Alexander is Cumlaude

Alexander is Cumlaude
Ketakutan Jane



Malam itu cuaca benar-benar terasa dingin sekali, untuk mengurangi rasa dingin Jane sengaja menyalakan perapian untuk menghangatkan ruangan. Ia duduk selonjor di sofa dengan selimut tebal serta baju hangat yang menutupi tubuhnya. Sementara sang putra tengah sibuk dengan mainan barunya. Menciptakan sebuah virus yang sengaja dibuat untuk rencana balas dendamnya terhadap pria yang telah berani menyentuh sang Mommy dengan kurang ajar.


"Ting tong....!" seorang pria tengah berdiri di depan pintu.


Mendengar suara bel berbunyi, Jane yang tengah berbaring di atas sofa kembali dihinggapi rasa takut. Jantungnya berdetak kencang seakan baru saja usai melakukan senam. Ada perasaan takut untuk membuka pintu. Sampai berulang kali bel berbunyi Jane masih tetap diam mematung di atas sofa. Hingga membangunkan si genius yang sedang asyik di depan layar laptop.


"Siapa yang memencet bel Mom? Kenapa Mommy tidak membukanya?" tanya si genius berdiri di depan Jane. Sehingga sorot ketakutan yang terlihat jelas dari dalam diri Jane tampak nyata di mata Alexander.


"Emmmm...., en- entah lah sayang. Mommy tidak tahu siapa yang datang. Abaikan saja itu tidak penting, kembalilah ke kamar mu!" seru Jane menjawab dengan bibir bergetar.


"Mommy terlihat ketakutan? Ada apa Mom?" selidik si genius. Sementara di luar bunyi bel masih terus berbunyi.


Alexander berjalan menuju arah pintu, dan seketika bibir Jane melarangnya, "Stop! Alex. Di -dia CEO pshycopat jangan....!"


Langkah Alexander terhenti menoleh ke arah Jane, "Mommy tenanglah, biar Alex membukanya," sahut Alexander dengan santai melanjutkan langkahnya membuka pintu. Karena bel tidak hentinya bersuara.


"Ceklek...!" pintu terbuka.


"Tampan! Kenapa lama sekali membuka pintu. Apa kalian sudah tidur?" ucap pria yang berdiri sedari tadi di depan pintu, segera masuk karena merasa khawatir.


"Sayang, apa kamu sakit?" sapa Gordon menghampiri sang kekasih.


Wanita yang sedari tadi diliputi ketakutan, segera memeluk tubuh pria yang baru saja datang di depannya dengan tangis yang kembali pecah, "Hiksss...!"


Alexander masih berdiri di depan Jane yang tengah memeluk Gordon, seolah menjadi penonton di sana. Sedang suara tangisan sang Mommy membuat bocah delapan tahun yang memiliki otak superior, tampak mengeraskan kedua tangannya mengepal layaknya keras batu karang yang siap menghantam lawan kapan saja.


"Aku tidak akan membiarkan bajingan itu tidur dengan nyenyak, dia harus membayar tunai tangis dan kesedihan Mommy!" batin si genius penuh emosional.


"Ceritalah sayang, apa yang sudah terjadi? Nyonya Rean bilang Tuan Vincent menemui mu dan bersikap kurang ajar padamu," tutur Gordon.


Jane masih larut dalam Isak tangisnya, tak kuasa menjawab semua pertanyaan sang kekasih dan sang putra. Ia berniat menyembunyikan semua dari Gordon. Namun keadaan rupanya meminta ia untuk bercerita.


"Mommy jangan takut lagi ya? sekarang ada Alex dan juga Uncle Gor yang akan menjaga Mommy di sini," ujar si genius.


Setelah sang putra kesayangan memberinya kekuatan, bibir Jane pun akhirnya mulai bersuara. Menceritakan kronologis kejadian nahas tadi pagi yang hampir saja membuat ia ternodai untuk kedua kalinya sepanjang hidup. Bahkan dari kejadian tadi pagi itu trauma masa lalu Jane kembali terekam dalam ingatan saat Aldrich ayah biologis si genius merenggut paksa kehormatan miliknya satu-satunya. Dan membuangnya secara biadab tak berperikemanusiaan. Jauh di sebuah negara yang sama sekali tidak ia tahu di mana ia dibuang.


Cerita Jane malam itu semakin menyulut kemarahan Alexander sebagai seorang putra. Meski usianya terbilang masih sangat muda dan tidak sampai nalarnya untuk memikirkan masalah orang dewasa. Tapi dengan kelebihan yang Tuhan beri pada diri bocah itu membuatnya mengerti seketika apa yang terjadi dan kenapa pria gila itu menemui sang Mommy.


"Ini aku bawakan makan malam untuk kalian. Kita makan bersama, setelah itu kamu beristirahat lah sayang," ujar Gordon beranjak bangun menuju dapur menyiapkan makan malam.


Gordon adalah seorang pria yang sudah terbiasa menyiapkan semua kebutuhan dirinya sendirian. Dan jika libur tiba ia pun sering menghabiskan waktu di dapur untuk memasak. Jadi hal memasak dan lainnya ia sudah terbiasa.


"Tampan, apa mau Uncle suapi?"


"Tidak usah Uncle, Uncle suapin saja Mommy. Dan temani Mommy malam ini di sini," sahut Alexander.


"Baiklah, makanlah sayang!"


Ketiganya pun tampak menikmati makan malam yang dibawakan oleh Gordon. Dan seperti keinginan sang genius, ia menyuapi Jane hingga wanita di depannya itu merasa sangat kenyang. Dan seusai makan malam, Alex berpamit ke kamar, membiarkan kedua orang dewasa itu untuk saling mengobrol versi mereka pribadi.


"Selamat tidur tampan, semoga mimpi Indah!" ucap Gordon mengecup pucuk kepala si genius.


Berganti Jane juga memeluk sang putra dan kembali ke kamar berpamit tidur.


Setelah Alexander pergi ke kamar, Gordon memeluk Jane dari belakang, duduk di atas sofa. Memainkan rambut Jane dan membelainya lembut sembari menyanyikan lagu kesayangannya agar wanita dalam pelukannya itu terlelap. Malam itu Gordon menginap di apartemen Jane agar tidak diganggu oleh si pshycopat.


***


BERSAMBUNG...