
Desir hembusan bayu yang dipenuhi kilau cahaya sinar rembulan beserta sang bintang, semakin menambah keindahan suasana malam di sebuah ruangan yang kini berpenghuni dua insan yang tengah memadu kasih menghabiskan malam panjang bersama.
Dari balik selimut warna putih, tampak Gordon mendekap tubuh sang istri ke dalam pelukannya.
Dari dalam sel tahanan, Vincent baru saja tersadar dari suntikan yang diberikan oleh dokter. Meski kini pria itu tidak se murka sebelumnya, namun dalam benaknya masih tersimpan sejuta rencana untuk menghancurkan kebahagiaan Gordon bersama Jane. Walau sebenarnya yang menjadi musuh bebuyutan dia adalah si genius. Namun ia sadar, meski secara logika usia Vincent jauh di atas Alexander, namun otaknya tidak mampu untuk melakukan perlawanan terhadap bocah tersebut.
"Mungkin aku kalah pintar darimu bocah, tapi aku berjanji tidak akan kubiarkan engkau bernapas dengan lega. Karena ulah mu aku harus mendekam di sini," batin Vincent penuh amarah.
Tangan Vincent meraih ponsel yang ada di balik bantalnya. Lalu menggulir nomor sang bodyguard yang masih berhasil kabur dari polisi.
'Aku ingin kamu siapkan rencana untuk bocah yang fotonya baru saja aku kirim! Gunakan saja akal mu bagaimana bisa menyentuh bocah genius itu, namun tidak terlihat oleh hukum.'
Isi pesan singkat yang Vincent sengaja kirim.
"Siap, bos, laksanakan!"
***
"Pagi tampan!" Gordon menyapa putra kesayangannya yang baru saja bangun. Sebuah kecupan hangat pun melayang ke pucuk kepala si genius.
"Hei Daddy, pagi juga! Bagaimana tidur Daddy bersama Mommy? apa nyenyak?"
"Iya sayang, nyenyak sekali. Doakan semoga Daddy sama Mommy segera kasih adik buat tampan," bisik Gordon.
"Semoga saja Daddy, tapi Alex ingin seorang adik perempuan, agar Alex bisa menjadi kakak yang baik dan melindungi dia nanti," balas Alexander masih duduk di atas kasurnya.
"Aamiin!" timpal Gordon seraya mengusap kembali pucuk kepala putranya.
Gordon pun beranjak menuju jendela dan membuka jendela kamar sang putra. Sesaat udara sejuk mulai menyusup masuk menambah kesejukan di pagi yang indah. Awan Mega berwarna kebiruan nan kemilau cahaya keemasan dari mentari pagi pun, turut menyapa keluarga yang baru saja mereguk kebahagiaan.
"Mandilah sayang, Daddy juga akan bersiap ke kantor. Oh ya nanti malam Daddy ingin mengajak kalian makan malam di luar,"
"Oke Dad!"
Keduanya lalu beranjak mandi dan bersiap untuk berangkat. Sementara Jane terlihat sibuk di dapur menyiapkan sarapan pagi untuk suami tercinta dan putra kesayangannya.
"Hei sayang, selamat pagi. Wah kalian kompak sekali ya, selesai pun sama-sama. Benar benar pasangan ayah dan anak yang serasi," sapa Jane.
"Selamat pagi Mommy sayang!" ucap keduanya bersamaan.
Kedua pria yang baru saja selesai bersiap itu keduanya mencium pipi Jane bersebelahan. Membuat wanita yang baru saja menerima gelar nyonya Gordon itu tersenyum bahagia.
"Terima kasih kesayangan Mommy!"
Ketiganya lalu mengambil posisi duduk di kursi masing-masing. Terlihat Gordon menuang susu untuk sang putra dan ketiganya sarapan pagi dengan sepotong roti yang Jane buat.
"Mommy, kami berangkat dulu! Jaga diri baik-baik, Mom!" ucap si genius mengecup kening Jane sebelum pergi ke kampus bersama Gordon.
"Sayang, malam ini kita akan makan malam di luar. Bersiaplah bersama tampan!" ujar Gordon seraya mendaratkan sebuah ciuman di kening sang istri.
Kedua pria itu melambaikan tangan ke arah Jane dan kemudian menaiki mobil mewah meninggalkan apartemen.
***
"Selamat pagi juga, Nyonya!" balas Gordon mengulas senyum kepada Nyonya Rean dan kepada karyawan lainnya. Semua karyawan pun mengangguk sopan membalas Gordon. Wajah cerah berseri terpancar dari rona si pemilik GD COMPANY pasca pernikahannya bersama Jane.
"Tuan Gordon sekarang terlihat lebih ceria dan ramah ya, dibanding sebelum bertemu dengan Nyonya Jane," bisik salah satu karyawan.
"Benar, Nyonya Jane memang wanita hebat. Selain berhasil memiliki putra yang sangat genius, beliau juga telah berhasil memenangkan hati Tuan Gor, hingga membuatnya menjadi pria yang sangat baik."
Desas desus obrolan para karyawan pagi itu mengambil tema hebatnya seorang Jane yang notabene nya merupakan karyawan biasa serta sederhana nan bersahaja. Dari kesederhanaannya mampu menaklukkan hati CEO GD COMPANY dan berakhir pada jenjang pernikahan, meski usia pernikahan mereka baru saja dimulai.
"Sudah sudah, kalian kembalilah bekerja! Atau kalian mau Boss kita memecat kita semua karena telah menggaji karyawan yang kerjanya hanya bergosip saja," seru Nyonya Rean kepada para karyawan yang berbisik bisik di sebelahnya.
***
Di tempat yang berbeda, seorang wanita paruh baya yang merupakan ibu dari ayah biologis dari si genius, rupanya tengah duduk di ruang tengah. Sengaja menunggu kedatangan sang putra. Yang kebetulan malam itu Aldrich baru saja tiba dan pulang sedikit terlambat.
"Mama! Sudah larut, kenapa Mama belum tidur?" sapa Aldrich kepada sang ibu, lalu mencium keningnya.
"Iya Mama sengaja menunggu kamu Al, duduklah! Mama ingin bicara sesuatu hal kepadamu!"
Meski sebenarnya malam itu Aldrich sudah sangat kelelahan, namun demi baktinya kepada sang ibu, maka Aldrich pun terpaksa mendudukkan bokongnya di sofa, di samping Nyonya Madison, seraya membuka kancing jas serta dasinya.
"Bicaralah Ma! Aldrich sangat lelah."
"Tadi siang Mama tidak sengaja bertemu dengan Cyril di klinik."
"Lalu, apa hubungannya dengan aku, Ma? Bukankah dia sudah memilih hidup bersama kekasihnya," tandas Aldrich.
"Saat Mama berpapasan dengan nya, dia baru saja keluar dari dokter kandungan bersama pria itu."
"Syukurlah, Ma!" jawab Aldrich singkat.
"Lantas apa hubungan kabar kehamilan Cyril dengan obrolan kita Ma?" imbuh Aldrich terlihat mulai kesal sehingga hendak beranjak bangun.
"Kamu harus bertindak segera untuk mencari keberadaan putra mahkota kerajaan bisnis Madison. Mama tidak ingin wanita ****** itu mentertawakan penderitaan mu!"
Mendengar ucapan sang mama, seketika Aldrich kembali mendudukkan bokongnya dengan kasar.
"Aldrich belum siap, Ma. Kasih waktu buat Al untuk menyiapkan mental."
Aldrich kemudian bangkit dari duduknya dan berlalu pergi ke kamar meninggalkan nyonya Madison seorang diri di ruang keluarga dengan perasaan kesal.
"Maafkan Al, Ma! Al perlu waktu sebentar lagi sampai benar-benar siap menemui Jane," batin Aldrich penuh sesal memasuki kamar dan menguncinya rapat. Suasana hati Aldrich malam itu kembali tidak baik-baik, sehingga membuat pria itu tidak berdaya.
***
BERSAMBUNG....