Alexander is Cumlaude

Alexander is Cumlaude
Ultimatum Nyonya Madison



"Apa rencana kamu mengenai pencarian putra mu, Al?" Nyonya Madison berdiri di belakang Aldrich yang hendak bersiap ke kantor.


"Kita bahas nanti saja Ma, Al ada rapat penting pagi ini," Aldrich berusaha menghindar.


"Mau sampai kapan kamu mengulur waktu dan membohongi diri sendiri?" hardik sang ibu.


Pria yang tengah merapikan kemeja serta dasi itu menghirup napas lalu membuang kasar, "Ma, tolong beri Aldrich waktu. Al benar-benar belum siap untuk bertemu Jane."


"Siapa yang meminta kesiapan mu? Mama tidak peduli kamu siap atau tidak, penerus Madison harus segera ditemukan!"


Nyonya Madison berlalu pergi dari kamar Aldrich setelah mengultimatum sang putra. Pagi yang seharusnya penuh semangat tanpa kehadiran wanita yang dicintainya lagi, malah semakin menghancurkan semangat Aldrich pagi itu.


"Apa aku bisa mengahadapi Jane tanpa rasa malu setelah apa yang aku perbuat padanya. Pantas jika Cyril meninggalkan aku, aku memang laki-laki bejat yang tidak pantas bersama siapa pun," batin Aldrich merutuki dirinya. Lalu meraih jas serta tasnya, kemudian menuruni anak tangga menuju ruang makan.


Di meja makan, Nyonya Madison masih memperlihatkan kemarahannya pada Aldrich. Keduanya hanya diam menikmati sarapan pagi tanpa obrolan, suara dentingan pisau serta garpu yang terdengar.


"Aldrich berangkat dulu, Ma!" pamit Aldrich seusai menghabiskan sarapannya.


Di sepanjang perjalanan menuju kantor, tanpa sengaja pandangan Aldrich tertuju pada pasangan yang baru saja keluar dari garasi mobil, sepertinya hendak bepergian.


"Cyril!" gumam Aldrich.


"Rupanya dia sudah bersama pria itu," batin Aldrich terlihat kecewa.


***


Selama meeting bersama Klien, pikiran Gordon tak hentinya untuk tidak memikirkan Jane barang sejenak. Pria pemilik GD COMPANY itu berharap meeting segera berakhir agar ia bisa segera pergi ke rumah sakit.


"Sepertinya pagi ini, konsentrasi Anda terpecah. Apa Anda sedang memikirkan sesuatu, Tuan?" tanya rekan bisnis Aldrich yang bernama Vincent.


"Tidak, hanya kurang istirahat saja," sahut Gordon.


Sebelum meeting bersama Gordon, pagi itu tanpa sengaja Vincent melihat wawancara Alexander bersama Daren yang tayang live di sebuah stasiun televisi. Dari televisi yang ada di kantornya, yang sedang diputar oleh salah satu staf.


Tampak kekagetan di wajah Gordon dengan pertanyaan Vincent yang sungguh mengejutkannya, "Dari mana Anda bisa tahu?" balas Gordon.


"Berarti rumor itu benar?"


Gordon tidak bisa lagi mengelak, sebab tanpa ia sadari jawabannya mengiyakan pertanyaan relasi bisnis di depannya itu.


"Dia memang cantik, pria mana pun pasti juga akan jatuh cinta melihatnya. Apalagi dengan kesuksesan putranya, pasti banyak pria yang berusaha mendekati."


Ucapan Vincent sontak membuat Gordon marah dan tersinggung. Seketika Gordon menarik kerah kemeja rekan bisnisnya tersebut dengan tatapan kemarahan.


"Tarik ucapan Anda Tuan Vincent, Jane wanita baik-baik. Tidak akan kubiarkan laki-laki brengsek mana pun mendekatinya. Ingat itu!" ancam Gordon wajahnya sudah sangat memerah.


Vincent. hanya menanggapi kemarahan Gordon dengan senyum menyeringai. Tangannya menepis tangan Gordon dari lehernya.


"Hei, Tuan! Kenapa Anda marah sekali. Aku lihat wanita itu tidak menanggapi Anda. Bahkan adik Anda sendiri mengatakan tidak ada hubungan spesial antara kalian, hanya sebatas rekan kerja. Apa Tuan Gordon pagi ini tidak melihat tayangan televisi?" cibir Vincent.


Pria pemilik GD COMPANY itu diam seketika seolah kehabisan kata, bagaimana rekan bisnisnya ini bisa tahu mengenai kedekatan dia dengan Jane, juga mengenai Daren.


Gordon segera meraih ponsel dan menelepon sang adik, untuk mendengar langsung apa yang sebenarnya terjadi, hingga Vincent bisa menghina dirinya dengan santai.


Entah karena ponsel Daren sengaja disenyapkan atau memang masih marah dengan sang kakak. Panggilan dari Gordon tidak dijawab oleh Daren. Hal itu semakin membuat hati Gordon memburuk. Otaknya serasa mendidih, karena emosi tanpa disadari Gordon menggebrak meja rapat di depan rekan bisnisnya tersebut.


Vincent sendiri juga tak kalah kaget, ia sama sekali tidak menyangka sindirannya akan membangunkan kemarahan Gordon. Pria ini pun beranjak bangun dengan amarah meninggalkan ruangan kerja Aldrich. Tanpa sepatah kata.


Masih dengan kemarahannya, Gordon bergegas mempercepat langkah, menuju parkiran. Tak peduli di luar cuaca sangat dingin sekali. Suasana salju masih menyelimuti kota tersebut. Dan pria yang diliputi kemarahaan itu melajukan mobilnya kencang menuju rumah sakit.


***


BERSAMBUNG...