
"Akhirnya dia menyerah!" batin Gordon masih mematung seraya dalam hati tersenyum kemenangan.
"Yess...!" imbuh Gordon dalam hati.
"Maafkan aku, aku janji tidak akan menjauhi mu lagi. Sayang!" ucap wanita yang memeluk Gordon dari belakang seraya memanyunkan bibirnya, tak lain adalah Jane.
Kata-kata yang sedari tadi ditunggu-tunggu oleh Gordon akhirnya keluar juga dari bibir Jane sang kekasih. Pemilik GD COMPANY itu pun membalik badan dan menarik wanita di hadapannya ke dalam pelukannya, erat.
Tatapan kedua insan yang telah lama terhalang oleh kehadiran Daren, kini sangat dekat tanpa jeda. Suara tarikan napas terdengar saling memburu, kesempatan yang sangat ditunggu-tunggu Gordon tidak ingin dilewatkan begitu saja.
Layaknya Medan magnet yang saling tarik-menarik dan mendekat. Maka kedua kutub dari bibir Jane beserta Gordon bertemu di lautan rindu. Saling menyelam dan mereguk kehausan dalam balutan lembut sebuah pagutan kasih. Dihiasi deru napas hasrat yang tertahan. Gelora asmara nan penuh gejolak bersemi kembali di bawah langit yang berhiaskan salju, menjadi saksi bisu indahnya musim dingin tahun ini.
Keduanya menikmati indahnya hujan salju dalam peluk hangat Gordon di teras apartemen Jane.
"Terima kasih, sayang. Aku mencintaimu," bisik Gordon lembut mendekap tubuh Jane.
"Aku juga mencintai mu, sayang."
***
Hari itu Gordon sengaja tidak pergi ke perusahaan, ingin menghabiskan waktu bersama orang terkasihnya. Siang itu mereka bertiga masak bersama membuat roti dengan sisa bahan yang ada di lemari dapur. Tampak Jane beserta Gordon saling mencolek pipi masing-masing dengan sisa adonan hingga membuat wajah keduanya memutih. Begitu pun dengan si genius yang tak ingin melewatkan momen bahagia hari itu, wajahnya juga dipenuhi colekan adonan roti. Suara riuh canda tawa pasangan keluarga kecil itu terdengar membahana memenuhi apartemen.
Kegiatan memasak bersama telah usai dan roti yang mereka buat, siap untuk dicicipi. Gordon menyuruh Jane untuk mengganti pakaian serta membasuh wajahnya tak ketinggalan juga dengan bocah genius tersebut pergi membersihkan wajah. Sementara Gordon membasuh wajahnya dari aliran air dari kran wastafel yang ada di dapur Jane.
"Sayang kemarilah!" teriak Gordon sembari duduk di sofa panjang yang ad di depan televisi dengan sebuah piring berisi roti yang masih panas dan tiga cangkir teh hangat sebagai pelengkap momen kebersamaan siang itu.
"Sebentar sayang!" sahut Jane.
"Wah sepertinya kue buatan kita sangat enak ya, Uncle?" ujar sang genius yang mengenakan setelan piyama panjang, sedang mendekati sofa dan duduk di samping Gordon.
"Iya, sayang. Pasti lezat sekali, ini namanya adalah roti kasih sayang. Ha ha ha ha....," kelakar Gordon yang dibalas tawa kekeh oleh si genius.
Jane bergegas keluar dari kamar setelah mengganti pakaiannya dengan piyama panjang, serta membawa selimut tebal dari dalam lemari untuk mereka berlindung dari dinginnya hawa siang itu.
"Hmmm, aromanya wangi, pasti lezat nih," Jane mendekatkan Indra penciuman nya mengendus roti yang ada di tangan Gordon.
Jane naik ke atas sofa duduk di pinggir Alexander. Kini bocah genius itu ada di tengah-tengah Jane dan Gordon. Ibu satu anak itu lalu menaikkan selimut yang baru saja diambilnya. Ketiganya berlindung di balik selimut dengan menikmati roti yang mereka buat. Silih berganti ketiganya saling menyuapkan seraya menikmati tontonan film. Potret keluarga seperti inilah yang Jane harapkan selama ini. Lengkap dan penuh kebahagiaan.
Puas menyantap roti beserta teh yang dibuat. Tontonan film dari layar televisi rupanya mampu menghipnotis ketiga orang tersebut. Semua akhirnya terlelap di balik selimut dengan saling berpelukan.
***
Daren kini mulai menyibukkan diri dengan memimpin langsung perusahaan yang dirintis oleh sang kakak dua tahun lalu. Ia tinggal di sebuah apartemen yang memang merupakan tempat tinggal Gordon selama ia berada di Irlandia dulu. Bahkan demi untuk bisa segera move on dari Jane, Daren sengaja jarang melihat ponselnya. Lebih sering menggunakan telepon kantor dan apartemen jika ingin melakukan panggilan telepon.
Pagi itu Daren datang ke perusahaan lebih awal karena mau belajar menganalisa data perusahaan agar ia bisa lebih matang dalam mengelola perusahaan. Perusahaan yang didirikan Gordon itu bergerak di bidang tekstil. Dan selama ini Gordon memasrahkan perusahaannya kepada sang asisten yang bernama 'Fionnula' akrabnya dipanggil Fiola. Seorang asisten yang merangkap menjadi sekertaris sekaligus. Konon wanita hebat itu adalah sahabat baik Gordon sewaktu kuliah dulu, dan kebetulan telah kembali ke negara asalnya Irlandia untuk merawat ibunya yang sakit.
"Pagi, Tuan! Maaf sedikit terlambat!" ucap Fiola membungkuk kan badan dengan sopan.
"Pagi, Nona!" sahut Daren datar tanpa melihat wajah sekertaris plus asistennya yang baru saja tiba.
Daren masih fokus melihat laporan perusahaan dari laptopnya seraya melirik jam yang melingkar di tangan.
"Baru jam delapan dia sudah datang. Rupanya dia asisten yang sangat teladan," batin Daren tersenyum miring.
Fiola segera mengambil posisi duduk di mejanya yang berhadapan langsung dengan meja Daren.
"Apa benar dia adik Gordon? Wajahnya lebih manis dia daripada Gor," gumam Fiola membatin sembari menahan senyum.
"Tapi dilihat dari dinginnya sikap mereka yang sebelas dua belas, mirip sih. Tapi kamu harus bersiap tamat Fi mengahadapi tipe boss seperti itu. Selalu tepat waktu bahkan duluan datang ketimbang anak buahnya," gerutu Fiola dalam hati.
"Buatkan aku secangkir teh hitam!" seru Daren tiba-tiba masih tak mau menoleh ke arah sang sekertaris.
"Apa?? a-aku? maaf maksudnya, sa-ya?" Fiola kaget menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, memang ada siapa lagi di sini selain kamu. Dasar sekertaris bodoh! bisa-bisanya Kak Gor memperkerjakan sekertaris yang tidak cekatan seperti dia," gerutu Daren yang terdengar oleh Fiola.
"Dia mengataiku bodoh?? Hallo....! buka mata mu boss sombong, jika bukan wanita bodoh yang mengurus serta menjalankan perusahaan kakak kamu selama dia tidak ada siapa coba?" tanpa sadar sekertaris Daren melontarkan ungkapan yang terdengar menggerutu kesal.
"Cepat, atau aku pindah posisi kamu!" ucap Daren datar.
"Astaga Gor di mana kamu menemukan saudara tukang pemarah seperti dia!" ujar Fiola bangkit dari duduknya dengan kesal. Paginya telah merubah mood booster dia menjadi berantakan.
***
BERSAMBUNG....