Alexander is Cumlaude

Alexander is Cumlaude
Pertemuan Gordon Dengan Jane



Siang itu Gordon, kakak Daren, selaku orang nomor satu di 'GD COMPANY' baru saja tiba di perusahaan, setelah satu bulan melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri. Pria yang tabiatnya berbeda terbalik dengan sang adik, itu melintasi ruang kerja Jane dan Nyonya Rean. Sekilas Gordon mengamati Jane, pekerja yang tidak pernah ia lirik keberadaannya selama bekerja di perusahaan miliknya, selama kurang lebih tujuh tahun, yang seumuran Alexander.


"Kenapa aku baru melihat wanita itu, sepertinya aku pernah melihatnya, tapi di mana?" batin Gordon seraya berjalan menuju ruangannya. Yang bersebelahan dengan ruangan sang adik, Daren.


Dari dalam ruang kerjanya yang tak jauh dari meja Jane, Gordon diam-diam memperhatikan Jane. Kedua bola mata pria berdarah dingin itu terus menatap ke arah Jane, seolah sedang mengintai musuhnya.


"Halo, kirim data karyawan terbaru, sekarang juga!" ujar Gordon menelepon HRD.


Tak lama berselang, sang HRD pun tiba di ruangan Gordon sembari menyodorkan map warna biru, "Ini, Tuan, data yang Anda minta."


"Hmm...!" sahut Gordon datar, HRD itu meletakkan data yang diminta Gordon di atas meja. Kemudian pergi, kembali ke ruang kerjanya.


Perlahan, Gordon membaca satu per satu daftar nama karyawan dari masing-masing divisi. Karena Jane ada dalam divisi Nyonya Rean, maka sangat mudah bagi Gordon untuk mengetahui siapa nama wanita tersebut.


"Jane!" gumam Gordon menggigit jari telunjuknya yang ditekuk.


Setelah mengetahui nama serta divisi yang ia cari, Gordon segera menyalakan komputer yang ada di atas mejanya. Melihat dengan jelas data serta foto Jane.


"Benar, dia adalah wanita yang waktu itu menghadang mobilku, dan memaksa meminta ku mengantar ke rumah sakit," batin Gordon kembali. Sembari terus mengamati dan mengingat sosok yang pernah ia tolong beberapa tahun silam.


Asyik menatap wajah sederhana Jane dari layar komputer, tiba-tiba sang adik masuk dan mengagetkan.


"Wah, ada apa gerangan, tumben-tumbenan Kakak melihat foto karyawan!" sindir Daren, menggoda.


Si tersangka yang kepergok sedang mengamati foto Jane, seketika salah tingkah. Dan segera menutup layar komputer tersebut. Menatap sang adik yang sedang duduk di ujung meja kerjanya.


"Ada apa ke sini?" tanya Gordon datar.


"Wah, sejak kapan Daren ditanya ada apa ke sini?" protes sang adik, kembali menggoda sang kakak. Seketika Daren terkekeh. Sementara Gordon kembali bersikap dingin, seolah tidak terjadi apa pun.


"Kapan Kakak kembali? Kenapa tidak menelepon Daren, biar aku jemput di bandara," imbuh sang adik.


Bukannya menjawab pertanyaan sang adik, Gordon malah balik bertanya kepada Daren tentang Jane.


Daren kebingungan dengan. pertanyaan sang kakak.


"Maksud Kak Gordon, siapa?" balas Daren kebingungan, menautkan kedua alisnya.


"Wanita yang satu divisi dengan Nyonya Rean," jawab Gordon datar, masih enggan menyebut nama Jane, meski beberapa saat barusan ia mengetahui bahwa nama wanita tersebut adalah Jane.


"Oh, maksud Kakak si Jane. Memang kenapa Kak? Kakak kenal dia?" selidik Daren, balik bertanya.


"Iya, dia!" sahut Gordon dengan singkat dan ketus.


Daren mengalihkan pandangannya, menatap Jane dari ruangan Gordon. Sembari tersenyum sendiri.


"Dia, cantik kan, Kak? Semenjak dia bekerja di sini, Daren lihat hanya dia satu-satunya wanita yang berpenampilan sederhana, namun terlihat menarik sekali," puji Daren masih terus mengamati Jane.


"Dia seorang Single parent, Kak. Suaminya meninggal, sejak dia hamil," imbuh Daren bercerita.


"Apa? Suaminya meninggal? Pantas saja waktu itu dia menghadang mobilku, mengantarnya ke rumah sakit bersalin," batin Gordon mengingat kejadian beberapa tahun silam.


"Berarti sudah lama dia bekerja di sini?" tanya Gordon kembali.


"Sepertinya setelah dia melahirkan putranya, Kak."


Sejenak, kakak beradik itu saling terdiam. Berpikir dengan pemikirannya masing-masing. Dan yang mereka pikirkan adalah wanita yang sama, yaitu Jane.


Dan lamunan mereka buyar seketika, ketika Jane berdiri di depan kedua pria kakak beradik tersebut. Atas perintah Nyonya Rean, untuk mengantar berkas-berkas penting yang harus segera ditandatangani oleh si pemilik perusahaan, Gordon Ramsay.


****


BERSAMBUNG....