
Hari berganti hari, semakin hari perasaan aneh yang ia rasa semakin membuat hatinya tidak karuan. Bahkan untuk berangkat ke kantor dan bertemu dengan Jane pun serasa enggan. Sebab, semakin ia di hadapkan di hadapan Jane, hati Gordon semakin tidak bisa terkontrol. Ditambah, Alexander selalu terlihat lengket dengan Daren. Setiap pulang dari kampusnya, Daren selalu menemani bocah berusia tujuh tahun itu bermain dan bercerita.
"Uncle, bisa tidak akhir pekan besok kita pergi bertamasya?" Tanya Daren yang sedang duduk dalam pangkuan Daren, memainkan dasi pria nomor dua di GD COMPANY tersebut.
"Apa Tampan mau bertamasya?" Daren balik bertanya meyakinkan bocah kecil itu. Dibalas anggukan oleh Alexander dengan antusiasnya.
Sore itu seusai pergi dari sebuah toko mainan, Gordon memasuki ruangan sang adik, dan melihat kehadiran bocah kecil yang mulai menarik perhatiannya. Sebuah kotak besar berisi mainan yang pasti disukai oleh bocah seusia Alex, sengaja Gordon berikan kepada Alexander, sebagai hadiah pertemanan dirinya dengan anak kecil tersebut. Sekaligus peringatan hari ulang tahun ke delapan Alexander.
"Uncle, Gor!" panggil Alex tersenyum menatap Gordon.
Gordon yang sedang berdiri di depan pintu pun, menghampiri Alexander dan berjongkok, mensejajarkan dirinya dengan bocah kecil tersebut, "Ini, hadiah pertemanan kita!"
Gordon melebarkan senyumnya serta merentangkan kedua tangannya, dan disambut oleh putra Jane. Sebuah pemandangan layaknya pertemuan seorang ayah dengan putra kesayangannya yang lama tidak bertemu.
"Terima kasih, Uncle Gor!" ucap Alexander mencium pipi Gordon seraya memeluk erat pria tersebut.
Meski hubungan Alexander lebih akrab dengan Daren, namun berbeda halnya jika dengan Gordon. Setiap perjumpaan mereka lebih terlihat seperti layaknya hubungan seorang ayah dan anaknya.
"Uncle, besok Alex mau mengajak Uncle Daren bertamsya, apakah Uncle Gor juga mau ikut?" bocah yang hari itu genap berusia delapan tahun, bertanya kepada Gordon. Masih memeluk pria nomor satu di GD COMPANY dengan erat.
Gordon membalas ciuman kecil di pipi bocah kecil tersebut, "Baik, besok Uncle pasti ikut, iya kan Uncle Daren?"
Daren turut tersenyum dan mengiyakan obrolan sang kakak bersama bocah kecil tersebut. Dan ketiganya tertawa riuh bersama, hingga suara tawa mereka terdengar hingga ke ruangan Jane.
Sementara Jane yang sedang menyelesaikan pekerjaannya sebelum jam kerja berakhir, tampak sibuk sekali. Dengan rambut panjangnya yang terurai, sesekali menutupi wajah cantiknya, dan balutan blazer warna putih, semakin memancarkan aura kecantikan yang alami. Membuat siapapun pria yang melihatnya pasti akan terpesona.
Semenjak penghinaan yang diberikan oleh Aldrich beberapa tahun silam. Jane kini lebih memperhatikan penampilannya. Namun disamping itu tidak mengurangi atau mengubah wajah ayu nan alami ciri khas dalam dirinya. Jika Tuhan mempertemukan ia kembali dengan pria biadab itu, maka ia ingin membuat pria tersebut agar bertekuk lutut di kakinya, untuk meminta maaf. Dan dendam serta amarah itu tak pernah padam hingga sekarang. Percakapan terakhir Aldrich yang menyuruh seorang dokter untuk menggugurkan janin yang ada di dalam perutnya waktu itu masih terekam jelas di ingatan Jane Audrey.
"Mommy!" bocah yang baru saja keluar dari ruangan Daren, menghampiri Jane dengan sebuah kotak besar di tangannya.
Alexander meletakkan kotak pemberian Gordon ke atas meja kerja Nyonya Rean, karena terlihat kosong tidak ada tumpukan kertas. Berbeda dengan meja sang mama yang tampak penuh dengan berkas yang masih berserakan.
"Uncle Gor memberikan ini kepada Alex. Kado pertemanan kita Momm!" jawab Alex. Mendudukkan tubuhnya di kursi sebelah Nyonya Rean.
"Wah besar sekali, apa itu isinya Tampan?" celetuk Nyonya Rean.
"Mungkin mainan!" timpal Alex menaikkan kedua bahunya kepada Nyonya Rean.
"Pasti isinya hadiah yang menarik ya!" gumam Nyonya Rean menggoda.
"Seperti Uncle Gordon yang menarik orangnya ya Nyonya?" pertanyaan Alex tiba-tiba menyentak kan Jane.
Membuat Jane menghentikan pekerjaannya. Dan menoleh ke arah sang putra yang tengah mengobrol dengan Nyonya Rean.
"Kenapa Alex bisa berkata seperti itu?" batin Jane terasa berdegup kencang jantungnya.
"Apa Alex mengetahui kalau akhir-akhir ini aku merasa aneh tentang perasaanku terhadap Tuan Gordon?" Jane kembali membatin.
Lama berperang dengan asumsi dugaannya, Jane pun segera menyelesaikan pekerjaan nya karena sepuluh menit lagi jam kantor akan berakhir.
Nyonya Rean sempat menangkap kekagetan Jane saat putranya berbicara barusan. Dan wanita yang menjadi kepala divisi di tim Jane itu mengambil kesimpulan bahwa sepertinya Jane menaruh hati terhadap Tuan Gordon.
****
BERSAMBUNG....