Alexander is Cumlaude

Alexander is Cumlaude
Masa Lalu Jane Terungkap



Setibanya di perusahaan, Gordon melintasi divisi Jane. Kedua netranya melirik pada sosok bocah kecil yang tadi ia lihat di restoran. Entah kenapa siang itu tiba-tiba, pria yang terkenal dingin dan cuek itu, langkahnya terhenti. Seolah kakinya terkunci tepat di depan bocah kecil berusia tujuh tahun tersebut.


"Hai, tampan?" sapa Gordon dengan lembut, sapaannya itu sontak membuat sang adik yang berjalan di belakangnya, langkahnya turut terhenti seketika.


"Hah? Kak Gordon berbicara dengan Alex? Apa aku sedang bermimpi?" gumam Daren mulutnya ternganga, sembari menepuk pipinya, hingga ia teriak kecil kesakitan.


Merasa itu bukan lah sebuah mimpi, maka Daren pun diam, dan berdiri dari kejauhan. Terus mengamati sang kakak yang sedang asyik mengobrol dengan Alexander.


"Hello, Tuan. Perkenalkan, namaku Alexander!"


Bocah berusia tujuh tahun itu mengulurkan tangan kepada Gordon yang kini berjongkok di depan Alexander. Sementara Jane sibuk mengcopy dokumen ke ruang samping.


Melihat bocah kecil di hadapannya mengulurkan tangan ke arahnya, maka Gordon pun tersenyum menerima uluran tangan bocah tersebut.


"Panggil saja Uncle Gordon," ucap Gordon dengan ramah.


Daren masih tersenyum melihat keramahan yang ditunjukkan oleh sang kakak kepada Alexander.


"Uncle Gordon, di mana Uncle Daren?" tanya Alex mencari keberadaan Daren.


"Uncle Daren ada kok, apa Alex mau ikut Uncle ke ruangan Uncle?" Gordon menawarkan kepada Alex, dan bocah kecil itu mengangguk. Lalu mengikuti langkah Gordon. Namun sebelum pergi Alex terlebih dulu berpamit kepada Nyonya Rean.


"Permisi, Nyonya Rean! Boleh kah Alex ikut ke ruangan Uncle Gordon?" Nyonya Rean melebarkan senyumnya membalas putra Jane itu dengan anggukan. Pertanda diperbolehkan.


Dengan patuhnya Alexander berjalan mengikuti langkah Gordon, dengan tangan kirinya yang dituntun oleh pemilik 'GD COMPANY. Menuju ruangannya.


"Welcome, Alex. Silah kan duduk!" ujar Gordon saat membuka ruangannya.


Alex duduk di sofa yang ada di ruang kerja Gordon dengan sopan. Perilaku bocah berusia tujuh tahun itu sama sekali tidak mencerminkan bahwa dirinya masih kecil, namun lebih terlihat layaknya orang dewasa. Sangat jelas terlihat dari caranya duduk dan bersikap dalam berbicara kepada lawan bicaranya.


Gordon tak hentinya menatap Alexander, terlihat wajah bahagia dari pria tersebut, berada di dekat bocah kecil itu. Sikapnya yang dingin dan angkuh seketika menjadi lembut ketika berbicara dengan Alexander.


Daren berjalan menuju meja Nyonya Rean, mendudukkan bokongnya di kursi Jane. Sebuah pemandangan yang jarang di lihat oleh Nyonya Rean semenjak ia bekerja di perusahaan tersebut. Dua orang kakak beradik, sama-sama menaruh perhatian kepada Alexander.


"Biarkan saja dulu mereka mengobrol Nyonya Rean, Nyonya tahu sendiri bukan? bahwa Kakak ku jarang sekali terbuka dengan orang.. Tapi dengan Alexander ia terlihat akrab."


Nyonya Rean mengangguk dan menimpali ucapan pria nomor dua di perusahaan tersebut dengan sebuah ungkapan juga.


"Alex bukan lah bocah kecil seperti pada umumnya, Tuan. Tuhan sengaja mengirim anak ajaib itu untuk melindungi dan melengkapi kebahagiaan Jane yang hilang, beberapa tahun silam."


Terlihat raut kesedihan di wajah Nyonya Rean saat bercerita.


"Entah bagaimana jadinya nasib Jane, jika tidak ada Alex. Mungkin akan bunuh diri, atau membalas dendam kepada pria brengsek yang sudah menelantarkan dan membuangnya bersama Alex sejak dalam kandungan." Imbuh Nyonya Rean.


Mulut Daren ternganga tak percaya dengan semua cerita Nyonya Rean, "Bukan kah suami Jane sudah meninggal?"


Kedua bola mata Daren pun membulat, masih belum percaya dengan cerita wanita di sampingnya.


"Maaf jika Saya lancang bercerita, Tuan. Kenyataannya tidak seperti yang Anda katakan."


Tanpa sadar Nyonya Rean menceritakan semua masa lalu Jane yang kelam kepada Daren. Dan pria nomor dua di GD COMPANY itu menyimak dengan seksama semua cerita yang sungguh membuat Daren berkali-kali ternganga.


"Jane!" gumamnya.


Wanita yang mereka bicarakan tampaknya mendengar semua ucapan dari Nyonya Rean dan Daren, merasa malu akan masa lalunya yang kelam akhirnya terungkap juga, maka Jane meletakkan berkas yang baru selesai ia copy ke atas meja. Berlari meninggalkan ruangan tersebut seraya membungkam mulutnya agar tangisnya tidak pecah.


Daren dan Nyonya Rean kaget bukan main, tidak menyangka Jane ada di sana juga. Sontak Daren pun dengan langkah besarnya mengejar Jane yang berlari menuju jalan Raya.


"Jane....!" teriak Daren.


****


BERSAMBUNG....