
Siang itu, Jane membawa Alexander ke tempatnya bekerja. Mengingat jarak dari kantor dan kampus tidak lah jauh. Selama kurang lebih enam tahun ia bekerja di perusahaan, tempatnya bekerja, baru kali ini Jane membawa putra kesayangannya itu ke kantor. Karena selama ini ia selalu meninggalkan sang putra, seorang diri di apartemen. Setelah ia memberhentikan pelayan yang pernah bekerja merawat dan menjaga Alexander, Karena keterbatasan biaya.
"Halo tampan!" Sapa Nyonya Rean saat Jane dan Alexander memasuki ruang kerja Nyonya Rean.
"Halo juga Nyonya, namaku Alexander. Mommy memanggilku Alex!" balas bocah berusia tujuh tahun tersebut, seraya menjabat tangan Nyonya Rean dengan sopan. Karena Jane selalu mengajarkan kepadanya untuk menghormati semua orang, terutama yang lebih tua. Dan hal itu sudah Jane ajarkan sejak Alex masih kecil.
"Selamat, ya tampan! Mommy kamu sudah bercerita keberhasilan kamu diterima di Universitas Teknologi Berlin. Semoga tercapai semua cita-cita Alex."
Nyonya Rean memberi selamat kepada Alexander, sembari memeluk bocah kecil tersebut dengan erat.
Dari kejauhan, di sebuah ruangan yang tak jauh dari divisi Jane berada, tampak sedang mengamati kedatangan Jane dan bocah berusia tujuh tahun tersebut.
"Siapa bocah kecil itu? Apa dia putranya?" batin Daren, pria nomor dua di perusahaan, Jane bekerja. Yang tak lain adalah adik dari pemilik perusahaan, yang menjabat sebagai Direktur .
Selama Jane bekerja di perusahaan tersebut, diam-diam Daren menaruh hati dan selalu memperhatikan Jane dari kejauhan. Karena ia tak berani untuk mendekati Jane. Sebab Jane selalu menutup diri kepada semua teman pria di kantor nya.
"Anak itu tampan sekali, pasti ayah nya bukan pria sembarangan," gumam Daren yang terus memperhatikan Alexander.
Sembari menyelesaikan pekerjaan nya yang sempat tertunda, Jane pun menyuruh Alexander duduk di sebelahnya, menikmati camilan yang tadi sempat ia beli dari swalayan yang dekat dari kantor.
"Jane, tolong berikan file ini kepada Tuan Daren. Berkas ini harus segera dikirim siang ini juga. Tadi beliau menelepon saat kamu menjemput Alex." ujar Nyonya Rean, memberikan file kepada Jane.
Jane segera beranjak dari duduknya dan pergi ke ruangan Daren, dengan membawa file pemberian Nyonya Rean.
"Tok, tok, tok...." Jane mengetuk pintu ruangan Daren. Daren yang melihat kedatangan Jane, segera merapikan penampilan serta posisi duduknya.
"Masuk, Jane!" sahut Daren dari dalam.
"Saya permisi, Tuan!" Pamit Jane, beranjak membalik badan.
"Tunggu!" Cegah Daren menghentikan langkah Jane.
"Apa anak kecil itu putra kamu?" Tanya Daren menyelidik. Menatap Jane dengan tatapan lembut.
"Iya, Tuan, dia anak Saya. Maaf jika Saya telah lancang membawanya ke kantor."
Suara Jane terdengar ketakutan, sebab baru pertama ini Alex menginjakkan kaki di perusahaan keluarga Daren.
"Tidak perlu meminta maaf, biarkan saja dia di sini. Kalau boleh tahu suami kamu kemana, tumben kamu membawanya kemari."
Pertanyaan sang Direktur Daren, terdengar menyentak kan telinga Jane saat itu. Bibirnya terasa Kelu seketika. Tak mampu menjawab pertanyaan sang Direktur, hanya bisa diam ambigu.
Daren mengamati perubahan wajah Jane yang mendadak berubah sedih, "Maaf jika pertanyaan Saya terkesan kurang sopan." pungkas Daren.
Bibir Jane bergetar merasa tidak enak dengan sang direktur, sebab pertanyaan pria itu sama sekali tidak salah dan merupakan hal yang sangat wajar, namun sayang ia belum bisa mengatakan kebenaran akan masa lalunya.
"Tidak apa Tuan, maaf suami Saya sibuk bekerja, karenanya terpaksa Saya membawa anak Saya." Balas Jane salah tingkah.
Daren melihat sikap Jane yang seperti berusaha menutupi sesuatu, dan pria yang berpostur tinggi besar dan tegap layak aktor Hollywood itu, hampir mirip dengan Aldrich postur tubuhnya. Mencoba berpura tidak melihat sikap wanita di depannya.
****
BERSAMBUNG....