
Jane terus berjalan mondar mandir dari dalam kamar hotel, dengan berbagai ketakutan menghinggapi dirinya. Berkali-kali ibu satu anak itu mengacak rambutnya kacau. Ketakutan terbesar seorang Jane Audrey selama ini adalah, Alexander mengetahui siapa ayah biologisnya dan berhasil dibawa oleh keluarga Madison. Keluarga yang telah menghancurkan masa depannya selama ini.
"Tenang saja sayang! Mengapa kamu begitu tampak khawatir? Bukankah kamu sendiri yang membolehkan putra kita pergi bersama dia?" Ujar Gordon berusaha menenangkan hati sang istri yang terlihat kacau.
"Entahlah, aku takut putra kita akan termakan bujuk rayu wanita tua itu."
"Kali ini tenangkan dirimu! Kita tunggu apa yang sebenarnya ingin dilakukan putra kita tadi sore. Tidak mungkin dia mendatangi rumah sakit tempat wanita itu dirawat dengan sengaja. Pasti Alex mempunyai alasan."
Gordon berhasil menenangkan Jane dan mendekapnya dalam peluk hangat. Pelukan yang selama ini mampu membuat hati Jane luluh. Keduanya berdiri di depan kaca jendela kamar hotel yang tembus pada pemandangan luar jalanan. Dimana hari kini sudah gelap.
Dua mobil mewah yang baru saja melintasi jalanan ibu kota, kini berhenti tepat di halaman rumah sakit, dengan posisi mobil berjejeran. Sementara sebagai perwujudan bentuk kasih sayang serta rasa senang nya saat itu, Aldrich berusaha mengambil hati sang putra dengan membantu bocah tersebut membuka sabuk pengamannya.
"Sayang, sini aku bantu!" ujar Aldrich.
"Tidak perlu, singkirkan tangan kotor anda. Aku bisa melakukannya sendiri!" tolak Alexander ketus, menepis tangan Aldrich kasar dengan tatapan yang kini berubah penuh kebencian. Membuat pria yang masih duduk di depan kemudi itu tercengang kaget, akan perubahan sikap yang sangat mengejutkan.
"Sayang, apa yang terjadi? apa aku melakukan kesalahan?" Aldrich yang biasanya tidak bisa menerima diperlukan kasar oleh orang lain, kali ini berbeda. Ia terlihat lebih sabar dan berusaha mengambil hati bocah di samping nya.
"Jangan pernah panggil aku sayang. Yang berhak memanggil ku sayang, hanya Daddy dan Mommy!" sahut Alexander masih ketus.
"Tapi aku lah ayah kandung mu, Nak! Yaa Tuhan, apa yang sebenarnya sedang terjadi? baru saja aku merasakan kebahagiaan karena aku pikir setelah bertemu putra ku, aku bisa memeluknya. Kenapa hanya sebatas mimpi saja angan ku?" keluh Aldrich dalam hati penuh sesal yang teramat, melihat perubahan sikap Alexander yang tiba-tiba.
Setelah berhasil menepis tangan Aldrich, Alexander membuka sabuk pengaman dan turun dari mobil sendiri, tanpa bantuan Aldrich. Dan hal itu sangat melukai hati seorang Aldrich. Tanpa sadar setelah bocah kecil itu turun, bola mata yang penuh sorot mata tajam terlihat berkaca-kaca di dalam mobil. Sangat sakit ditolak darah daging sendiri ketimbang ditinggalkan mantan istrinya Cheryl. Tak ingin dilihat oleh Alexander, Aldrich segera mengusap butiran kristal bening yang nyaris jatuh ke pipi.
Ketiga pria bertubuh tegap juga terlihat baru saja turun dari dalam mobil satu persatu. Mulai mendekat ke arah putra sang majikan. Kendati meski telah ditolak oleh buah hati nya dengan begitu kasar, tak membuat pria itu berkecil hati. Ia masih tetap berusaha mengambil hati bocah di depannya, masih berusaha mengulurkan tangan kembali. Namun lagi-lagi Alexander menepisnya kasar. Membuat ketiga pria yang berdiri di depan bocah itu mengernyitkan alisnya masing-masing.
"Tuan Muda kami tidak bersedia bergandengan tangan dengan Anda. Jadi tolong biarkan Tuan Muda jalan sendiri!" ucap salah satu bodyguard memperingati Aldrich. Tak ingin terjadi keributan di sana, maka dengan wajah tertunduk lesu Aldrich pun mengalah. Dan kini ia memimpin jalan. Menuju kamar nyonya Madison.
"Ting...!"
Gordon yang baru saja usai mandi, segera bergegas meraih ponselnya yang ada di meja. Sementara Jane masih tampak kusut dan khawatir akan keadaan sang putra. Dibukanya ponsel dan sebuah senyuman terlihat mengembang jelas dari wajah tampan pria yang hanya mengenakan handuk warna putih setengah badan.
"Sayang, lihatlah kehebatan Putra kita. Dari awal aku sebenarnya sudah yakin Putra kita akan melakukan sesuatu. Maaf jika aku berbohong kepada mu."
Gordon mendekati Jane yang sedang duduk bersandar di sofa kamar hotel. Dan memeluk erat tubuh sang istri, dirinya benar - benar merasa senang akan sikap sang putra.
"Ah, lepaskan! Aku sedang tidak ingin bercanda. Apa maksudnya kata berbohong barusan?" Jane melepaskan pelukan Gordon dan beralih menatap suaminya minta penjelasan.
Gordon akhirnya bercerita kepada Jane, bahwa saat ada suara sebuah hantaman tembok, dan ia keluar. Dari pantulan sebuah kaca pintu kamar hotel sebelah, Gordon berhasil melihat bayangan sang putra. Namun ia berpura-pura tidak melihat nya sebab menurut Gordon cepat atau lambat bocah itu harus tahu hal sebenarnya yang terjadi menimpa ibunya delapan tahun silam. Sungguh hal hebat diluar dugaan seorang Gordon dan Jane, bahwa bocah yang masih sangat kecil itu akhirnya berusaha menemui sang ayah biologis dengan amarah yang dia punya.
Jane kembali menangis mendengar cerita sang suami dan juga saat Gordon memperlihatkan sebuah video yang berhasil direkam oleh salah satu anak buahnya. Bahkan saat setelah melihat Alexander bersembunyi, Gordon segera memerintahkan ketiga bodyguardnya untuk terus mengawasi putranya tersebut.
"Alex, Sayang....!" ucap Jane ternganga dengan air mata berjatuhan.
Jane akhirnya bisa bernapas dengan lega, setelah mendengar cerita dan melihat video barusan, membuatnya yakin bahwa Alexander tahu apa yang harus dilakukan kepada keluarga yang pernah menolak mengakui dan membuangnya secara sadis layaknya binatang.
"Aku tidak akan mengahalangi dan mencegah mu, Nak. Tunjukkan kepada mereka takdir telah membawa kita kembali dan mengingatkan mereka akan dosa dosa masa lalu keluarga biadab itu!" Batin Jane menyeringai puas.
Jane merasa seolah Tuhan merestuinya melalui sang putra untuk membalaskan dendam kepada keluarga Madison. Dan ia sangat yakin mereka akan menyesali apa yang pernah mereka lakukan seumur hidup dengan dihantui penyesalan.
Bersambung.....