Alexander is Cumlaude

Alexander is Cumlaude
Lamaran Gordon Untuk Jane



"Sayang, di malam yang indah berhiaskan gemerlap kemilau bintang ditemani sinar rembulan. Bersediakah menjadi pendamping hidup ku dalam suka maupun duka?" ucap Gordon menatap penuh kasih kepada kedua netra Jane.


Bulir bulir air mata bahagia mulai berjatuhan di wajah mulus seorang Jane Audrey, hari bahagia yang selama ini ia anggap hanya mimipi semata akhirnya tiba jua. Perjuangan cinta Gordon dan Jane bukanlah hal yang mudah untuk mereka lalui, kerikil tajam mulai dari percintaan segitiga yang sangat pelik bahkan ditambah hadirnya pihak ketiga yang akhirnya mengantarkan kisah cinta keduanya menuju hari bahagia.


"Aku bersedia menjadi partner hidupmu, sayang! Berdua kita akan lewati pelangi bahkan badai kehidupan sekali pun. Terima kasih telah memilih aku dan menjadikanku wanita yang beruntung di antara ribuan wanita di luar sana untuk mendampingimu."


Malam indah yang romantis sekaligus penuh haru, kembali menghiasi sebuah ruangan bernuansa Eropa di sebuah kawasan apartemen elite milik Jane. Babak baru kisah percintaan Jane Audrey bersama Gordon Ramsay akan segera di mulai. Restu dari si genius pun mengiringi kebahagiaan mereka berdua malam itu. Saat Jane menjawab pernyataan lamaran Gordon, tak ayal bocah delapan tahun itu yang menyematkan kedua cincin di jari sang Mommy dan juga calon ayah baru Alexander.


"Alex doakan semoga Mommy bahagia bersama Uncle Gor," ujar Alexander.


"Kok Uncle, tampan? Kan sebentar lagi akan menjadi Papa tampan?" goda Gordon kepada si genius.


"Mmmmm...., baik Papa," sahut Alexander tersipu.


Tak ayal kedua orang di samping Alexander pun merasa gemas dengan tingkah lucu si genius. Dan keduanya serta merta memeluk tubuh si genius bersamaan. Potret keluarga bahagia akhirnya mereka rasakan bersama. Jane pun mengabadikan momen indah malam itu dengan mengambil beberapa foto mesra bersama keluarga kecil barunya.


"Ha ha ha ha ha...." begitulah kelakar yang terdengar membahana, turut menjadi saksi kebahagiaan ketiga insan tersebut.


Sebagai pelengkap momen kebahagiaan yang mereka rasakan malam itu, Gordon mengajak Jane berdansa dengan diiringi sebuah alunan musik sederhana yang dimainkan oleh si genius dari piano yang ada di ruangan tersebut. Jari jemari lentik si genius pun dengan lihainya menekan satu per satu not dan menghasilkan sebuah nada yang indah nan syahdu yang semakin menambah keromantisan malam bersejarah saat itu.


"Pangeran ku, bersediakah berdansa bersama Ratu mu?" ucap Jane mengulurkan tangan ke arah sang putra yang baru saja usai memainkan piano.


"Teruntuk kebahagiaan Ratuku, Pangeran bersedia mengabulkan permintaan Ratu."


Suara tepuk tangan dari Gordon pun menghiasi momen indah bagi Ibu dan anak yang hendak berdansa bersama. Dalam asuhan Jane, Alexander tumbuh menjadi seorang bocah yang cerdas, beratitude serta wawasan luas, sikapnya mencerminkan kepribadian pria berkelas jika dilihat dari segi mana pun. Sejak kecil Jane sangat mendidik Alexander dengan penuh disiplin sehingga hasil dari didikannya itu dapat terlihat dari cerminan sikap serta sifat yang dimiliki oleh si genius yang begitu menghormati Jane.


****


Berita tindak kriminal serta penyimpangan penyalahgunaan bahan kimia yang dilakukan oleh Vincent yang berhasil terkuak berkat kegeniusan Alexander, akhirnya mencuat ke seluruh berbagai pelosok negeri. Nama Alexander kini bukanlah sebuah nama biasa saja, melainkan sebuah nama yang banyak diincar oleh beberapa perusahaan besar yang sangat menginginkan bocah genius itu menjadi penasehat perusahaan mereka.


Dan dalam acara televisi di sebuah stasiun tv yang mengundang Alexander wawancara eksklusif secara live, berhasil kembali menyita perhatian seorang wanita paruh baya yang tengah asyik menonton televisi bersama sang kepala pelayan. Namun kali itu sepertinya tidak hanya mereka berdua saja yang menyaksikan acara televisi tersebut. Seorang CEO yang baru saja menyandang status duda selepas perceraiannya dengan sang istri yang bernama Cyril, juga turut serta melihat kecakapan bocah delapan tahun itu dalam sebuah wawancara.


"Wajah itu, mirip sekali dengan potret masa kecil Aldrich. Mereka bak pinang dibelah dua andai saja dekat," batin Nyonya Madison.


Siempunya wajah yang merupakan copy an alias duplikat masa kecil Alexander, masih terdiam dan duduk anteng di kursinya. Ia masih tidak menyadari bahwa ketampanan yang dimiliki bocah genius itu adalah sebelas dua belas dengan dirinya. Sampai tiba tiba saja ia mendengar suara yang mengejutkannya, yang terlontar dari bibir Nyonya Madison.


"Kenapa hatiku berkata anak genius itu adalah cucu penerus keluarga Madison yang selama ini menghilang," ucap Nyonya Madison.


"Bagaimana Mama bisa berkata seperti itu? Itu semua tidak mungkin, anak itu sangat cerdas dan terlahir dari keluarga kaya raya tentunya," sanggah Aldrich tiba tiba.


"Eh kamu Al, ternyata kamu melihatnya juga. Benar tidak? Apa kamu juga merasakan hal yang sama dengan Mama? Mama merasa mempunyai ikatan batin yang kuat dengan anak itu," cerita Nyonya Madison.


"Sepertinya Mama terlalu berharap berhasil menemukan anak itu. Tapi sayang itu bukan dia Ma," ujar Aldrich meyakinkan sang ibu.


"Bagaimana jika firasat Mama benar, Al? Dia juga hanya tinggal bersama ibunya saja. Bisa jadi wanita yang menjadi ibunya itu adalah memang benar Jane," ujar Nyonya Madison.


"Sudahlah, Ma , lupakan saja! Mama jangan terlalu berharap, itu hanya sebuah kebetulan saja," imbuh Aldrich.


""Bermimpi? justru Mama sangat yakin itu adalah putramu, karena seperti yang kita ketahui, pernahkah ibu bocah itu muncul di awal media?" protes Aldrich.


"Wanita itu tampaknya memang sengaja menyembunyikan wajah nya agar tidak terekspose oleh wartawan, karena ia tidak ingin kita menemukan dia," imbuh Nyonya Madison.


Jika diperhatikan apa yang diucapkan oleh Nyonya Madison ada benarnya juga. Besar kemungkinan dugaannya semua benar, jikalau ibu yang berdiri dibalik sosok hebat seorang bocah genius itu adalah Jane Audrey. Dan akhirnya membuat Aldrich beserta Nyonya Madison kembali berdebat.


***


BERSAMBUNG....