Alexander is Cumlaude

Alexander is Cumlaude
Hilangnya Alexander Dari Hotel



"Pastikan semuanya aman! Tuan Aldrich tidak sebodoh yang kita kira, beliau pasti saat ini sedang mencari keberadaan putra ku."


Dengan tubuh tegapnya, Gordon berdiri memberi perintah secara langsung kepada kepala bodyguard yang saat ini turut bersamanya mengamankan keberadaan Alexander dan juga Jane.


"Baik, Tuan. Kami akan mengawasi mereka dan kami pastikan Tuan muda tidak akan tersentuh oleh mereka," balas kepala bodyguard membungkuk kan badan.


Gordon segera masuk ke dalam sebuah apartemen yang baru saja ia beli dengan mendadak dari rekomendasi salah satu resepsionis. Sebuah apartemen mewah yang letaknya cukup jauh dari pusat kota dan keramaian, namun setidaknya bisa mengalihkan fokus keluarga Madison kepada sang putra.


"Apa kita akan tinggal di sini?" tanya Jane menghampiri Gordon yang baru saja masuk.


"Mungkin untuk sementara iya, sayang. Nyawa putraku dan dirimu di atas segalanya bagiku. Dan aku tidak ingin pria bedebah itu mengambil kalian dariku."


Gordon mengusap pucuk kepala wanita di hadapannya dengan seulas senyuman.


"Lantas mau sampai kapan kita di sini? Kenapa kita tidak meminta Alex untuk mengundurkan diri," Kegelisahan terlihat dari wajah Jane.


"Ini adalah impian Tampan. Aku tidak ingin mematahkan semangatnya. Apa pun akan aku lakukan demi kesuksesan nya," timpal Gordon.


Alexander yang sedang mengutak-atik layar laptop miliknya di kamar. Mendengar dengan jelas percakapan kedua orang dewasa yang begitu sangat menyayangi dirinya. Untuk saat ini memang tidak mungkin ia akan membalaskan dendam sang ibu seorang diri. Mengingat lawan yang akan ia hadapi begitu tangguh. Dan sepertinya Alex tengah memikirkan sebuah siasat untuk melawan dan menjatuhkan kerajaan bisnis keluarga Madison.


"Bagaimana? apa kalian sudah menemukan putra ku?" Ucap Aldrich pagi itu yang baru saja menginjak kan kaki di kantor. Bercakap dengan salah satu bodyguard nya.


"Maaf Tuan, kami belum menemukan jejak mereka."


"Apa??? sungguh bodoh sekali kalian. Cepat kalian berpencar secepatnya. Cari putra ku...!!!


Suara lengkingan teriakan Aldrich masih terdengar di ponsel yang belum dimatikan oleh bodyguard tersebut. Sementara pagi ini Aldrich harusnya menghadiri rapat penting bersama salah satu Investor asing dari Belanda. Mendadak mood nya berubah seketika. Berganti amarah. Pria itu memukul keras meja di hadapannya dengan kuat sehingga beberapa dokumen di atas meja pun berhamburan ke lantai.


"Ma, maaf Tuan, apa ada yang bisa saya bantu?" ucap sekertaris Aldrich memasuki ruangan Aldrich yang kini berubah kacau.


"Keluar...!!!"


Wanita yang baru saja memasuki ruangan Aldrich tampak gemetar, segera keluar dan kembali bekerja di ruangannya.


"Ada apa dengan Pak Aldrich? Belakangan ini suasana hati Pak Aldrich suka berubah-ubah. Apakah perusahaan sedang mengalami masalah?" batin Clara.


Di dalam ruangan pribadi miliknya, Aldrich terlihat kacau penampilan nya pagi itu. Berkali-kali rambut yang tadinya tampak rapi serta klimis saat memasuki kantor. Dalam waktu sekejap berubah kacau berantakan. Ponselnya pun berdering terus namun ia abaikan.


"Pak Aldrich ada di ruangan nya. Tapi sepertinya mood beliau sedang kacau. Sebaiknya kamu jangan masuk. Aku saja barusan kena marah," sahut Clara memainkan ujung kukunya menatap Gustaf.


"Tapi pagi ini beliau ada meeting penting. Aku coba telepon di ponselnya berkali-kali tidak ada sahutan."


Gustaf berdiri di depan Clara mondar mandir. Bingung apakah harus masuk atau menunggu Aldrich keluar sendiri. Pesan yang ia kirim pun tak dibaca oleh Aldrich.


"Ah... biar lah aku masuk saja. Jika meeting ini gagal, perusahaan akan kehilangan kesempatan bagus."


Gustaf segera memberanikan diri masuk ke dalam ruangan Aldrich.


Dan benar saja seperti cerita Clara yang baru saja ia dengar. Baru saja kaki Gustaf memasuki ruangan itu selangkah. Kertas kertas tampak berserakan di lantai. Sementara Aldrich duduk di kursi membelakangi sang asisten.


"Bereskan berkas berkas itu. Jika sudah selesai siapkan mobil. Kita berangkat ke apartemen Tuan Pablo."


Langkah kaki Gustaf nyaris saja lunglai, ia pikir akan mendengar lengkingan suara sang atasan seperti yang Clara cerita kan. Namun sebaliknya, sepertinya amarah Aldrich sudah sedikit membaik. Bahkan semua pesan yang Gustaf kirim telah dibaca oleh Aldrich.


"Ah... syukurlah. Semoga Tuan Pablo tidak berubah pikiran atas keterlambatan ini," batin Gustaf sembari merapikan berkas berkas yang berserakan.


Tak lama berselang Gustaf mempercepat langkah besarnya segera mengeluarkan mobil kesayangan Aldrich. Pria berwajah tampan itu pun segera memasuki mobil dengan gagahnya dihiasi kacamata yang tak pernah lepas dari maniknya.


"Apa kamu sudah menghubungi Tuan Pablo?" Kali ini suara Aldrich sudah terdengar normal kembali.


"Sudah Tuan, Saya katakan bahwa Tuan masih ada meeting sebentar di perusahaan. Beliau pun tidak mempermasalahkan itu," pungkas Gustaf.


"Semoga saja beliau tidak membatalkan niatnya," timpal Aldrich kembali.


Setelah menyusuri jalanan yang cukup jauh, mobil mewah yang dikendarai Gustaf, kini berhenti tepat di depan pagar sebuah apartemen bercat putih. Apartemen tersebut memang cukup jauh dari kota. Bahkan tidak banyak barisan apartemen lainnya yang terlihat. Hanya ada satu yang berhadapan tepat, dan itu pun berjarak beberapa puluh meter.


"Bagaimana bisa orang sekaya Tuan Pablo lebih suka tinggal di kawasan yang sepi dan jauh dari pusat kota ya, Tuan!"


"Entahlah!" Sahut Aldrich singkat. Kemudian berjalan beriringan bersama Gustaf memasuki apartemen berwarna putih tersebut.


****


BERSAMBUNG.....