
"Jane, buka mata mu sayang!" Gordon menepuk pipi wanita yang bersandar di jok dengan tak sadarkan diri.
Semakin panik dan khawatir Jane masih tak mau membuka mata, ditambah darah segar mengalir di kepala. Membuat Gordon cemas dan segera menggotong tubuh Jane keluar dari mobil yang sudah tidak bisa dihidupkan kembali, menuju mobilnya disusul oleh Alexander yang mendampingi sang ibu dengan derai air mata di jok belakang.
"Hiks..., buka mata Mommy. Jangan tinggalkan Alex," ucap bocah delapan tahun tersebut masih terisak.
Gordon segera memutar arah kembali ke jalan sebelumnya yang ia lewati, karena sepertinya intensitas badai salju tidak terlalu kencang bila dibanding dengan tempat kejadian Jane kecelakaan.
"Tenanglah sayang, Uncle yakin Mommy baik-baik saja. Dia adalah wanita kuat, tidak akan terjadi sesuatu yang serius dengannya," ujar Gordon berusaha menenangkan si bocah genius.
Salju semakin tebal dan Gordon tak bisa berkendara dengan cepat. Jarak tempuh yang seharusnya hanya sekitar dua puluh menit, namun kali ini harus ditempuh lebih dari itu. Pengguna jalan lainnya tak satu pun ada yang lewat malam itu, hanya mobil Gordon saja yang berani melintas.
Mobil yang dikendarai Gordon kini kembali berada pada pos pemeriksaan, tak ingin para petugas menghadangnya kembali Gordon segera menghentikan mobilnya dan turun.
"Maaf Pak, ijinkan saya lewat. Di dalam sana ada seorang wanita yang terluka dan tidak sadar beserta anak kecil," ujar Gordon menghiba meminta ijin.
Seorang petugas menghampiri mobil Gordon dan memeriksanya untuk memastikan kebenaran ucapannya.
"Iya benar apa yang dia katakan," ucap petugas.
"Baiklah, Tuan. Silahkan Tuan melanjutkan perjalanan anda. Semoga tidak terjadi sesuatu," imbuh petugas lainnya.
Setelah mendapat ijin dari petugas, Gordon merasa lebih lega dan melanjutkan perjalanannya kembali.
***
Tak mudah untuk bisa sampai di rumah sakit dengan lancar. Gordon harus mengemudi dengan kecepatan lambat sebab jalanan diselimuti oleh Salju tebal, sedang angin yang tadinya ia prediksi tidak sekencang tadi mendadak juga berhembus kencang. Bahkan mobil Gordon harus berkali-kali ia bersihkan tumpukan saljunya. Yang sebentar-sebentar penuh oleh tumpukan salju.
"Perawat, tolong selamatkan wanita ini. Sepertinya dia banyak mengeluarkan darah," teriak Gordon mengeluarkan Jane dan menggendong nya menuju ruang IGD.
"Tolong obati juga anak ini. Periksa lebih detail kepalanya, karena dia juga mengalami benturan. Pastikan anak ini juga tidak mengalami hal yang serius," ucap Gordon menaikkan si bocah genius di atas brankar.
"Bukannya ini si genius yang sering wawancara di televisi itu ya?" celetuk perawat wanita yang kini mendekati Alexander.
"Iya benar, itu dia," sahut Gordon.
"Aku tidak segenius itu, biasa saja," timpal Alex dengan wajah sendu.
Perawat pun segera memeriksa Alexander dan melepas jas yang dikenakan bocah tersebut. Alexander berbaring di atas brankar siap menerima perawatan. Seperti permintaan Gordon, perawat kini membawa bocah itu menuju ruang CT SCAN untuk melakukan pemeriksaan kepala Alex lebih detail. Tentunya dengan didampingi Gordon selaku wakil dari keluarga terdekat pasien.
Di ruang perawatan yang lain, luka kepala Jane mulai dibersihkan dan dijahit. Setelah dokter menyuntikkan obat agar darah tidak terus keluar, kini kepala Jane telah dibalut kasa, kemudian juga dibawa ke ruang CT SCAN untuk melihat apakah terdapat luka dalam yang serius di otak Jane atau tidak. Sembari menunggu dokter melakukan CT SCAN, Jane yang terbaring harus menunggu untuk antri. Karena Alexander yang terlebih dulu ada di dalam.
"Semoga tidak terjadi sesuatu yang serius kepada keduanya Tuhan!" harap Gordon dalam hati.
Pria ini bibirnya terus berkomat-kamit mengucap doa untuk kesembuhan dua orang yang sangat dicintainya. Hingga lupa untuk memberikan kabar kecelakaan Jane kepada sang adik. Karena sambungan telepon masih belum juga kembali hidup, ponsel Gordon pun tak bisa untuk dihubungi Daren. Dari apartemen, Daren juga mulai mencemaskan sang kakak yang sulit untuk dihubungi. Begitu juga dengan nomor Jane dan Alexander semuanya tidak ada yang bisa dihubungi. Hal itu semakin membuat Daren panik namun tidak bisa berbuat sesuatu, cuaca di luar masih tidak memungkinkan untuk keluar.
"Kemana kau Kak Gor?" batin Daren berjalan mondar-mandir di depan pintu. Dengan memukul-mukul kan ponsel ke bibirnya pelan.
Beberapa menit berlalu, setelah Alexander selesai melakukan pemeriksaan CT SCAN dan kembali ke ruang IGD. Kini giliran Jane yang masuk bersama perawat. Saat perawat membawa Jane masuk ke dalam ruang CT SCAN, wajah Gordon berubah cemas. Sebab wanita yang dicintainya masih belum juga membuka mata meski darah sudah berhasil dihentikan oleh dokter.
"Semoga pemeriksaan nya baik-baik saja Tuhan!" batin Gordon begitu juga dengan si bocah genius yang terlihat ikut mendoakan sang mommy.
***
BERSAMBUNG...