Alexander is Cumlaude

Alexander is Cumlaude
Pingsannya Nyonya Madison



Melihat pria yang berdiri mematung selama beberapa menit, bocah genius itu semakin tertantang untuk mengenal lebih jauh sosok pria yang memperkenalkan dirinya dengan nama Aldrich Barayeve, karenanya Alexander berjalan naik ke atas podium tanpa diminta. Berdiri tepat di samping Aldrich, menyisakan kekagetan yang luar biasa bagi Jane, Gordon, Madison, juga seluruh undangan.


"Selamat pagi, Tuan. Senang bisa bertemu Anda langsung. Perkenalkan saya Alexander Ramsay, mahasiswa dari universitas Teknologi Berlin!" ujar si genius dengan lantang, mengulur tangan pada Aldrich.


Sungguh bagai sebuah tamparan keras yang harus Aldrich terima saat itu, harus berada satu tempat yang sama bersama malaikat kecil yang begitu tampan dengan segala aura berselimut kasih sayang. Sosok yang tak diinginkan beberapa tahun silam kini kehadirannya sungguh nyata adanya. Hadir sebagai pembalasan akan karma dari masa lalunya.


"Anak itu! si genius...!" gumam nyonya Madison ternganga saat bocah delapan tahun itu berdiri tegak di samping sang putra.


"Oh Tuhan, sungguh mereka bagai pinang dibelah dua. Wajah itu, mata itu, senyumnya. Semua sama dengan Aldrich!" gumaman nyonya Madison nyaris terdengar oleh undangan di sampingnya.


Para awak media tak ingin melewatkan pemandangan memukau pagi itu, mungkin bagi mereka yang tidak mencermati kesamaan mereka, akan terlihat biasa saja. Hanya mata jeli saja yang bisa melihat kesamaan dari keduanya.


"Tuhan...! Kenapa Alex naik ke sana?" gumam Jane lirih, mulai dikuasai ketakutan akan kehilangan putra semata wayangnya.


"Tenang saja sayang, kita lihat apa yang akan terjadi. Percayalah, putra kita, dia tidak akan membuat kita kecewa," ujar Gordon menepuk pundak Jane.


"Ikatan darah tidak akan pernah bisa dibohongi, dia akan mencari satu sama lain. Entah sekarang, esok, atau nanti. Karena memang begitulah kodratnya, darah lebih kental dari air," imbuh Gordon.


Pria nomor satu terkaya di kota tersebut, masih enggan angkat bicara. Kejutan yang Tuhan kirim terasa mengagetkan, ingin kedua tangan itu menyambut serta merengkuh tubuh mungil sang malaikatnya. Namun sayang, kekuatan untuk itu tidak Aldrich miliki. Hanya buliran benda cair yang mewakili akan rasa penyesalan yang tak bisa terucap.


"Ini Papa, Nak! Kemarilah! Peluk, Papa, Nak!" batin Aldrich berurai air mata.


Podium tempat mengisi acara, mendadak menjadi arena haru biru. Pertemuan ayah dan anak yang secara tidak sengaja dipertemukan oleh takdir. Menjadi tontonan ratusan pasang mata. Nyonya Madison kian penasaran, gerangan apa yang sudah membuat sang putra mematung layaknya arca. Wanita paruh baya itu segera menaiki podium, berdiri sejajar di samping si genius.


"Jederrr...!"


Gemuruh suara kilatan hati Nyonya Madison bersuara saat melihat wanita yang sedari tadi dicarinya, duduk dengan tenang dipenuhi ulasan senyum menyorot ke arahnya berpijak kala itu.


"Ja- Jane...!" ucap Nyonya Madison terbata, terdengar menggaung membahana dari pengeras suara. Menyisakan riuh bagi undangan yang hadir saat itu.


"Hei, ada apa dengan mereka? Kenapa wajah mereka begitu kaget, apa yang telah terjadi?" bisik nada sumbang dari undangan. Tak hanya itu saja, beberapa di antaranya juga turut berbisik-bisik.


"Aaaahhh....!" pekik seorang wanita paruh baya memegangi dadanya sebelum ia menutup mata.


"Ma, Mama bangun, Mama....!" teriak Aldrich segera menghampiri tubuh sang mama yang belum sempat ia tangkap, sehingga terjatuh di atas lantai berlapis red karpet.


Ingin Jane menarik sang putra dari atas sana, namun sang suami melarang untuk itu. Gordon tidak ingin kepanikan Jane mengungkap siapa jati diri Alexander sebenarnya kepada seluruh khalayak. Jane pun terpaksa mengikuti saran suaminya, tetap membiarkan Alexander berdiri di atas podium.


Tak lama berselang setelah kepanikan menguasai Aldrich, ambulans datang bersama petugas. Segera menggotong tubuh nyonya Madison ke atas keranda dan diusung ke atas brankar di dalam mobil ambulans. Sebelum nyonya Madison dilarikan ke rumah sakit, Aldrich terlebih dulu meminta maaf atas kejadian tidak mengenakkan yang terjadi pagi itu, lalu ia pun berpamit dan meninggalkan mimbar.


"Mohon maaf untuk kejadian barusan, untuk mempersingkat waktu, bagaimana kalau kita undang kembali para calon mahasiswa ZahLon naik ke atas untuk saling berkenalan," ujar profesor yang bertugas mengisi acara.


Seketika itu juga hati Jane merasa lega, namun ia tetap cemas sebab keluarga Madison telah mengetahui kehadiran dirinya bersama sang putra. Dan hal itu Jane rasa adalah sebuah ancaman bom waktu yang kapan saja siap mengambil paksa si genius darinya. Ditambah jika keluarga Madison meminta untuk dilakukan tes DNA.


"Tamatlah kau Jane, siap-siap dirimu kehilangan putra mu," batin Jane mulai dipenuhi pikiran pikiran buruk.


"Tidak perlu secemas itu kamu sayang! Sekuat tenaga tidak akan kubiarkan putra kita dirampas oleh keluarga mereka begitu saja," tandas Gordon.


"Ta- tapi mereka telah melihatku. Andai aku berdiam di hotel, mungkin hal ini tidak akan terjadi. Semua ini salahku!" ucap Jane semakin ketakutan.


"Honey, stop! Jangan biarkan ketakutan terus menghantui jiwa mu. Ada aku sayang, Alex itu putraku bukan putra si brengsek itu!" kecam Gordon geram.


Detik demi detik acara perkenalan usai, dan acara pun ditutup. Seluruh undangan mulai meninggalkan arena acara satu persatu. Menyisakan pasangan yang masih duduk santai di kursi tamu.


"Maafkan Alex, Mommy!" ucap bocah genius menyesal, dengan wajah tertunduk mendekati Jane dan Gordon.


Ibu satu anak yang sedang duduk bersama sang suami, menyambut kehadiran sang putra dengan pelukan hangat. Sama sekali tidak mengeluarkan kata kemarahan sedikit pun dari bibirnya. Justru wanita itu meminta maaf dalam tangisnya yang sedari tadi sudah ia tahan dan kini tidak bisa lagi dibendung agar tidak pecah.


"Hiks...hiks..., maafkan Mommy sayang!" bisik Jane.


Sementara sasana telah kembali sepi hanya ada mereka bertiga, rupanya tanpa ketiga orang itu sadari, seorang wartawan yang tadi mengabadikan Aldrich saat berdiri di atas podium bersama Alexander, kembali mencuri potret mereka bertiga. Sepertinya wartawan itu mulai mengendus kejanggalan dari kejadian pagi menjelang siang kala itu yang tidak semua orang sadari.


"Ini baru berita menarik, Yess...!"


***


BERSAMBUNG....