Alexander is Cumlaude

Alexander is Cumlaude
Kekesalan Jane



Hari terus berganti sedang waktu juga kian berjalan. Setelah keputusannya untuk menghindari Jane beserta Alexander sudah bulat, maka seusai berbincang dengan sang kakak di taman rumah sakit. Keesokan harinya Daren pergi mengunjungi Irlandia, tempat anak cabang perusahaan Gordon yang baru didirikan sekitar dua tahun lalu.


"Apa kamu yakin dengan keputusan mu ini Ren? Apa tidak sebaiknya menunggu mereka keluar dari rumah sakit?" tanya Gordon saat mengantar sang adik ke sebuah bandara saat itu.


"Tidak, terima kasih, Kak. Sampaikan saja salamku kepada tampan. Aku akan mengambil alih dan mengelola perusahaan kita di sana," sahut Daren disertai senyum.


Terlihat dari wajah Daren sebuah ketulusan yang sengaja dia korbankan demi melihat sang kakak bahagia. Dan tekadnya benar ia lakukan. Dengan melakukan penerbangan ke Irlandia mengelola perusahaan yang ada di sana.


Gordon memeluk dan melepas kepergian sang adik penuh haru. Ia sama sekali tidak menyangka, kehadiran Jane akan mampu membuatnya harus berpisah dengan sang adik. Orang satu-satunya yang ia miliki saat ini setelah kepergian kedua orang tuanya. Di dalam bandara kakak beradik itu melepas pelukan perpisahan mereka. Bagi Daren itu adalah kali pertama ia melakukan perjalanan jauh dan pisah dari sang kakak dengan waktu yang lama.


"Selamat jalan, Ren. Semoga bahagia selalu dan menemukan wanita yang baik," batin Gordon melambaikan tangan pada sang adik yang sedang memasuki ruang chek in.


"Semoga bahagia, Kak." batin Daren membalas lambaian sang kakak dengan senyuman.


***


Pagi ini adalah hari kepulangan Jane dari rumah sakit. Juga merupakan hari kedua kepergian Daren ke Irlandia. Setelah dirawat hampir satu Minggu di ruang VVIP. Dokter akhirnya membolehkan Jane pulang, karena luka di kepalanya sudah sembuh serta telah lepas bekas jahitnya.


"Selamat pagi Jane, tampan!" sapa Gordon saat masuk ruangan ibu dan anak tersebut.


"Pagi Uncle Gor!" sapa balik oleh Alexander tersenyum ke arahnya.


"Selamat pagi juga," balas Jane lirih.


Pagi itu Gordon bersikap datar terhadap Jane. Setelah penolakan Jane beberapa waktu kemarin ia tidak lagi memaksakan wanita itu untuk memaafkannya.


"Sudah sarapan kah tampan?" Gordon mencium pucuk kepala Alexander dan duduk di sampingnya.


"Belum, Uncle. Sebentar lagi perawat datang membawa sarapan," sahut Alexander.


Keduanya lalu mengobrol tentang kuliah si bocah genius itu yang sudah tertinggal banyak mata pelajaran tentunya. Tampak asyik layaknya obrolan sang ayah kepada anaknya. Sedang Jane yang berada di bed sebelah hanya bisa menatap dan mendengar obrolan mereka.


Benar saja ucapan bocah genius itu, selang beberapa menit kemudian perawat datang membawa troli berisi sarapan pagi mereka. Gordon menyuapi Alexander kemudian berganti menyuapi Jane.


"Bisa kah membantuku ke kamar mandi? Aku mau mandi, dan tolong ambilkan pakaianku!" seru Jane minta tolong.


Pria yang sedang duduk bersama si genius itu menoleh ke arah Jane lalu mendekatinya, "Bukannya dokter bilang hari ini kami sudah sembuh dan dibolehkan pulang. Bisa kan ambil sendiri?" bisik Gordon.


Dalam hatinya Jane merasa kesal karena merasa diabaikan oleh Gordon. Dan ia berusaha bangun dari kasurnya sendirian dan mengambil pakaian lalu masuk ke dalam kamar mandi. Di bawah guyuran air dari shower, Jane membasahi tubuhnya yang hampir satu Minggu tidak terkena air.


Tak lama itu Jane keluar dari kamar mandi, sedang Gordon hanya melirik acuh ke arah wanita yang berdiri di depan pintu kamar mandi tersebut, "Astaga hanya dia yang berhasil membuat imajinasi ku berkelana. Sumpah Jane cantik sekali setelah mandi. Rambut itu, bibir itu. Uuuurgh....!" batin Gordon mulai naik turun jakunnya, serta menelan ludah.


Si bocah genius di samping Gordon terlihat sudah rapi dan berganti pakaian dengan dibantu Gordon. Tak lama lalu perawat datang membawa kursi roda untuk membantu Jane keluar dari kamarnya.


"Silahkan duduk Nyonya, biar saya bantu!" ucap perawat.


"Tidak usah, Suster. Saya bisa berjalan. Biar saya jalan kaki saja," tolak Jane sopan.


Karena Jane tidak mau diantar ke luar dengan kursi roda, maka perawat pun membawa kursi roda itu kembali. Setelah Gordon membantu mengemas barang-barang pasien. Ketiganya keluar dari kamar perawatan VVIP dan berjalan menuju parkiran. Sementara si bocah genius sedang digendong oleh Gordon. Keduanya berjalan sambil sesekali bercanda ria.


Jane yang merasa diacuhkan terlihat kesal melihat keakraban putranya dengan pria yang dicintainya, berkali-kali di dalam hatinya mendengkus kesal.


"Aku pikir dia akan memohon-mohon meminta maaf lagi, dasar pria angkuh," batin Jane mendengkus kesal.


Gordon sempat melihat mimik wajah Jane yang kesal dari kaca koridor saat mereka berjalan. Ia pun dalam hati tersenyum dan ingin melihat sampai kapan wanita keras kepala itu menurunkan egonya dan kembali memanggilnya sayang.


Sampai di parkiran, Gordon sengaja mendudukkan si genius di jok depan samping dia. Dan Jane duduk di bangku belakang, karena masih ingin melihat aksi cemburu Jane sekali lagi. Kesengajaan Gordon ini semakin membuat hati Jane kesal bukan main. Setelah Gordon menghidupkan mesin mobil lalu melaju menuju arah apartemen Jane. Setibanya di garasi, Jane segera keluar dari mobil tanpa menunggu Gordon membukakan pintu untuknya, lalu membanting pintu mobil dengan keras.


"Braaak!"


Gordon yang baru saja berhasil membuka seat belt pun tersenyum miring mentertawakan kemarahan kekasihnya.


"Alex, masuklah!" seru Jane dengan nada kesal.


Si genius pun segera masuk apartemen setelah Gordon berhasil membuka pintu. Dan saat hendak membuka bagasi, tiba-tiba sebuah tangan memeluknya dari belakang. Menyandarkan kepalanya pada punggung Gordon.


"Akhirnya dia menyerah!" batin Gordon masih mematung seraya dalam hati tersenyum kemenangan.


"Yess...!" imbuh Gordon dalam hati.


***


BERSAMBUNG....