
"Maafkan aku, Jane!" ucap Vincent bersimpuh memegangi kedua kaki wanita yang pernah ia sakiti dengan kebejatan napsunya.
Jane yang sedang berdiri mematung tepat di hadapan Vincent, tak bisa bergeming dan berkata apa pun. Batinnya merasa haru yang tak dapat terukir oleh sebuah ungkapan kata saja. Ternyata begitu besar kasih sayang sang putra terhadap dirinya hingga tidak membiarkan orang yang pernah berusaha menyakitinya bergerak bebas dan bernapas dengan lega.
"Terima kasih Tuhan, telah Engkau hadirkan sosok malaikat kecil menjadi penjaga yang begitu melindungiku," batin Jane tanpa sadar air matanya mulai bermuara.
"Aku lihat permintaan maaf Anda tidak tulus, Tuan!" sindir si genius melipat kedua tangannya di depan dada.
"Sial, aku sudah merendahkan harga diriku. Tapi bocah ini malah kebanyakan gaya, kita lihat saja nanti apa yang bisa aku perbuat lebih kepada kalian!" batin Vincent geram.
Tangan Jane kembali menepuk pundak sang putra, memberi isyarat untuk tidak melakukan tindakan yang lebih. Karena bagi Jane pria itu sudah mau berterima kasih telah cukup baginya.
"Sayang, sudahlah lupakan kejadian kemarin. Mommy rasa Tuan Vincent sudah menyesal dan menyadari kesalahannya," ujar Jane mengingatkan.
"I- iya benar, Saya benar-benar menyesal telah lancang kepada mu, Jane. Maafkan Aku!" ucap Vincent berpura menyesal dan menghiba.di bawah kaki Jane.
"Karena Mommy sudah memaafkan Tuan, Aku harap Anda bersedia meminta maaf dengan tulus di hadapan publik!" seru si genius datar. Sedang memberi hukuman kepada Vincent.
"Apa? Sebercanda itukah lelucon kamu bocah kecil?" tolak Vincent terlihat geram. Seketika berdiri dari berlutut.
"Tenanglah, Tuan Vincent yang terhormat! Ini tidak seberapa jika dibanding kesalahan Anda yang begitu besar. Apalagi pelanggaran yang sudah Anda sembunyikan dari hukum selama ini."
"Jeder...!" Akhirnya hal yang ditakutkan oleh si pemilik rahasia besar Vintron Company terbongkar sudah. Rahasia yang selama bertahun-tahun ia tutupi, terbongkar juga oleh si bocah genius.
"Baiklah jika itu mau kamu bocah kecil, akan aku lakukan meminta maaf terhadap ibu mu di depan awak media yang ada di luar sana. Tapi aku mohon jangan sebarkan itu, jika mau kamu aku harus minta maaf di depan paparazi, ayo kita segera ke sana!" hiba Vincent memelas.
"Meminta maaf di hadapan publik, itu adalah hukuman atas kesalahan Tuan terhadap Mommy, namun mengenai pelanggaran bisnis yang Anda lakukan, maaf itu di luar kendali saya. Biarkan pihak berwenang yang memutuskan, sebab Tuan sudah merugikan banyak orang serta banyak nyawa." tandas si genius semakin tak memberi kesempatan sang lawan untuk berkutik.
Vincent semakin geram ingin saja tangannya mencekik bocah di hadapannya. Namun senjata yang dimiliki bocah genius itu membuatnya tidak bisa bergeming sedikit pun selain menuruti apa permintaan anak tersebut. Beberapa saat kemudian semuanya berjalan menuju ruang loby di mana di depan pintu utama masih terlihat para awak media yang berkerumun, begitu pun dengan para pemegang saham dan karyawan yang sedang menunggu kepastian nasib mereka. Masih beramai-ramai memadati halaman Vintron Company.
Dengan begitu tegap, gagah serta penuh wibawa, Alexander berjalan di samping pemilik Vintron company. Diikuti Jane beserta Gordon dan juga pengawal serta asisten Vincent yang mengiringi mereka berjalan menuju halaman depan.
Melihat si pemilik perusahaan yang tengah dinantikan oleh para wartawan akhirnya keluar dan bersedia menemui mereka, maka mereka pun memberi jalan untuk mereka semua. Suara mereka yang tadinya ramai berubah hening seketika setelah kedatangan Vincent beserta rombongan Jane. Kamera pun menjepret satu per satu wajah mereka. Hingga akhirnya si pemilik perusahaan mulai angkat bicara.
"Selamat pagi semuanya. Selamat pagi juga kepada jajaran pemegang saham serta para karyawan lain. Sebelumnya saya minta maaf atas insiden pagi ini, saya berjanji akan memulihkan semuanya seperti semula."
Ucap Vincent di hadapan wartawan dan karyawan serta pemegang saham.
Terlihat beberapa di antara orang yang ada di sana saling berbisik mengenai kesalahan apa yang telah diperbuat oleh CEO Vintron Company. Apalagi di hadapan pers hingga menyita perhatian karyawan serta para petinggi perusahaan.
"Kalau boleh tahu, alasan apa yang membuat Anda harus meminta maaf di hadapan pers, Tuan?" tanya salah satu wartawan yang memberanikan diri maju untuk bertanya.
Vincent kembali terlihat menarik napas panjang saat mendapati pertanyaan dari salah satu wartawan.
"Tolong Anda jelaskan Tuan, apa alasan Anda?" tanya wartawan lainnya.
"Benar Tuan, mohon Anda memberi penjelasan apakah ini terkait perihal kabar kebangkrutan Vintron Company?" desak wartawan lain.
Satu per satu pertanyaan dari wartawan mulai melayang, menyerang ke arahnya. Membuat Vincent terlihat kalang kabut kehabisan alasan yang harus diberikan kepada wartawan. Sementara para pemegang saham juga mulai mendesaknya untuk menjelaskan semua yang terjadi pagi itu.
Alexander yang berdiri di samping Vincent, menatap ke arah CEO di sampingnya dimana wajahnya kembali terlihat pucat karena serangan pertanyaan yang bertubi-tubi ditujukan kepadanya. Dengan satu lirikan saja dari si genius, Vincent yang tadinya terdiam kehabisan kata seketika kembali angkat bicara. Sebelum si pemegang kunci rahasia dirinya membuka suara.
"Iya di sini saya ingin meminta maaf, karena saya telah berbuat khilaf. Dan di sini saya benar-benar menyesal."
"Nona Jane, bersediakah Anda memaafkan kesalahan saya?" ujar Vincent dengan tatapan memelas. Menjatuhkan harga dirinya di depan publik.
Jane yang berdiri di samping Gordon, terlihat bingung. Ia bahkan menoleh ke arah sang putra dan juga kekasihnya tersebut. Seolah meminta pendapat akan apa yang harus ia perbuat saat itu.
Melihat sang Mommy yang terlihat gugup, si genius pun memegang tangan wanita yang melahirkannya, menggenggamnya erat memberi kekuatan.
"Saya sudah memaafkan Tuan Vincent!" sahut Jane sedikit gugup.
Vincent pun mengulurkan tangan ke arah Jane sebagai simbol permintaan maaf di hadapan pers. Dan aksi keduanya pun diabadikan oleh para wartawan. Babak selanjutnya setelah permintaan maaf, maka si genius kembali beraksi. Tak lama setelah prosesi minta maaf usai polisi tiba-tiba hadir di tengah-tengah acara.
Wajah Vincent seketika pucat bak mayat hidup melihat kedatangan para polisi. Mengalihkan perhatian para wartawan.
"Apakah yang dia lakukan lagi? Kenapa ada polisi?"
***
BERSAMBUNG...