
"Apa aku bilang, tuh kamu lihat sendiri kan! Telat sebentar saja jalanan kota ini sangat macet parah. Pakai drama jatuh segala, jadi cewek manja sekali," gerutu Daren memukul kemudi setir.
"Apa? Tuan bilang aku manja? Hallo Tuan songong yang terhormat, dari kecil saya dididik mandiri tidak pernah cengeng, satu hal lagi selama ini sayalah yang membantu perusahaan milik anda berjalan hingga sejauh ini. Paham!" balas Fiola tak kalah sengit.
Meski luka di lutut yang di derita Fiola mulai terasa nyeri, namun tidak membuatnya terlihat lemah dan merintih di hadapan pria arogan musuh bebuyutan Fiola beberapa bulan terakhir ini. Perkataan Daren kembali membuatnya tersulut emosi, sehingga tanpa sadar di dalam mobil yang tengah berpacu menunggu antrian panjang kemacetan, kedua insan tersebut beradu mulut kembali.
"Iya, oke benar kamu memang berjasa di perusahaan. Tapi kamu lihat kan kita akhirnya terjebak macet di sini. Dan ini pun entah kapan kembali normal," Sulut Daren tak mau kalah.
"Kamu tahu bukan, bahwa aku sangat benci kemacetan seperti ini!"
***
Setelah hampir satu setengah jam berpacu mengarungi antrian panjang kemacetan, mobil yang dikendarai Daren akhirnya berhasil lolos dan kembali melanjutkan perjalanan menuju restoran ternama di kota Dublin. Dimana di jam tersebut pengunjung pun sangat ramai. Dengan langkah tertatih, Fiola berjalan mengekor di belakang Daren, memasang wajah masam.
"Mau pesan apa?" tanya Daren menatap wajah Fiola yang cemberut.
"Maaf, saya sudah tidak berselera makan lagi. Tuan saja yang pesan!"
Kedua manik Daren melongo, mendengar jawaban wanita di depannya. Ingin kembali membuka mulut namun ia sadar sedang berada dimana saat itu. Dan akhirnya adik semata wayang pemilik GD COMPANY itu pun mengalah dan menarik napas panjang.
"Pesan ini saja, Nona!" ucap Daren kepada waiters dengan menunjuk menu yang tertera di buku menu.
Pelayan pun berlalu dan beberapa menit kemudian kembali membawa pesanan yang diminta Daren. Bukannya pesan satu porsi, namun Daren sengaja memesan dua porsi meski Fiola terlihat enggan melihat makanan di hadapannya.
"Cepat makanlah! nanti makanannya keburu dingin."
Fiola bergegas menyantap makanannya dengan terpaksa, namun karena rasa lapar yang memang sudah sedari tadi menghinggapinya. Dalam sekejap makanan di depannya pun ludes hanya tersisa piring serta sendok beserta garputala. Daren yang melihatnya tersenyum.
"Perasaan barusan ada yang bilang nggak napsu makan. Tapi itu makanan kenapa tinggal sisa piring saja. Siapa yang makan, ya?" goda Daren membuang pandangan seraya terkekeh.
"Syukurin tuh dilihat orang-orang!" balas Fiola mentertawakan Daren. Dan beberapa waktu keduanya terlibat saling balas membully dan suara tawa mereka pecah.
"Ayo kita kembali, aku tidak ingin para gadis itu menyantap ku hidup-hidup," ujar Daren terkekeh seraya bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan restoran.
***
Siang itu dekan sengaja memanggil Alexander ke ruangannya. Berbicara empat mata tentang pertukaran pelajar yang akan diadakan seminggu lagi.
"Apa kamu siap untuk menjadi perwakilan kampus kita, Genius?" tanya sang Dekan.
Dengan santainya bocah delapan tahun itu pun menjawab iya tawaran dari sang Dekan. Apalagi negara yang disebutkan adalah negara asal sang ibu. Sebuah mimpi yang sangat ingin ia kunjungi dalam hati, dan selama ini hanya Alex simpan dalam hati inginnya tersebut karena Jane tidak pernah menanggapinya setiap kali bocah genius itu mengutarakan keinginannya.
"Apa kamu tidak ingin memberi tahu ibu mu dulu?" tanya sang Dekan.
Alexander menggeleng kepala, "Tidak perlu Prof, ini adalah negara impian yang ingin aku kunjungi selama ini. Boleh kah Profesor membantuku meyakinkan Mommy ku?"
Melihat kesungguhan dari balik manik bening bocah genius tersebut, sang Dekan tidak tega untuk menolaknya. Sebab bagaimana pun juga Alexander merupakan satu-satunya kandidat yang layak dan pantas untuk menjadi perwakilan dari Universitas Teknologi Berlin.
"Tentu saja aku akan membantumu untuk meyakinkan ibu mu. Terima kasih sudah mau menjadi perwakilan kampus ini," sang Dekan mengulurkan tangan dan keduanya berjabatan sebagai tanda keduanya menyetujui isi kesepakatan mereka baru saja.
Dengan wajah gembira bocah genius keluar dari ruangan Dekan. Seuntai senyum senantiasa mengembang menghias bibirnya. Bayangan akan keindahan negara yang selama ini hanya mampu ia bayangkan dan ia lihat dari kanal YouTube, kini terbayang nyata. Dan membuat semangat Alexander menggebu siang itu penuh antusias.
"Maafkan aku, Mom! Entah mengapa aku sangat ingin mengunjungi negara kelahiran Mommy. Seperti ada yang menungguku di sana," batin si genius memasuki ruang kelasnya.
***
BERSAMBUNG....