
"Ting...!" pintu lift terbuka.
Kedua Insan yang sedang asyik menikmati ciuman hangat, gelagapan seketika dan menyudahinya. Seorang pria yang urung pergi ke Coffe shop, berdiri di depan pintu lift dan menyaksikan semuanya.
Daren segera membalik badan dan meninggalkan perusahaan dengan dipenuhi kekecewaan, terus berjalan mempercepat langkahnya. Tak menghiraukan teriakan Gordon yang memanggilnya. Apa yang dilihatnya pagi itu, sudah menjelaskan dan menjawab semua keanehan perubahan sikap Jane. Kembali memasuki mobilnya, Daren mengemudikan dengan kecepatan tinggi.
Tak ingin terjadi sesuatu dengan sang adik satu-satunya, Gordon juga menyusul Daren dengan mobilnya. Kedua mobil mewah yang terbilang sama-sama keluaran terbaru itu tampak berkejar-kejaran. Daren sama sekali tak memberi celah kepada Gordon untuk menyalip dan menghentikannya.
"Ciiiiiit...!" suara kencang rem mobil Daren dan Gordon berbunyi bersamaan.
Sebuah truk besar dari arah berlawanan nyaris menghantam mobil Daren, di mana mobil Gordon juga tengah berbaris di belakang mobil Daren. Keduanya sama-sama terhenti dan menarik napas panjang. Gordon segera keluar dari mobil dan menghampiri mobil Daren.
"Apa kamu mau mati, hah? Bagaimana aku menepati janjiku kepada Mama Papa kita untuk menjagamu?"
Suara teriakan layaknya bariton keluar dari bibir Gordon seraya mencekal kerah kemeja Daren. Wajah penuh kemarahan terlihat jelas dari Gordon, karena ia tidak bisa membayangkan jika truk barusan benar-benar menghantam mobil Daren.
Daren menatap Gordon nanar, namun kemarahannya sirna seketika tatkala wajah Gordon berganti dengan amarah yang menandakan sangat mengawatirkan dirinya. Sebagai seorang kakak, Gordon sangat bertanggung jawab terhadap keselamatan Daren dan itu sudah ia lakukan sejak kedua orang tuanya meninggal.
"Maaf!"
Hanya itu lah kata yang keluar dari mulut Daren.
Dengan raut kecewa Daren meninggalkan sang kakak yang masih mematung di tepi jalan, mengawasi mobilnya hingga benar-benar menghilang.
"Maaf kan aku Daren!" gumam Gordon yang mulai berkecamuk dengan rasa bersalahnya.
Pagi yang seharusnya menghadiri acara meeting, mendadak semua jadwal dibatalkan oleh Gordon. Semua pikirannya berubah kacau. Batinnya terus bergejolak tanya, akan kah harus mundur melepas wanita yang selama ini mengusik hatinya atau lebih memilih menjaga perasaan sang adik, yang sudah diamanahkan kepadanya semenjak kepergian kedua orang tuanya. Gordon merenung di belakang kemudi setir seraya memukul kemudi dengan keras hingga melukai tangan, dan sedikit mengeluarkan darah.
Sementara Jane yang tengah berada di dalam kantor, terlihat gelisah sebab berkali ia menoleh ke ruangan kedua pria pemilik GD COMPANY, masih terlihat sepi. Tidak ada tanda mereka telah kembali.
"Oh, maaf Nyonya, tidak apa-apa," kilah Jane, kembali fokus pada pekerjaannya.
Sesekali Jane terus melirik jam yang melingkar di tangannya. Melihat jam sudah menunjuk di angka 11, Jane semakin cemas. Bingung hendak menghubungi siapa dulu di antara kakak beradik itu. Batinnya terus bertarung dengan dua pilihan.
"Jane!" panggil Nyonya Rean mengagetkan dan membuyarkan lamunannya.
"I -iya Tuan!" sahut Jane gagap dan jawabannya mengagetkan Nyonya Rean. Wanita yang lebih tua darinya itu pun terkekeh menggoda Jane.
"Pasti sedang memikirkan Tuan Daren ya?" goda Nyonya Rean.
Pipi putih mulus seketika berubah memerah bak kepiting rebus, akibat pikirannya yang kacau membuat mulut Jane menyebut Tuan tanpa sadar.
"Astaga, untung saja masih selamat kau Jane. Jika Nyonya Rean tahu dia pasti akan meledekmu," batin Jane.
Untuk menghindari rasa gugupnya, Jane berpamit kepada Nyonya Rean pergi ke kamar mandi. Masih diliputi rasa penasaran yang besar, Jane pun memberanikan diri untuk menelepon Gordon. Bertanya tentang kabar Daren.
"Halo, Tuan. Bagaimana keadaan Tuan Daren? Apa Tuan berhasil menemukan nya?"
Suara di balik benda pipih yang menempel di telinga Jane.
"Ya halo, Jane. Kamu tidak usah khawatir kami baik- baik saja, tenanglah !" sahut Gordon.
Serasa di himpit batu besar, Jane akhirnya dapat mendengar jawaban dari Gordon yang mengatakan dirinya baik - balik begitu juga dengan Daren.
***
BERSAMBUNG....