Alexander is Cumlaude

Alexander is Cumlaude
Perkenalan Visual Tokoh



"Maaf, Tuan, mohon segera Anda tanda tangani. Soalnya berkas ini harus segera dikirim," ujar Jane menyodorkan map warna biru yang ada di tangannya kepada Gordon.


Gordon meraih map pemberian Jane, seraya menatap lekat wajah yang sudah hampir ia lupakan.


"Mata nya cantik sekali," batin Gordon terus menatap kedua bola mata Jane yang bulat dengan bulu mata yang lentik.



Visual Jane Audrey



l


Visual Gordon Ramsay



Visual Daren Ramsay


***


"Tuan...!" Jane mencoba menegur Gordon yang fokus menatap dirinya. Membuat pria itu gelagapan, salah tingkah, ketangkap basah sedang mencuri pandang wanita yang berdiri di hadapannya.


Daren yang melihat tingkah sang kakak gelagapan, tertawa terkekeh. Baru kali ini CEO dingin memperhatikan seorang karyawan biasa, dengan tatapan lekat.


Jane yang sedang berdiri di depan meja Gordon, juga tertegun. Kembali berpikir dan mengingat sosok wajah yang seakan sudah pernah ia lihat sebelumnya.


"Wajah itu, aku seperti pernah melihatnya. Tapi di mana?" batin Jane samar berusaha mengingat sosok pria di depannya.


Merasa salah tingkah, Gordon segera menanda tangani berkas-berkas tersebut. Untuk mengurangi rasa malunya. Sementara otak Jane masih terus berpikir keras, mengingat siapa pria yang ada di hadapannya itu.


"Ini!" ujar Gordon singkat memberikan berkas-berkas yang sudah ia tanda tangani, kepada Jane yang masih berdiri di hadapannya.


Ingin Gordon menyapa wanita tersebut, dan berbincang lebih akrab lagi. Namun sayang, entah mengapa bibirnya terasa rapat untuk bersuara.


"Jane, bisa kah siang ini kita makan siang bersama?" Tiba-tiba ajakan Daren membuyarkan lamunan sang kakak.


Tapi wanita yang sedang berdiri di depan meja kerja Gordon itu menolak ajakan Daren. "Maaf, Tuan. Saya harus menjemput Alex ke sekolahnya."


"Kalau begitu biarkan aku mengantar kamu menjemput si tampan," Daren mengakhiri percakapannya sekaligus tak ingin ajakannya ditolak oleh Jane.


"Terima kasih, Tuan. Tapi saya bisa naik taksi saja," tolak Jane secara halus.


Mendengar penolakan Jane, Gordon dan Daren bersamaan menatap wanita tersebut, tak ingin semakin salah tingkah di dalam sana, Jane pun pamit dari ruangan Gordon. Kemudian pergi meninggalkan ruangan tersebut. Dan selepas kepergian Jane, kedua pria kakak beradik itu sama-sama saling terdiam ambigu.


"Usia berapa anaknya? Apa dia seorang anak laki-laki?" celetuk Gordon tiba-tiba, bertanya tentang Alexander kepada sang adik.


"Jika anak itu sekarang berusia tujuh tahun, dan dia seorang anak laki-laki, maka benar wanita itu adalah dia yang pernah meminta pertolongan kepadaku," batin Gordon berusaha membenarkan dugaannya tentang Jane.


"Usianya tujuh tahun, Kak. Namanya Alexander, biasa dipanggil Alex, Jane membesarkan Alex seorang diri," jawab Daren lirih.


"Benar, itu pasti dia!" celetuk Gordon tiba-tiba.


Daren yang mendengar ucapan sang kakak, seketika kaget.


"Maksud Kak Gordon dia siapa? Kakak kenal Jane kan? Dari tadi Daren tanya, Kakak tidak menjawab, Daren yakin Kakak pasti tahu tentang Jane," cecar Daren mendesak Gordon untuk angkat bicara.


Namun sayang, bukan Gordon namanya jika serta merta ia menjawab pertanyaan seseorang seketika. Dan sejenak wajah Daren berubah kesal dengan sikap sang kakak, yang lebih memilih diam.


"Sudah lupakan, ayo kita makan siang!" ajak Gordon, beranjak dari kursinya dan menarik paksa tangan sang adik yang sedang cemberut karena kesal, terhadap Gordon.


Sementara itu, di dalam taksi, Jane masih terus berusaha untuk mengingat, seraya memejamkan kedua matanya, dan menyenderkan kepalanya di jok belakang, sopir taksi.


"Siapa sebenarnya Tuan Gordon? Sekian tahun bekerja di sana, baru kali ini aku bertemu langsung dengan Tuan Gordon. Tapi mengapa wajahnya tidak asing bagiku?"


Di sepanjang perjalanan menuju kampus Alexander, Jane masih terus berusaha mengingat siapa Gordon sebenarnya. Kenapa bayangan wajah itu serasa tidak asing. Tapi sayangnya, Jane berusaha untuk berhenti berpikir saat mobil yang di tumpangi nya sudah sampai di kampus sang putra.


****


BERSAMBUNG....