
Seusai berkuda bersama, Daren dan Alexander berjalan menuju Jane dan Gordon yang tengah duduk di atas tikar, dengan beberapa makanan di tengahnya.
"Mommy, haus," ucap Alexander mendekat. Jane menuang segelas jus jeruk dan memberikannya kepada sang putra yang kehausan.
"Pelan-pelan Tampan!" Celetuk Gordon mengusap pundak Alexander pelan. Jane juga menuang segelas jus jeruk untuk Daren. Hendak menuang gelas untuk Gordon, Jane terlihat ragu dan gugup. Melihat Jane yang seperti canggung, Gordon pun meraih gelas dari tangan Jane dan mengisinya dengan jus yang sama. Wanita itu pun tersipu malu, sikapnya itu ditangkap jelas oleh Gordon.
Karena waktu yang terus bergulir, rasa lapar pun mulai terasa. Dan semuanya menikmati sarapan pagi bersama dengan menu sederhana masakan Jane.
"Wah, masakan kamu lezat sekali, Sayang!"
"Uhukkk....!" ucapan sayang dari mulut Daren, membuat Gordon kaget sehingga tersedak dan wajahnya terlihat memerah.
Jane dengan sigap menuang air ke dalam gelas untuk Gordon. Seraya membantu menepuk pundak Gordon perlahan. Sikap reflek Jane ini sempat dilihat oleh Daren. Dan membuat pria ini merasa iri akan perhatian Jane kepada sang kakak.
"Kenapa kepada Kak Gor, Jane begitu perhatian. Apa jika aku yang demikian Jane juga akan bersikap yang sama?" batin Daren mengawasi gerak-gerik Jane yang terlihat salah tingkah. Tak hanya Jane yang terlihat salah tingkah, begitu pun halnya dengan Gordon, pria ini sangat terlihat canggung saat Jane menepuk pundaknya. Karena Gordon sempat melihat tatapan cemburu dari sang adik.
"Sayang, makan yang banyak ya! Ini kesukaan Alex loh, di hari spesial ini, Mommy sengaja memasak ini khusus buat Sayang." ujar Jane dengan gembira. Mengambil makanan untuk sang putra.
Sementara melihat Jane sedang mengambil makanan untuk Alexander, kedua pria kakak beradik itu saling menatap ke arah Jane, dan lagi-lagi membuat wanita yang ditatap, merasa salah tingkah. Sehingga memilih urung untuk mengambilkan makanan untuk keduanya.
"Kalian ambillah sendiri!" seru Jane canggung.
Tak lama kemudian ketiganya menikmati masakan buatan Jane dengan lahapnya. Canda tawa ria juga menyelingi liburan mereka hari itu. Semua terlihat gembira sekali, terlebih adalah Daren dan Alexander.
"Selamat ulang tahun, Tampan!" ucap Gordon seusai makan bersama, sembari memeluk tubuh mungil Alexander dari belakang, layaknya pelukan seorang ayah untuk putranya.
"Apa? hari ini tampan berulang tahun?" Daren terbelalak kaget dengan ucapan sang kakak.
"Iya, Uncle Daren. Kemarin adalah hari ulang tahun aku. Semalam Mommy merayakannya denganku. Uncle Gor juga kasih kado kemarin."
Ungkap Alexander bercerita, Daren yang baru saja mendengar kabar itu segera meraih Alexander dari tangan sang kakak, berganti memeluk dan mencium kedua pipi bocah tersebut. Tak mau kalah dengan sang kakak.
"Tidak sengaja Tuan Gor mendengar saat aku berbincang dengan Nyonya Rean," Jane berusaha membantu Gordon beralasan, membuat Gordon juga merasa penasaran kenapa Jane melakukan hal itu.
"Apa dia sudah tahu kalau si pengirim kue dan ucapan itu aku?" batin Gordon menatap netra Jane.
"Oh, seperti itu rupanya. Baiklah, tampan, karena Uncle belum kasih kado buat tampan, bagaimana kalau hari ini Uncle ajari berkuda. Oke?"
Ucapan Daren segera diiyakan oleh bocah kecil tersebut, beranjak mengikuti langkah Daren menuju istal. Daren memilih kuda warna putih kesukaannya tiap kali ia berkuda bersama sang kakak di situ. Sementara kedua orang tengah berkuda, Jane membereskan perlengkapan makan dengan dibantu Gordon.
"Terima kasih!" ucap Gordon datar.
"Terima kasih untuk apa,Tuan?"
Belum juga menjawab pertanyaan Jane, Gordon beranjak bangun dari duduknya dan berjalan menuju istal.
"Dasar wanita bodoh, sama sekali nggak peka!"
Gerutu Gordon kesal.
Jane tersenyum melihat sikap datar Gordon, menatap punggung pria yang dicintainya memasuki istal. Dan menarik kuda warna hitam, kemudian menaikinya. Kini tinggal Jane seorang diri yang tengah berjalan mengelilingi kebun teh.
Semua para pria asyik berkuda, saat Jane berjalan tanpa melihat ke bawah tiba-tiba kakinya tergelincir di sebuah parit di pinggir kebun teh.
"Auw....!" Pekik Jane mengaduh kesakitan, kaki Jane rupanya mengenai sebuah kayu runcing yang ada di pinggiran parit. Darah segar pun mengucur dari kaki wanita tersebut. Membuatnya tidak bisa berjalan.
"Tolong....! Toloooong....!"
****
BERSAMBUNG....