melihat secara jelas apartemen yang berhadapan.
"Selera Anda rupanya sangat bagus Tuan, sebuah tempat kerja yang begitu sejuk dan membuat mata menjadi hijau," puji Aldrich mengedarkan pandangan melihat sekeliling.
Pria itu pun beranjak dari kursinya sesaat. Menghela napas panjang seraya memejamkan mata. Menikmati indahnya suasana kediaman pria asal Belanda yang sebentar lagi akan menjadi rekan bisnisnya tersebut.
Netra Aldrich sesaat tertuju pada halaman apartemen yang berhadapan tepat dengan tempat ia berdiri saat itu. Apartemen yang tak kalah indahnya dengan milik tuan Pablo. Sementara Gustaf mulai menyiapkan beberapa berkas serta membuka laptop miliknya. Sembari bercengkrama sejenak bersama si empunya apartemen.
Saat membuka matanya, samar samar Aldrich melihat sosok bocah kecil yang tengah duduk di tepi jendela. Meski wajahnya tidak tampak jelas, namun entah mengapa tiba-tiba ia teringat kembali akan sang putra.
"Anak itu.... mungkin dia seumuran putraku," gumam Aldrich dalam hati. Dan pandangan nya masih tak mau beranjak dari sosok bocah kecil yang dilihat nya.
"Tuan, bisa kita mulai?" suara Gustaf seketika membuyarkan pandangan Aldrich Barayeve.
"Oh, iya maaf sudah menunggu. Baiklah kita mulai saja meeting nya."
Aldrich kembali duduk dan bersebelahan dengan tuan Pablo. Mengarahkan layar laptop kepada pria asal Belanda tersebut. Bibir Aldrich pun mulai berkomat kamit menjelaskan isi dari kerja sama yang ia tawarkan kepada tuan Pablo. Dan pria asal Belanda itu pun tampak antusias mendengarkan penjabaran isi kerjasama dengan Madison Corp.
***
"Sayang, sedang apa kamu duduk di situ?" sapa Jane kepada sang putra yang tengah duduk di tepi jendela, memainkan kotak musik di tangan nya.
"Aku hanya sedang menikmati lantunan musiknya, Mom. Kemari lah, mendekat Mommy. Kita dengarkan sama sama!"
Alexander sedikit bergeser dari duduknya, memberi tempat kepada Jane.
Sambil mengulas senyuman, Jane pun duduk di dekat sang putra. Mengusap rambut genius penuh kasih sayang. Dan turut menikmati alunan musik yang keluar dari kotak berwarna putih ditangan genius.
"Mommy, bolehkah besok aku kembali ke kampus?" tanya Alexander menatap wajah sang ibu.
"Tentu saja boleh sayang, tapi...! Tampan harus diawasi oleh Om Om itu ya!" Telunjuk Jane menunjuk pada salah satu bodyguard yang sedang berdiri di depan kamar Alexander. Dan bocah itu pun mengangguk kan kepala.
Mata Jane sempat melirik laptop sang putra yang tergeletak di atas kasur namun masih posisi menyala.
"Iya Mom, besok harus dikumpulkan. Penentuan penilaian."
"Oh...!"
Jane akhirnya tidak lagi menanggapi laptop tersebut. Kembali fokus mendengarkan musik. Dan keduanya duduk cukup lama sembari tangan Jane merangkul pundak si genius. Menikmati desiran angin siang itu yang berhembus sepoi-sepoi.
Pemandangan indah ibu dan anak tersebut secara tidak sengaja kembali menyita perhatian Aldrich yang tengah berbincang dengan tuan Pablo. Yang sesekali memang sedari tadi terus ia perhatikan dari kejauhan.
"Wanita itu, postur tubuhnya hampir mirip Jane, begitu juga anak itu. Apa mungkin itu mereka?" batin Aldrich kembali berdecah.
"Ah..., bagaimana mungkin mereka saja sampai saat ini masih belum berhasil menemukan jejak Jane. Pasti ini hanya sebuah kebetulan yang mirip saja," tandas batin Aldrich meyakinkan dirinya sendiri.
Hampir satu jam diskusi antara Aldrich dan tuan Pablo berlangsung. Dan kini pria asal Belanda itu pun menyetujuinya dan terlihat menandatangani beberapa berkas yang disodorkan oleh asisten Gustaf.
"Emmmm...., Tuan Al, saya perhatikan sejak tadi Anda begitu antusias terus mengawasi rumah itu. Apakah saudara Anda tinggal di sana?" Tegur tuan Pablo yang juga turut mengamati apartemen di depannya.
"Oh maafkan saya Tuan. Bukan, bukan siapa-siapa. Desain rumah itu sangat unik, sepertinya saya tertarik, itu saja," kilah Aldrich mengalihkan pandangannya dengan senyuman.
"Rumah ini selesai dibangun tepatnya satu tahun lalu, Tuan. Dan saya membelinya dari salah satu warga di kota ini. Menurut rumor yang beredar rumah itu juga masih milik dari pemilik sebelumnya." Jelas Pablo.
"Pantas saja desainnya tidak jauh berbeda dengan rumah Anda. Dan jujur saja saya menyukainya. Lantas apa Tuan mengenal siapa penghuni apartemen itu?" Pandangan Aldrich kembali tertuju pada dua makhluk yang masih duduk di dekat jendela.
"Oh, soal itu saya kurang menahu Tuan. Selama saya menempati rumah ini beberapa bulan lalu. Rumah itu penghuni nya ganti ganti. Sepertinya rumah itu disewakan oleh pemiliknya."
Rasa penasaran Aldrich terhadap sosok ibu dan anak yang tengah duduk berdua itu, semakin besar. Entah mengapa ia seolah memiliki firasat bahwa bocah kecil tersebut adalah putranya.
"Apa sebaiknya aku menyuruh salah satu dari mereka untuk melihat kemari?" batin Aldrich. Merogoh ponsel dari dalam sakunya. Mulai dikuasai penasaran.
Masih terus dipenuhi tanda tanya dengan pemandangan yang dilihat nya. Aldrich akhirnya memberi perintah kepada salah satu bodyguard nya agar segera menyelidiki rumah itu, terutama siapa penghuni nya.
****
Apakah dugaan dan firasat Aldrich benar ?
BERSAMBUNG....