Alexander is Cumlaude

Alexander is Cumlaude
Penyesalan Aldrich



Seperti yang dikatakan oleh Anabel, benar saja, setelah Cyril menelepon Adden memintanya untuk menemaninya. Pria berusia tiga puluh dua tahun itu segera meluncur secepat kilat, menuju tempat Cyril berkumpul dengan teman-teman nya.


"Halo, Sayang!" sapa Adden mencium pipi dan bibir Cyril tanpa malu-malu, di hadapan teman Cyril. Membuat teman Cyril kagum dan merasa iri akan keromantisan yang selalu Adden berikan kepada Cyril.


"Halo juga, Sayang!" balas Cyril mengalungkan kedua tangannya ke leher Adden dengan manja. Membalas mencium pipi kekasih gelapnya tersebut.


Tak lama kemudian Adden membawa sang kekasih ke apartemen nya. Keduanya merenda kasih dan bercinta secara sembunyi-sembunyi. Tanpa sepengetahuan Aldrich. Selama kurang lebih 5 tahun terakhir. Pasca kurang harmonisnya pernikahan nya dengan Aldrich.


****


"Tuan, kenapa akhir-akhir ini Anda terlihat pucat dan tidak bersemangat?" Tanya Bryan, sang asisten.


Semenjak pria ini membuang Jane yang saat itu tengah mengandung anaknya, ke sebuah negara yang jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Aldrich terus saja dihantui perasaan bersalah. Bahkan pernikahannya dengan gadis cantik ternama di kota itu, tidak membuatnya bahagia sama sekali. Bayang-bayang Jane serta aroma khas tubuh mantan sekertarisnya itu, seakan masih melekat dan tersimpan rapi dalam hati dan pikirannya.


"Entah lah, hidupku seakan tak berarti Bryan. Aku merasa gagal menjadi seorang suami." ucapnya lesu.


Aldrich meletakkan map yang baru saja dibacanya, ke atas meja. Beralih menatap pada Bryan yang sedang duduk di depan mejanya.


"Mungkin Tuan, dan Nyonya butuh liburan. Siapa tahu setelah berlibur, hubungan Tuan dan Nyonya kembali membaik." Tutur Bryan menasehati.


"Masalahnya tidak sesimpel itu Bryan, masalahnya ada padaku."


Ucap Aldrich menatap Bryan dengan wajah sendu. Merasa frustasi akan kehampaan pada pernikahannya dengan Cyril. Bayangan wajah Jane yang menangis saat pergi meninggalkan kantor, juga detik-detik saat sang anak buah mengirim Jane ke luar negri. Selalu menghinggapi ruang tersendiri di otaknya. Membuat pria ini selalu dihantui rasa bersalah yang tak berkesudahan.


"Apa ini masih berkaitan dengan masa lalu, Tuan?" tanya Bryan dengan sopan. Dan dibalas anggukan pelan oleh Aldrich.


"Tuhan telah menghukum ku Bry."


Suara Aldrich terdengar semakin lirih. Pria ini meremas rambutnya kacau, seraya membuang napas kasar. Ada kesedihan serta penyesalan yang teramat dalam, dalam diri Aldrich Barayeve.


"Kenapa Tuan tidak mencoba mencarinya, semua pasti belum terlambat." imbuh Bryan menatap sang atasan dengan rasa hiba.


Sejenak keduanya sama-sama diam ambigu. Obrolan siang itu tanpa sadar di dengar oleh nyonya Madison, yang kebetulan baru saja tiba di kantor. Untuk mengadukan sikap sang menantu kepada putranya.


"Apa? Aldrich punya anak dari perempuan lain?" gumam nyonya Madison dalam hati, seraya menutup mulutnya yang ternganga kaget saat itu dengan tangannya.


Wanita paruh baya ini mengurung kan langkahnya untuk masuk ke ruangan sang putra. Dan kembali ke Mansion bersama sopir pribadinya.


"Tinggal di mana perempuan itu, aku harus mencari tahu semua nya. Dia adalah pewaris dan keturunan Aldrich."


Wanita paruh baya ini masih bergulad dengan sejuta tanda tanya yang ada di otaknya. Mengenai sang putra, bahkan dalam otaknya tercetus ide untuk mencari keberadaan putra Aldrich, yang merupakan cucunya.


****


"Nyonya Rean, Saya permisi keluar sebentar. Mau menjemput Alexander." Jane meminta ijin kepada sang kepala divisi tersebut. Dan di iya kan oleh nyonya Rean.


Jane bergegas menaiki taksi yang sudah dipesannya, menuju kampus Alexander. Sementara menunggu sang ibunda datang menjemput, Alexander sengaja duduk di ruangan sang Dekan, seraya berbincang dan mengobrol atas permintaan Dekan kampus tersebut.


"Selamat siang, Pak!" ujar Jane membungkuk kan setengah badannya di hadapan Dekan kampus tersebut.


"Selamat siang juga Nyonya." Sahut sang Dekan.


"Nah Alexander, itu sudah dijemput oleh Mama. Hati-hati, jangan lupa istirahat yang cukup, ya!" imbuh sang Dekan sebelum pasangan ibu dan anak itu meninggalkan ruangannya.


Alexander mengangguk dan tersenyum kepada sang Dekan, kemudian melambaikan tangan sebelum pergi dari ruangan tersebut.


****


BERSAMBUNG....