Alexander is Cumlaude

Alexander is Cumlaude
Trauma Kembali Jane



Siang itu Alexander sengaja diberi ijin secara khusus oleh sang Dekan untuk pulang lebih awal. Karena rasa gembira yang teramat, maka bocah genius itu segera bergegas pulang menaiki taksi seperti biasanya saat Jane ataupun sopir pribadi Gordon tidak menjemputnya.


"Semoga Mommy sama Daddy menyetujui keberangkatan ku!" harap si genius dalam hatinya.


Alexander bergegas membuka pintu rumah, namun sepertinya rumah dalam keadaan kosong. Sebab Jane tengah mengunjungi Gordon ke perusahaan.


"Mommy, Mom....! Momm.... aku pulang!" teriak Alexander.


Bocah genius itu memeriksa seluruh ruangan namun tampak kosong dan sepi. Dan Alexander segera menelepon Jane.


"Hallo, Mommy! Mommy dimana?" suara Alexander dari ponselnya.


"Hai sayang, maaf ya, Mommy tadi lupa mengirim pesan sama kamu. Sekarang Mommy, lagi di tempat Daddy," jawab Jane.


"Baiklah, Alex akan menyusul ke sana, Mom!"


Tak lama setelah menelepon Jane, tampan bergegas memesan taksi. Siang itu Alexander sudah tidak sabar lagi untuk memberi kejutan kepada kedua orang tuanya, perihal pertukaran pelajar yang akan diambilnya atas utusan sang Dekan.


***


"Selamat siang, Tuan muda!" sapa security yang berjaga di depan pintu utama GD COMPANY, saat taksi yang ditumpangi Alexander berhenti.


"Terima kasih, selamat siang juga Paman!" balas Alexander saat turun dari taksi. Dimana sang security lah yang membuka pintu taksi.


Dengan wibawa serta cara berjalan yang sangat mirip dengan Aldrich Barayeve, Alexander menyusuri setiap karyawan yang tengah bekerja. Ucap salam serta sapaan pun tertuju padanya. Terurai senyum merekah dari balik wajah tampan bocah genius tersebut.


Setelah berhasil melewati lift, Alexander pun bergegas masuk ke ruangan sang ayah.


"Ceklek....!" pintu ruangan Gordon terbuka.


Kedua insan yang baru saja usai makan siang dengan saling bersuapan, menoleh ke arah pintu. Dan keduanya mengembangkan senyum menyambut kedatangan sang buah hati.


"Hai tampannya, Daddy!"


Alexander mencium punggung tangan kedua orang tuanya bergantian. Lalu duduk di tengah mereka. Sejenak bocah genius diam, berpikir untuk memulai berbicara dengan kedua orang yang dicintainya.


"Daddy, Mommy. Apa Alex boleh mengatakan sesuatu?" tanya Alexander dengan suara lirih dan wajah tertunduk.


Melihat sang putra kesayangan menampakkan wajah murung, maka Gordon pun mengangkat dagu si genius.


"Mau bicara apa sayang? Kenapa murung seperti itu, apa telah terjadi sesuatu di kampus?" tanya Gordon menyelidik.


Bocah di samping Gordon pun menggeleng pelan, dan memberanikan membalas tatapan Gordon, "Tidak terjadi sesuatu, Dad!"


"Lantas kenapa kamu kelihatan bersedih begitu sayang, bicaralah! Mommy juga ingin mendengarnya," tandas Jane menimpali.


"Alex ditunjuk oleh kampus untuk menjadi perwakilan dalam pertukaran pelajar," jawab si genius.


Sejenak Jane dan Gordon saling bersitatap, seraya terkekeh akan ekspresi sang putra yang sungguh membuat keduanya khawatir sesaat.


"Ya Tuhan, itu namanya berita bagus sayang," sahut Jane serta Gordon bersamaan.


Mendengar jawaban dari kedua orang tuanya yang terlihat gembira, sesaat bocah genius itu bisa bernapas dengan lega. Namun itu hanya berlangsung sesaat, sebab Alexander khawatir jika sang Mommy tahu negara mana yang akan menjadi tempat ia ditugaskan, bisa jadi Jane tidak akan merestuinya.


"Iya, sayang. Ada apa? katakan saja!" sahut Jane mengusap kembali kepala sang putra.


"Apa jika tempat yang akan Alex kunjungi itu adalah kota kelahiran Mommy, apa Mommy masih mengijinkan?"


Akhirnya ketakutan yang sedari tadi bergelayut di diri si genius terucap sudah, meski bibirnya terasa berat dan Kelu, sebab bocah tampan itu sangat menjaga perasaan sang Mommy dan tidak ingin menyakitinya sedikit pun.


Bukan hanya dengan si genius, sama halnya dengan Jane. Bibirnya mendadak bergetar saat sang putra menyebut kota kelahiran dirinya. Bayangan trauma beberapa tahun silam seolah menganga nyata di depan mata. Bahkan Gordon yang tahu persis kisah pilu sang istri, turut merasa prihatin saat wanita yang dicintainya terlihat gemetar ketakutan. Dan pria itu pun berusaha menenangkan serta menengarai, agar keduanya tidak terlibat dalam pertengkaran atau kesalah pahaman.


"Tampan sayang, Mommy pasti akan mengijinkan. Tapi biarkan Mommy beristirahat sebentar ya sayang? Sepertinya Mommy kurang enak badan," celetuk Gordon.


Alexander terlihat panik melihat kondisi sang ibu saat itu yang tiba tiba saja berubah ketakutan.


"Daddy, apakah Mommy sakit karena Alex?" tanya bocah delapan tahun itu tak kalah takutnya.


"Bukan sayang, bukan tampan yang membuat Mommy seperti ini. Biarkan dulu Mommy beristirahat, ya?" timpal Gordon memapah sang istri menuju ruang peristirahatan yang ada di belakang ruang kerjanya.


Di dalam ruangan tersebut, Gordon membaringkan tubuh Jane dengan pelan, diikuti si genius yang terus mengekor di belakang karena khawatir akan kondisi sang ibu.


Bukan hanya kilatan flash back kisah kelam masa lalunya yang membuat Jane syok, namun ia berusaha sekuat tenaga menahan agar air mata yang sedari tadi sudah ingin terjun bebas untuk tidak pecah, demi sang putra. Betapa pun hancurnya ia, Jane tidak ingin menghancurkan mimpi putra semata wayangnya tersebut.


"Mommy kenapa?" ucap Alexander memeluk erat tubuh sang ibu, perlahan isak tangis pun keluar dari netra indah si genius.


"Mommy hanya tiba tiba pusing sayang, kenapa kamu menangis?" Jane mendekap sang putra dengan erat, hatinya kembali merasa sakit tak berdarah.


"Iya sayang, Mommy hanya sedikit pusing. Biarkan Mom istirahat ya? Tampan ikut Daddy keluar sebentar, kita akan jalan-jalan," ujar Gordon berusaha menenangkan sang putra.


Dan si genius pun patuh akan perintah Gordon, ia melepas pelukannya dari Jane. Mengecup kening sang ibu lalu pergi mengikuti langkah sang ayah sambung yang berjalan meninggalkan ruangan tersebut.


Sesampainya di depan ruangan Gordon, pria itu merogoh ponsel dari dalam saku dan menggulir papan layar ponsel mencari nomor seseorang.


"Halo, selamat siang Nyonya Rean. Bisa kah Anda ke ruangan saya sebentar?"


Mendengar perintah dari sang atasan, nyonya Rean bergegas mempercepat langkah menuju ruangan sang bos yang berjarak tidak jauh dari meja kerjanya.


"Halo tampan!" sapa nyonya Rean memeluk bocah genius.


"Loh kenapa tampan menangis?"


Wanita paruh baya itu mendongakkan wajahnya menatap sang atasan yang terlihat cemas. Dan pria yang berdiri di samping si genius pun memberi isyarat kepada nyonya Rean.


Wanita paruh baya sahabat Jane itu lalu melepas pelukan Alexander dan berjalan sedikit menjauh dari bocah tersebut, bersama Gordon. Gordon mulai membisikkan sesuatu apa yang terjadi barusan serta meminta wanita paruh baya itu untuk menemani Jane di dalam sana, selama ia pergi membawa si genius jalan jalan.


"Baiklah, Tuan Gor. Sebaiknya Tuan tenangkan tampan. Urusan Jane biar saya yang tangani, jika terjadi sesuatu pasti akan saya kabari," tukas nyonya Rean bergegas masuk ke dalam ruang kerja Gordon.


Sementara itu Gordon mengusap netra sang putra dengan sapu tangan miliknya, kemudian menggendong nya menuju parkiran. Begitu pun dengan Nyonya Rean di dalam sana, mulai menghibur dan menenangkan hati Jane.


***


BERSAMBUNG....


MOHON MAAF JIKA UPDATENYA TERLALU LAMA YA KAKAK🙏, KARENA BUTUH BERPIKIR TENTANG KELANJUTAN CERITA INI☺️