
Tepat di depan pintu ruang VVIP, tempat nyonya Madison dirawat. Alexander berdiri menatap dua bodyguard yang juga sedang berjaga menjaga nyonya Madison. Hal itu membuat Aldrich memberi isyarat kepada dua orang suruhannya untuk memberi hormat kepada bocah genius. Dan keduanya bergeser menepi membiarkan Alexander beserta Aldrich masuk ke dalam. Sementara ketiga pria suruhan Gordon juga berdiri di hadapan dua bodyguard Aldrich.
"Lihatlah, beliau masih terbaring lemah. Hanya keajaiban Tuhan yang bisa membuat Mama sadar kembali." ujar Aldrich mendekati brankar.
Beberapa alat bantu pernapasan serta injeksi dan juga layar monitor ada di dekat ranjang nyonya Madison. Tampak berbunyi silih berganti. Memang benar seharusnya wanita paruh baya itu harus dirawat di ruang ICU, namun atas permintaan Aldrich kepada dokter agar beliau dirawat di ruangan khusus supaya keluarga bisa menjenguk.
"Kemarilah, duduklah di sini!" ucap Aldrich menepuk tepi ranjang.
Bocah delapan tahun yang awalnya dipenuhi amarah untuk membalas kan dendam sang ibunda, hanya bisa diam tak berucap. Berjalan mendekati brankar nyonya Madison.
"Jika ibu Anda sakit, mengapa harus turut menghadiri acara tadi pagi. Bukan kah sudah ada Tuan?" celetuk Alexander.
"Sebenarnya beliau sehat saat sebelum acara. Namun entah mengapa tiba-tiba saja beliau pingsan," timpal Aldrich berbohong.
"Sepertinya Ibu Anda sedang mengalami syok, jika boleh tahu, hal apa gerangan penyebabnya?"
Pertanyaan bocah delapan tahun itu terdengar sangat enteng, namun susah untuk Aldrich jawab.
"Andai kamu tau, Nak. Dia mengalami ini semua karena kebodohan atas dosa dosa masa lalu ku." Batin Aldrich.
"Itu tidak benar, mungkin beliau hanya kaget biasa," sahut Aldrich.
Alexander kini berdiri sangat dekat dengan brankar wanita yang sedang dirawat itu. Dalam hati kecilnya mulai timbul rasa kasihan melihat wanita paruh baya yang terbaring lemah, tubuhnya dipenuhi berbagai alat medis.
"Wajah Anda terlihat polos tanpa dosa, Nyonya. Lihat saja, kami belum melakukan serangan apa pun, kalian sudah ketakutan seperti ini. Bagaimana jika kami melakukan yang sesungguhnya. Dosa dosa kalian begitu besar, hukuman ini saja masih belum lah pantas untuk mu Nyonya," gumam Alexander dalam hati.
Tanpa sengaja saat batinnya terus bergemuruh dengan amarah yang tak mampu ia ungkap, bocah delapan tahun itu memegang tangan lemah nyonya Madison. Hal itu pun juga disaksikan oleh Aldrich Barayeve.
"Peluklah dia, Nak. Dia Nenek mu, begitu sangat merindukan mu, sayang," batin Aldrich penuh harap menyaksikan sang putra yang terus menggenggam tangan ibunya.
Hampir beberapa menit berada di dalam sana, dan Alexander masih tetap menggenggam tangan nyonya Madison, tiba-tiba terdengar bunyi "Tit..." lebih kencang dari biasanya. Bahkan jari telunjuk wanita paruh baya tersebut mulai bergerak gerak. Alex juga sempat kaget melihat hal itu.
Beberapa perawat berlarian datang dan masuk mendekat. Salah satu dokter yang juga datang bersama perawat pun segera memeriksa kondisi pasien. Beberapa pemeriksaan mulai dilakukan untuk memastikan si pasien dalam kondisi baik baik saja. Dan setelah cukup lama dilakukan pemeriksaan dokter yang sedang merawat saat itu pun berkata kepada Aldrich.
"Sepertinya pasien mulai menunjukkan respon dan mulai sadar. Sebaiknya kita tunggu beberapa saat sampai Ibu Anda membuka mata," tutur dokter yang memeriksa.
Tampak wajah gembira dari Aldrich, saking bahagianya tanpa sadar ia memeluk tubuh si genius dengan erat. Air mata bahagia pun tumpah di kamar itu. Kali pertama seorang pendosa seperti dirinya memeluk tubuh buah hati yang pernah berusaha ia buang dan singkirkan. Tak peduli jika anak tersebut akan memukul bahkan menampar dirinya di hadapan dokter dan juga perawat saat itu.
Air mata haru plus bahagia malam itu keluar bak mata air dari bola mata Aldrich. Rasa keharuan yang tak bisa lagi ia bendung. Seolah sejuta kata pun tak bisa mewakilkan rasa harunya kala itu.
Sementara bocah yang tengah berada dalam dekapan sang ayah biologis berusaha meronta sekuat tenaga namun sia sia. Sebab kekuatan Aldrich malam itu sepertinya benar-benar luar biasa. Kekuatan seorang ayah yang benar-benar sungguh sangat merindukan dan mendambakan momen momen seperti saat ini yang ia lakukan.
"Ijinkan aku memeluk mu, Nak. Sebentar saja!" pinta Aldrich berbisik kepada buah hatinya yang masih ia dekap erat.
Tak lama berselang sepertinya benar sesuai dengan ucapan dokter baru saja. Bahwa nyonya Madison mulai membuka mata perlahan. Dengan kesadaran yang masih belum seutuhnya, wanita lemah itu mengedarkan seluruh pandangan nya ke semua sudut ruangan. Samar samar mulai terlihat beberapa orang tampak berdiri mengelilingi dirinya yang sedang berbaring saat itu.
"Dimana aku?" ucap wanita tua itu.
"Mama akhirnya sadar kembali," sahut Aldrich beralih mendekati brankar sang ibu.
Sementara Alexander terlihat berdiri sedikit berjarak dari brankar. Melihat obrolan anak dan ibu yang baru saja tersadar.
Aldrich memeluk erat tubuh nyonya Madison dan tangisnya kembali pecah, berkali kali pria itu mengucap kata maaf kepada sang ibu, karena telah membuatnya berada di ujung maut. Dan keduanya larut dalam Isak tangis. Dokter tak memberi ijin kepada Aldrich untuk berlama-lama memeluk tubuh si pasien mengingat kondisi wanita tersebut belum sepenuhnya pulih.
"Sebaiknya Tuan biarkan pasien beristirahat, beliau baru saja sadar. Jadi tolong untuk tetap menjaga kestabilan kondisi pasien," terang sang dokter menepuk pundak Aldrich.
Pria yang masih larut dalam tangis harunya itu segera melepaskan pelukannya dari tubuh sang ibu. Dan tak lama setelah pemeriksaan kembali dilakukan. Gerombolan dokter beserta perawat segera menghilang dari kamar nyonya Madison dirawat.
"Cu cu ku....!" ucap nyonya Madison dengan suara lirih.
Alexander masih tak bergeming dari tempat ia berdiri. Namun kedua telinga nya masih bisa mendengar dengan jelas bahwa wanita tua yang baru saja sadar dari pingsannya itu menyebut kata 'Cucu.
"Jadi Dia sudah tahu siapa aku? apa karena kaget melihat kehadiran ku dan Mommy Dia syok dan pingsan?" bocah itu hatinya terus bertanya-tanya.
"Kemarilah, Cu cu ku!" masih kata yang sama diucap oleh nyonya Madison.
Sambil berjalan mendekat, Alexander tak berkata sepatah kata pun terhadap Nyonya Madison. Dan Aldrich mencoba meraih tangan Alex untuk duduk di tepi ranjang, namun lagi-lagi bocah kecil itu menolak kasar uluran tangan Aldrich.
"Lepaskan!"
(Akan kah Alexander mengakui mereka? )
Bersambung....