Alexander is Cumlaude

Alexander is Cumlaude
Senyuman Licik



"Iya, Hallo? Ada apa kalian kemari?" tanya Gordon kepada kedua bodyguard nya yang mendekat sembari berbisik di telinga nya.


"Apa? Benarkah itu?" Gordon terkejut mengepalkan kedua tangannya dengan keras.


"Sepertinya takdir benar benar berpihak padanya," gerutu Gordon dihiasi muka yang memerah.


"Jangan sampai lengah, terus alihkan perhatian dia. Sampai kami benar-benar aman," titah Gordon, yang kemudian berlalu memasuki kamar sang putra.


"Wah..., rupanya kesayangan Daddy sedang berkumpul di sini. Pantas di dalam sepi," Gordon mulai ikut duduk di sebelah Jane.


"Iya sayang, Putra kita begitu menyukai musik itu. Aku pun juga menyukai nya."


Gordon mulai panik, harus memulai darimana untuk bercerita bahwa Aldrich sudah di depan mata. Dan ia harus segera membawa sang putra bersembunyi segera.


Jane yang duduk bersebelahan dengan Gordon, mulai melihat ada yang tidak wajar dengan sang suami. Dan ia pun memberi isyarat kepada suaminya utk pindah ke kamar mereka.


"Sayang, sepertinya kamu sangat lelah hari ini. Ayo lah biar ku pijit bahu mu sebentar," Gordon tersenyum mengiyakan ajakan sang istri dan berpamitan kepada genius.


Sesampainya di kamar, Jane segera bertanya kepada Gordon. Apa gerangan yang membuat suami nya cemas dan khawatir. Singkat cerita, Gordon pun menceritakan apa yang disampaikan oleh anak buahnya barusan.


"Terus?? Apa kita harus pindah lagi? Tidak, aku sudah lelah berpindah tempat, sayang. Kali ini aku ingin tetap tinggal di sini. Putra kita bahkan tadi berkata besok ia ingin kembali masuk kuliah. Kita tidak perlu bersembunyi terus menerus. Harusnya mereka dilawan!"


Tampak amarah yang mencuat dari intonasi bicara Jane. Baru kali ini wanita itu tidak terlihat ketakutan atau cemas, seperti sebelumnya. Kesannya lebih berani mengambil sikap untuk melawan. Bahkan Gordon menganga hampir tidak percaya apa yang dilihatnya.


"Honey...., apa benar ini kamu Sayang? Aku tidak salah dengar bukan?" Gordon mengguncang tubuh Jane.


Ibu satu anak itu menatap lekat wajah sang suami yang tampak sangat khawatir. Kemudian mengangkat wajah Gordon dengan kedua tangannya. Meyakinkan bahwa ia baik baik saja.


"Sekarang saatnya dunia melihat karma yang akan dituai oleh bedebah itu, melalui darah daging yang pernah dibuangnya. Sejarah yang pernah ia tutup, sudah tiba waktunya untuk kembali ia lihat sekali lagi."


Gordon segera memeluk erat Jane, merasa terharu. Disaat dirinya begitu takut kehilangan orang orang yang ia sayang. Namun Jane justru menguatkan dirinya untuk tidak lagi khawatir. Disitulah kekuatan Gordon kembali terisi. Bahkan ia semakin yakin bahwa sekeras apapun ia berusaha menghindar, jika Tuhan sudah berkehendak maka tidak bisa untuk menghindari atau menolak.


****


Aldrich segera kembali ke rumah selepas meeting bersama tuan Pablo. Mengingat Nyonya Madison masih butuh pengawasan pasca penyembuhan. Sementara Gustaf masih harus kembali ke perusahaan.


Sementara layar laptop yang posisinya masih berada di atas kasur, telah berbunyi. Bocah genius itu segera melihatnya.


"Bagaimana kabar cucuku? apa kamu berhasil menemukan nya?" Baru saja memasuki ruang tamu, Aldrich segera disodori pertanyaan oleh sang ibunda. Dan membuatnya kaget.


"Mama, kenapa tidak istirahat saja di kamar. Apa Mama lupa apa kata dokter?" Aldrich menghampiri nyonya Madison yang duduk di kursi roda.


"Lupakan kesehatan Mama. Aku mau cucu ku kembali secepatnya!" Wanita paruh baya itu membuang muka.


"Ayolah, Ma, jangan seperti anak kecil gini. Bukan kah Al sudah berjanji akan membawa cucu pewaris Madison kembali."


Butuh waktu agak lama bagi Aldrich untuk meyakinkan nyonya Madison mau beristirahat di kamar. Setelah berdebat barulah wanita paruh baya itu menyerah. Sebab ia juga menyadari bahwa kondisi dirinya belum sehat sepenuhnya. Dengan perasaan kesal ia pun mengikuti sang putra membawanya ke kamar.


"Pak, jangan sampai lupa jadwal minum obat Mama, ya!" seru Aldrich kepada kepala pelayan di rumahnya.


"Baik, Tuan!"


Aldrich segera kembali ke kamar untuk mandi dan beristirahat. Di dalam kamar mandi, ayah biologis si genius ini mengguyur tubuhnya dengan kucuran air dari atas shower. Otaknya kembali mengingat sosok yang masih membuatnya penasaran tadi siang. Namun saat ia asyik terlena membayangkan wajah Jane, tiba tiba semua lamunannya buyar seketika. Aldrich teringat akan perintah yang ia berikan kepada sang bodyguard.


Piyama warna putih, dan rambut yang basah serta aroma tubuh yang begitu menggoda bagi siapa saja kaum hawa yang melihatnya terlihat begitu berkharisma. Wanita mana pun tidak akan menolak pesona itu. Namun sayangnya sejak Cheryl meninggalkan dirinya demi lelaki selingkuhannya, Aldrich masih bertahan memilih hidup sendiri tanpa pendamping. Dan kini sosok wanita dari masa lalu yang pernah membuat ia terpesona, kembali hadir di kehidupan nya, kembali mengisi kekosongan hati Aldrich Barayeve. Bahkan mulai tergila-gila.


"Bagaimana yang ku perintah kan? apa kalian sudah melakukan tugas kalian dengan benar?" suara Aldrich sedikit meninggi dari balik ponsel.


"Iya, Tuan. Jujur kami belum melihat Tuan Muda keluar. Tapi wajah para para bodyguard itu sudah meyakinkan kami bahwa itu benar mereka. Kami masih ingat betul wajah wajah itu."


"Akhirnya.....," Aldrich bernapas dengan lega mendengar itu.


"Baiklah, kalian jangan bertindak gegabah dulu. Tunggu aba aba dari ku. Biar mereka mengira kita kehilangan jejak mereka."


Senyum kemenangan tergambar jelas dari bibir indah Aldrich malam itu, namun meski begitu ia masih menyimpan berita baik itu dari nyonya Madison. Sampai semuanya berhasil seperti rencana semula.


"Maafkan aku Tuan Gordon jika aku sangat egois. Tapi kali ini aku akan merebut mereka darimu....!!"


****


BERSAMBUNG....