Alexander is Cumlaude

Alexander is Cumlaude
Sakit Hati Aldrich



Udara sejuk di pagi hari yang dihiasi kemilau emas dari ufuk timur cakrawala. Menambah semangat pagi itu kepada keluarga kecil Gordon. Terlihat Jane sedang menyiapkan sarapan kedua kesayangannya.


"Mommy duduklah! kita sarapan bersama!" ucap Genius ketika Jane hendak berlalu ke dapur.


"Sebentar Sayang, Mommy ambilkan jus untuk kalian," Jane kembali ke dapur. Dan tak lama kemudian membawa jus kesukaan Genius dan Gordon. Ketiganya lalu menikmati sarapan pagi bersama.


Seusai sarapan pagi, genius bertutur kepada Gordon, "Daddy aku rindu Uncle, kapan kita pergi kesana?"


"Wah rupanya ada yang rindu Uncle, bagaimana jika setelah tugas Tampan selesai, kita berkunjung kesana?"


Jane tersenyum mendengar percakapan ayah dan anak tersebut.


"Benar kata Daddy kamu, Sayang. Secepatnya kita segera menyusul Uncle, iya kan Daddy?" celetuk Jane mengulas senyum lebar ke arah sang suami.


Canda tawa riuh menghiasi apartemen baru tersebut, sementara di luar para pesuruh bayaran Gordon senantiasa berjaga siap siaga menjaga sekeliling apartemen.


"Mommy, Daddy, Alex berangkat dulu. Kalian jangan khawatir, Alex pasti jaga diri untuk kalian!" pamit si genius seraya memeluk kedua orang tuanya.


Gordon beserta Jane pun mengantar Alex hingga teras depan, memasuki mobil warna hitam yang sudah disiapkan dan didampingi oleh beberapa pengawal. Yang akan turut menjaga si genius hingga kampus.


Pagi yang cerah itu sepertinya membuat mood seorang Aldrich tampak bahagia. Dengan percaya diri pria nomor satu di kota tersebut mengunjungi kampus tempat sang putra menimba ilmu. Dengan sebuah kotak berwarna merah di tangannya.


Baru juga sampai depan pintu, ternyata para pengawal setia Gordon langsung saja menghadang dan menghalangi Aldrich untuk bertemu dengan Alexander. Dan hal itu dilihat langsung oleh si Genius.


"Maaf, Tuan, Kami hanya sekedar menjalankan perintah. Mohon kerjasamanya untuk tidak mendatangi Tuan muda," ucap kepala bodyguard seraya mengisyaratkan stop kepada Aldrich dengan tangan nya.


"Oh, oh,oh...., baiklah!!! Kalau begitu bisakah kamu panggilkan anak itu sebentar saja. Saya hanya ingin memberikan hadiah kecil ini kepadanya," pinta Aldrich tanpa perlawanan.


Beberapa bodyguard lainnya pun mengangguk dan salah satunya segera masuk berbisik memanggil bocah genius. Dan Alexander juga segera keluar menemui Aldrich.


"Selamat pagi, Tuan? Ada apa pagi-pagi Tuan ingin bertemu Saya?" sapa Alexander dengan wajah polosnya.


"Hallo, Putraku! Apa kabarmu hari ini, Nak?" Aldrich refleks seketika memeluk tubuh putranya.


"Maaf, jaga sikap Anda Tuan! Saya bukan putra Anda, Saya adalah putra Tuan Gordon!" tolak Alexander, menarik tubuh nya dari pelukan Aldrich.


"Terima kasih, tapi Saya tidak membutuhkan kado dari Anda," Jederrr.... ucapan polos seorang bocah kecil itu seketika menusuk jantung Aldrich. Dan sejenak ia merasakan sakit.


"Mungkin ini tidak berharga buatmu, tapi percayalah Sayang, Papa tulus ingin menebus kesalahan Papa. Tolong beri Papa kesempatan!" hiba Aldrich dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Bagaimana Anda bisa menyebut Saya Putra Anda? Sedangkan kita baru saja bertemu beberapa kali. Permisi, Saya harus segera kembali ke kelas, terima kasih hadiah nya!"


Bocah genius pun segera mengambil bingkisan warna merah dari tangan Aldrich, kemudian kembali masuk kelas. Sementara Aldrich masih tidak percaya, bocah sekecil itu bisa berkata yang sangat menyakitkan hatinya. Tubuh pria itu pun seolah oleng kala itu.


"Tuan baik baik saja?" tanya salah satu bodyguard yang sempat menangkap tubuh tegap Aldrich yang hampir saja jatuh.


"Terima kasih, Saya baik baik saja!" ucap Aldrich menolak bantuan pria di hadapannya.


Setelah beberapa saat Aldrich tertegun dengan berbagai kecamuk dalam dirinya, ia segera kembali ke area parkir. Dan segera meluncur menuju arah perusahaan.


Belum juga niatnya tertuju ke perusahaan, rupanya Aldrich memutar arah, dan memilih jalur menuju arah apartemen Tuan Pablo. Namun tujuan ia bukanlah mengunjungi apartemen rekan bisnisnya, melainkan melihat dari kejauhan situasi rumah yang Jane tempati saat itu.


"Aku akan melakukan apapun demi untuk bisa menebus semua kesalahanku. Kali ini beri aku kesempatan untuk melakukan itu semua Tuhan!" gumam Aldrich yang tanpa sadar air matanya berjatuhan menetes pada kemudi setir.


Penyesalan yang sangat terlambat datang nya, andai waktu bisa diputar kembali dan andai saja ia tidak takut kehilangan tahta serta warisan kerajaan bisnis, semua tidak akan terjadi. Nasi sudah menjadi bubur, semua sudah terlambat. Kebencian sang putra terhadap dirinya sungguhlah besar, dan itu terlihat dengan sangat jelas dari raut wajah Alexander saat bersitatap dengan Aldrich.


Tak berhenti sampai disitu saja kesedihan yang Aldrich alami saat itu. Matanya yang masih basah, kembali dipaksa menyaksikan sebuah pemandangan yang sungguh membuatnya semakin sakit. Saat dimana Gordon terlihat tengah bercanda ria dengan Jane di taman samping apartemen, dengan sesekali Gordon menciumi leher jenjang sang istri dan juga bibir seksi Jane.


"Tuhaaannnn....! apalagi ini? Harusnya kau buat mati saja pria itu, agar aku bisa kembali di sisinya," gerutu Aldrich memukul keras kemudi setir nya, sehingga menimbulkan bunyi klakson yang sangat kencang. Sontak hal itu mengagetkan dua insan yang tengah bermesraan dan melihat ke arah dirinya.


Aldrich sungguh merasa kesal bercampur marah pagi itu, impian bahagia nya semalam sirna semua. Tak ingin Gordon dan Jane melihat dirinya di sana, maka ia pun segera mengemudi kan kembali mobilnya, meninggalkan tempat tersebut.


"Aaahhh..., siall!" umpat Aldrich di sepanjang perjalanan.


****


BERSAMBUNG....