
Seperti permintaannya, Daren meminta Alexander bercerita tentang asal serta muasal bagaimana bocah seusia dia bisa masuk bebas hambatan di Universitas bergengsi yang ada di kota Berlin. Rasa penasarannya masih belum terpenuhi sampai bocah tersebut bercerita.
"Uncle mau bertanya apa?" tanya bocah kecil itu.
"Ceritalah, tampan! Uncle masih penasaran," seru Daren.
Alexander lalu bercerita awal mula ia yang hanya iseng mengulik laman web berisikan soal-soal yang membuat dirinya penasaran dan tertarik untuk mencoba mengerjakan. Hingga tanpa sadar dirinya juga telah memencet tombol yang bertuliskan mendaftar. Juga saat bocah itu mendapat email balasan bahwa dirinya diterima bersekolah di sana.
"Wah hebat sekali kau tampan, pasti Papa mu akan sangat menyesal telah membuangmu, jika dia tahu anak yang dia buang sehebat ini," gumam Daren antusias tanpa sadar.
"Uncle, Papa ku sudah pergi ke surga. Dia tidak membuangku, kata Mommy kami lah yang meninggalkan Papa agar Papa bahagia di atas sana," sahut Alexander.
Mulut Daren ambigu seketika, "Apa yang sudah aku ucapkan?" batinnya.
"Oh, iya maaf sayang, Uncle salah bicara," balas Daren.
"Daren Daren, sungguh bodoh kau. Alex bukanlah bocah biasa seperti pada umumnya. Otaknya jauh di atasmu, hampir saja," keluh Daren dalam hati merutuki dirinya.
Sambil mendengar bocah delapan tahun itu bercerita, Daren menelepon OB untuk membawakannya makan siang beserta Alexander. Dan selang lima belas menit kemudian OB datang membawa pesanan Daren. Kedua pria itu pun mulai menyantap makan siangnya.
Seusai makan siang dan bercerita, karena kelelahan Alexander rupanya mengantuk sekali dan tertidur di sofa warna biru yang ada di ruang kerja Daren. Hingga jam kerja usai, Alex masih lelap dalam tidurnya. Mungkin karena otaknya lelah berpikir materi pelajaran yang seharusnya belum waktunya untuk dia enyam. Sementara itu Daren kembali menatap tumpukan map di atas mejanya.
"Tok tok tok....!" suara sebuah ketukan dari luar, tak lain adalah Jane.
"Masuk!" seru Daren tanpa bergeming mengalihkan pandangannya dari tumpukan file.
"Tuan, permisi! Sudah saatnya jam kerja berakhir, boleh saya membawa Alex?" suara Jane terdengar ketakutan.
Mendengar suara Jane, Daren menghentikan pekerjaannya beralih menatap Jane. Masih dengan tatapan kesal dan kecewa.
"Biar aku antar kalian!" ujar Daren jutek.
"Tidak usah, Tuan. Saya bisa sendiri," tolak Jane.
Melihat tingkah Daren yang masih kesal terhadapnya, Jane tidak berani membantah akhirnya ia mengekor di belakang Daren yang sedang berjalan menuju parkiran. Sementara saat melihat Daren menggendong Alex layaknya putra sendiri, Nyonya Rean pun tersenyum kepada Jane serta mengedipkan sebelah mata untuk Jane. Membuat ibu satu anak itu tersipu malu.
Sesampainya di mobil, Daren meletakkan Alexander tidur di jok belakang, dan Jane berusaha masuk menggeser tubuh sang putra untuk memangku kepalanya, tapi Daren menarik lengan Jane kasar. Menyuruh wanita itu masuk dan duduk di jok depan, samping Daren. Jane terlihat canggung, untuk menolak pun tidak bisa sebab Alex tertidur lelap di belakang sana, untuk membangunkannya dan menaiki taksi, Jane tidak tega melakukannya. Terpaksa ia hanya bisa duduk anteng di samping Daren. Wanita itu hanya berharap semoga sang kekasih tidak salah paham dengan apa yang dilihatnya.
Setelah melintasi jalanan kota Berlin selama empat puluh menit, mobil Daren tiba di apartemen Jane. Jane mencoba membuka sabuk pengaman yang ia pakai tapi tampaknya ia kesulitan. Lama berusaha membuka tapi tetap tidak kunjung terbuka pengaitnya. Daren yang melihatnya mencoba untuk membantu Jane. Jarak keduanya kini sangat dekat, wajah Daren dan Jane hanya terjeda lima sentimeter.
Melihat wajah Jane dalam posisi dekat membuat jakun Daren naik turun, saliva pun berkali-kali ditelan. Pria itu menarik napas panjang berusaha mengontrol napsu yang mulai menguasainya. Sedangkan Jane hanya bisa mematung kaku layaknya mumi, salah gerak sedikit saja bibir mereka bakal berdekatan bahkan menempel.
"Ya Tuhan bibir itu sangat menggoda, parfum itu," batin Daren mengontrol adrenalin ya yang mulai susah dikendalikan.
Tangan Jane terus berusaha mengutak-atik gesper pada pengaman itu, tampak wajah ketakutan dalam diri Jane. Hal itu semakin membuat pria adik dari sang kekasih tergoda.
"Ya Tuhan selamatkan aku! Bantu lepaskan ini Tuhan," batin Jane mulai basah dengan keringat dingin di keningnya.
Otak Daren terus berperang, "Jangan Daren, jangan, dia adalah milik Kakakmu!"
"Ayolah Daren, kamu yang lebih layak bersamanya ketimbang Kakak kamu."
Satu persatu perintah mulai bermunculan di otak Daren. Antara ingin mencium bibir Jane atau melewatkan kesempatan emas begitu saja pikirnya.
Hendak saja Daren mendaratkan bibirnya ke bibir Jane, wanita itu terlihat memejamkan mata seakan terpaksa, bahkan mulai mengalir air mata di wajah ayunya. Daren yang melihat hal itu menghentikan kekonyolan nya seketika. Napsunya yang sudah membuncah seketika sirna. Dan ia pun membantu melepas sabuk pengaman yang Jane kenakan. Lalu kembali pada posisi duduknya dengan memasang wajah kesal.
"Terima kasih!"
Jane lalu turun dari mobil dan membuka jok belakang, menggendong Alex berjalan menuju pintu apartemen. Sedikit kesulitan karena beratnya tubuh Alexander saat itu. Namun Daren tetap membiarkan Jane yang tertatih menggendong Alexander sendirian karena masih dipenuhi amarah. Sampai Jane benar-benar masuk ke dalam apartemen.
***
BERSAMBUNG...