
"Selamat pagi semuanya!" sapa Alexander kepada wartawan yang masuk ke ruang perawatannya.
Tampak para wartawan itu berkumpul rapi dan tertib tidak menimbulkan suara kegaduhan bagi pasien sekitar.
"Selamat pagi genius," itulah panggilan yang diberikan wartawan kepada Alexander setiap kali melakukan wawancara.
Bocah delapan tahun yang tadinya duduk bersandar di atas bed, kini lebih tegak posisi duduknya berselabahan dengan Daren yang mendampingi. Menjawab satu per satu pertanyaan wartawan.
"Bisakah genius ceritakan bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi semalam? sedangkan menurut kabar yang beredar, nyonya Jane seketika tak sadarkan diri. Pastinya beliau membawakan mobil sangat kencang," tanya wartawan wanita yang ada di sana. Sedangkan wartawan lainnya adalah laki-laki semua.
Dengan santai putra semata wayang Jane Audrey itu menjawab pertanyaan sang wartawan perempuan, "Memang benar Mommy seketika tidak sadarkan diri karena kepalanya terbentur, tapi cuaca di tempat kejadian terlalu ekstrim, angin bertiup sangat kencang sementara dalam waktu singkat tumpukan salju di mana-mana menutupi jalanan juga tepi kanan kiri," jawab Alex.
"Satu lagi, Mommy tidak sedang mengebut atau ugal-ugalan. Akan tetapi karena ketebalan salju, pandangan Mommy jadi kabur. Sementara kami telat mengetahui pemberitaan tentang badai tersebut, menepi pun percuma karena jauh dari hunian warga. Sungguh sayang saat sudah hampir mendekati salah satu rumah warga, kejadian nahas itu terjadi" tambah Alexander dengan tegas.
Jane yang terbaring di atas bed merasa bersalah dengan sang putra, "Maafkan keegoisan Mommy sayang, demi melindungi Mommy yang keras kepala kamu menutupi kejadian sebenarnya," batin Jane menyesal.
"Oh jadi kronologinya seperti itu. Lantas siapa pria yang ada di sampingmu ini? Bukan kah ibumu seorang Single Mom?" celetuk wartawan lainnya.
"Beliau adalah Uncle Daren, adik dari pemilik GD COMPANY. Perusahaan yang memintaku menjadi penasehat di sana," jawab Alex.
"Menurut rumor yang beredar, Mommy kamu sering jalan dengan pemilik GD COMPANY tersebut. Apakah mereka ada hubungan spesial?" selidik wartawan lainnya.
"Kami hanya sebatas rekan kerja saja saat ini, kebetulan Jane adalah mantan karyawan di perusahaan kami. Mengenai pertanyaan yang bersifat pribadi lainnya, maaf kami skip." Daren tiba-tiba turut bersuara.
"Karena mereka berdua masih dalam keadaan sakit dan butuh untuk istirahat, maka saya mohon kalian bisa mengakhiri wawancara ini, demi kesembuhan pasien tentunya," tambah Daren.
Pernyataan terakhir Daren sontak memberi isyarat bahwa para wartawan itu harus segera pergi meninggalkan ruangan tersebut. Demi kenyamanan bersama. Dan untung saja para wartawan pun menyadari situasi serta kondisi mereka, karenanya mereka pun segera bergegas meninggalkan ruangan di sana.
"Terima kasih, Uncle."
Selepas kepergian para wartawan, Daren menemani Alexander sarapan pagi, karena wawancara maka sarapan mereka tertunda. Karena Jane masih sedikit pusing dan sakit kepalanya untuk duduk bersandar, maka Daren meminta ijin untuk menyuapi. Alexander beserta Jane pun tidak keberatan Daren menyuapinya karena kondisi memang tidak memungkinkan. Sedangkan di GD COMPANY, pagi itu Gordon harus menemui klien untuk meeting membahas kerja sama.
***
Sore itu wanita paruh baya yang tak lain adalah Nyonya Madison, ibunda Aldrich Barayeve memutar sebuah stasiun televisi yang mengabarkan berita tentang turunnya badai salju yang mencelakai seorang ibu dan anaknya. Tampak di wajah wanita paruh baya itu sedang menyimak dengan baik berita yang disampaikan pembawa berita.
"Untung saja mereka tidak apa-apa, kasihan sekali bocah itu," gumam Nyonya Madison.
Kepala pelayan yang bernama Simon tengah berdiri tidak jauh dari tempat Nyonya Madison duduk. Sedang menemani sang majikan menonton acara televisi. Kebiasaan pria tersebut setiap kali sang majikan bersantai. Pria yang sudah mengabdi pada keluarga Madison sejak Aldrich Barayeve masih kecil, juga turut menonton acara berita terbaru tersebut.
"Bocah itu sangat tampan ya Nyonya, sekilas saya amati wajahnya mirip sekali dengan Tuan muda saat kecil dulu, maaf kalau saya lancang," ujar Simon.
Nyonya Madison seketika menoleh ke arah Simon, "Mungkin hanya sebuah kemiripan saja Simon," ujar Nyonya Madison.
"Mungkin saja Nyonya, tapi coba Anda amati lagi, wajahnya sangat mirip sekali dengan Tuan muda. Coba Nyonya lihat foto di dinding itu, Persis sekali," imbuh Simon meyakinkan.
Nyonya Madison memutar ulang berita tersebut melalui remot tv yang ada di tangannya. Kebetulan kecanggihan televisi yang dimiliki keluarga tersebut, bisa merekam dan memutar ulang acara yang berlangsung secara otomatis. Begitu juga dengan sore itu, merasa penasaran dengan perkataan Simon maka Nyonya Madison mengamati gambar yang ada di televisi dengan foto masa kecil Aldrich yang menempel di tembok di sampingnya.
"Benar sekali katamu Simon, sungguh sebuah kebetulan yang tidak biasa. Iya bukan?" Ujar ibunda Aldrich mengurai senyum mengamati bergantian gambar di layar televisi dengan foto yang terpajang dari balik bingkai di tembok.
"Benar sekali Nyonya, Tuan muda memang sangat tampan. Namun maaf saya turut prihatin dengan perceraian beliau. Mereka adalah pasangan yang baik, andai saja Nyonya Cyril mau bersabar siapa tahu Tuhan akan segera memberi beliau kejutan kehadiran seorang bayi mungil," ujar Simon.
Terlihat kesedihan dari wajah Nyonya Madison setelah Simon berkata tentang hubungan sang putra. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dibalik guratan diwajahnya tiba-tiba berubah sedih.
"Maaf Nyonya saya telah lancang membuat Anda bersedih," ucap Simon membungkuk.
"Tidak apa-apa Simon bukan salah mu, wanita itu memang tidak pantas buat Aldrich," balas Nyonya Madison.
Wajah sekilas Alexander yang baru saja dilihat oleh Nyonya Madison, rupanya sejak sore itu terus menghantuinya. Namun wanita paruh baya tersebut tak berani meyakinkan hatinya bahwa yang baru saja ia lihat adalah cucu penerus tahta kerajaan bisnis Madison Corp. Hanya sebatas penasaran.
***
BERSAMBUNG...