Alexander is Cumlaude

Alexander is Cumlaude
Makan Malam Di Restoran



Semenjak ia sadar dan menyesali kebejatannya terhadap Jane, Aldrich rupanya diam-diam sering melihat foto Jane saat berada di ruang kerjanya. Foto yang ia ambil dari data karyawan dan disimpan rapi dalam diary miliknya. Dan malam itu saat Aldrich kembali berdebat dengan Nyonya Madison, rasa penyesalan pun kembali bergelayut membuatnya membuka lagi diary tersebut.


"Aku sungguh sangat menyesal, Jane. Tolong maafkanlah aku!" batin Aldrich mengusap foto usang Jane.


"Sikapku sungguh sangat biadab, hanya demi kehormatan dan nama baik, aku telah membuat hidupmu sengsara. Apakah kamu masih membiarkan anak ku hidup," imbuhnya.


Malam itu Aldrich terus berusaha melawan dan berperang dengan gejolak batinnya. Sebab seiring berjalan waktu, tidak mungkin juga ia akan terus bersembunyi dengan rasa pecundang yang dimilikinya. Bom waktu kapan saja bisa meledak dan menghantarkan masa lalunya kembali ke dalam hidup seorang Aldrich Barayeve.


"Benar kata Mama, mau atau pun tidak, aku harus siap dan mencari Jane. Mungkin saja anak ku masih hidup. Bagaimana pun juga dia adalah pewaris Madison group," gumam Aldrich sebelum menutup mata dan tidur.


***


Malam itu, Jane tampak bersiap berdandan tampil cantik untuk acara makan malam di luar bersama suami dan putra tercinta. Dengan balutan gaun warna merah maroon, dengan rambut yang digerai, semakin menambah kecantikan Jane. Sementara si genius malam itu mengenakan setelan jas warna navy. Sekilas wajah bocah genius itu jika diperhatikan mirip sekali dengan Aldrich. Mulai dari gaya berpakaian, cara berbicara serta semua tingkah lakunya adalah duplikat nyata versi Aldrich Barayeve.


"Ayo, Mom!" Alexander berjalan menggandeng tangan sang Mommy. Menuju sebuah mobil yang baru saja datang menjemput mereka. Sopir perusahaan GD COMPANY.


"Terima kasih!" ucap Jane dan Alexander bergantian, saat sang sopir membuka pintu untuk mereka. Dan tak lama kemudian sopir tersebut membawa keduanya ke sebuah restoran bintang lima yang ada di kota tersebut, seperti perintah dari Gordon.


"Apa Daddy sudah ada di sana, Mom?" tanya si genius saat turun dari mobil.


"Iya, Tuan muda. Tuan Gor baru saja tiba dan sudah ada di dalam sana."


Jane dan Alexander berjalan masuk ke dalam restoran. Beberapa pasang mata melihat ke arah keduanya yang memasuki pintu. Bisik-bisik para pengunjung restoran pun mulai bermunculan.


"Bukankah itu bocah genius yang sering ada di pemberitaan?"


"Hei lihatlah, itu bocah ajaib di kota ini."


"Iya benar itu Alexander bersama ibunya."


Jane bersama sang putra berjalan menuju lantai tiga. Tempat yang sudah dipesan oleh Gordon. Sebuah tempat yang lebih tertutup, jauh dari keramaian pengunjung namun di dalamnya penuh dengan fasilitas yang cukup membuat mata menjadi hijau.


"Wahhh, restoran ini indah sekali tempatnya," decah kagum dari bibir si genius. Menatap ke sekeliling ruangan tersebut.


"Hei sayang!" sapa Gordon menyambut kedatangan sang istri bersama putra tersayang.


"Helo Daddy!"


Gordon memeluk Jane lalu berganti memeluk sang putra.


Ketiganya lalu mengambil duduk dan bersiap makan malam, sembari menunggu pelayan datang mengantar pesanan. Alunan musik dari biola yang sengaja dipesan khusus oleh Gordon turut meramaikan suasana makan malam pertama keluarga bahagia itu. Tak hanya itu saja, di sela sela lantunan musik biola, Gordon sengaja mengajak Jane berdansa dan menghadiahinya sebuah kalung berlian limited edition.


"Kenapa harus hadiah semahal ini, sayang?" mulut Jane ternganga melihat perlakuan sang suami yang begitu memanjakan dirinya. Memberinya hadiah sebuah kalung berlian.


"Itu adalah kado kecil pertama dariku, sayang. Apa kamu menyukainya?"


Tak hanya Jane saja yang menerima kado spesial dari Gordon, namun si genius juga mendapat kado berupa sebuah jam tangan beserta iPhone keluaran terbaru di negara tersebut.


"Terima kasih, Daddy!" Alexander menghadiahi Gordon sebuah kecupan hangat di kening pria tersebut sebagai tanda terima kasihnya.


Setelah acara dansa usai, Gordon memasangkan kalung berlian tersebut di leher Jane. Beberapa menit kemudian pelayan datang dan ketiganya tampak lahap menikmati hidangan dari restoran tersebut. Suara canda tawa sesekali terdengar riuh memeriahkan acara makan malam keluarga kecil Gordon.


***


"Permisi, Tuan, Nyonya." suara seseorang pria yang tiba-tiba menghampiri meja mereka.


"Iya, ada yang bisa saya bantu?" tanya Gordon tercengang dengan kedatangan pria tersebut.


"Istri saya kebetulan saat ini sedang mengandung Tuan. Dan dia sangat ingin bisa berfoto dengan putra Anda. Jika diijinkan bolehkah kami berfoto sebentar dengan putra Tuan?" ujar pria di hadapan Gordon.


Jane, Gordon, dan si genius. Ketiganya saling bersitatap seolah saling bertanya dan meminta jawaban. Lalu Gordon sebagai kepala keluarga sekaligus pria yang bertanggung jawab atas keselamatan kedua orang di hadapannya itu, unjuk suara.


"Semua keputusan saya serahkan pada putra saya," timpal Gordon.


"Sayang apa kamu bersedia memenuhi keinginan istri dari Bapak ini?" Seketika si genius mengangguk dan bangkit dari duduknya.


"Aku bersedia Daddy. Di mana istri Bapak?" tanya si genius.


"Baiklah, sebentar Tuan biar saya panggil istri saya," pamit pria itu seraya bergegas menemui sang istri yang masih duduk di kursinya.


Dari kejauhan seorang wanita yang diperkirakan tengah mengandung dengan usia kehamilan sekitar enam bulan. Berjalan dari lantai bawah dengan dituntun suaminya menuju meja Alexander.


Gordon beserta Jane pun menyambut hangat kedatangan pasutri tersebut. Dan mempersilahkan duduk satu meja dengan mereka.


"Silahkan duduk, Tuan, Nyonya!" seru Jane ramah.


"Terima kasih, Nyonya, Tuan. Maaf kami telah mengganggu acara makan malam Anda sekalian," ujar wanita hamil tersebut.


"Tidak usah sungkan, Nyonya. Mari silahkan berfoto dengan putra kami."


Si genius lalu berdiri, mengambil posisi di tengah pasutri yang tengah hamil tersebut. Ketiganya berfoto dengan Gordon sebagai juru kamera. Si bumil tak puas hanya berfoto bertiga dengan bocah genius tersebut. Ia pun mengajak Jane beserta Gordon untuk turut serta berfoto. Dan kali ini mereka meminta bantuan pelayan untuk mengambil gambar dan mengabadikannya dari kamera bumil.


Atas ajakan Gordon dan Jane, pasangan pasutri itu pun memenuhi ajakan mereka dan duduk dalam satu meja dengan mereka. Kembali melanjutkan makan malam. Wajah bahagia pun terpancar dari wajah pasangan suami istri yang tengah dikaruniai seorang bayi oleh Tuhan dalam kandungannya tersebut.


***


BERSAMBUNG....