Alexander is Cumlaude

Alexander is Cumlaude
Terbakar Cemburu



"Jane! Kak Gor!"


Seorang pria menggumam saat tanpa sengaja mobilnya melintas di jalan yang sama dan melihat adegan romantis pagi itu. Segera menghentikan mobilnya.


"Apa mereka ada hubungan?" gumam pria tersebut, yaitu Daren.


Daren memukul setir, merasa kecewa dengan apa yang dilihatnya. Namun pria ini masih berusaha menguasai kecemburuan dan akal warasnya. Menepis dalam batinnya semua prasangka yang mulai bermunculan di otaknya.


"Ayolah Daren, mana mungkin Kakak kamu menyukai wanita itu. Pasti dia hanya sedang menghiburnya," gumam Daren menghibur dirinya sendiri.


Setelah melihat mobil sang kakak kembali berjalan, Daren juga kembali melanjutkan perjalanannya menuju perusahaan. Ia sangat berharap Jane hanya sedang bersedih saja saat itu, Daren juga sudah tidak sabar lagi untuk segera menemui wanita tersebut, mengungkapkan kerinduannya pada Jane.


Setibanya di perusahaan, Gordon dan Jane berjalan secara terpisah. Mobil Daren yang baru saja memasuki halaman parkir perusahaan, segera dimatikan. Bergegas menyusul langkah Jane yang berjarak beberapa meter dari tempatnya berdiri.


"Jane!" teriak Daren sembari mempercepat langkah lebarnya, dengan sebuket mawar merah ditangannya.


Langkah Jane terhenti saat mendengar namanya dipanggil oleh suara yang sudah tidak asing lagi di telinganya.


"Daren," gumam Jane membalik badan menatap pria yang berlari kecil ke arahnya.


"Sayang, kamu baik-baik saja kan pagi ini? Sudah sembuh betul kan?"


Daren menggerakkan pipi Jane dengan kedua tangannya ke kanan ke kiri, dengan wajah cemas. Sementara Jane bengong melihat sikap Daren yang terlihat aneh baginya. Jane pun menepis tangan Daren kasar.


"Stop Daren, jangan berlebihan seperti itu. Ini di kantor bagaimana kalau mereka melihat kita?" cegah Jane.


Daren kaget dengan perubahan sikap Jane yang tiba-tiba berubah kasar, "Kenapa kamu berubah seperti ini? Apa ini semua karena Kak Gor?"


Jeder.... ucapan Daren seolah sedang menginterogasi terdakwa yang tertangkap basah. Membuat wajah Jane berubah pias seketika. Sekaligus gugup, karena Jane merasa heran darimana Daren bisa tahu tentang kedekatannya dengan Gordon. Sementara pemilik GD COMPANY yang sudah sampai di depan pintu utama perusahaan, berdiri seraya menatap ke arah Jane berdiri bersama Daren.


Jane yang sempat melihat Gordon tengah mengawasinya, segera berlalu meninggalkan Daren tanpa penjelasan. Menjaga hati dan perasaan Gordon, menurut Jane jauh lebih penting ketimbang menjelaskan sesuatu kepada Daren, yang menurut Jane kerap kali bersikap layaknya anak kecil.


"Jane! Sayang, Jane, jawab aku!"


Teriak Daren yang terus dilihat oleh Gordon. Sementara Jane tak menghiraukan teriakan Daren dan terus melangkah masuk ke gedung yang menjulang tinggi berlantai sepuluh itu. Melihat wanita yang dicintainya pergi meninggalkan sang adik, Gordon pun lanjut masuk ke dalam gedung dan menuju ruangannya.


Daren terlihat kesal karena Jane mengabaikan dirinya bahkan tak menjawab pertanyaan darinya. Ia pun kembali melangkah menuju Coffe shop yang terletak tidak jauh dari GD COMPANY, di seberang jalan. Menghilangkan kekesalannya pagi itu.


Bel tanda masuk telah berbunyi, Jane yang baru saja masuk di pintu utama, segera bergegas berlari menuju tangga eskalator dan mendekati lift. Tapi sayang semua lift tampak tertutup, sehingga ia terpaksa harus menunggu sampai pintu lift terbuka.


"Bruukk...!"


Tangan Jane tiba-tiba ditarik oleh seseorang dan membuatnya jatuh ke pelukan seorang pria dari dalam lift. Jantung Jane berdegup kencang dalam pelukan pria tersebut, bau aroma parfum yang dikenakan pria itu seolah Jane masih ingat dengan jelas parfum siapa. Perlahan Jane pun mendongakkan kepala menatap pria yang kini ia peluk dan mendekapnya.


"Ka-kamu!" gumam Jane kaget.


"Kenapa? Apa kamu berharap itu Daren?" pancing Gordon yang mulai terbakar api cemburu.


Jane terlihat gugup dan kaget, melihat wajah Jane yang terlihat mempesona dengan bibir merekah yang mampu menggoda siapa pun yang melihatnya membuat Gordon berkali-kali menelan saliva. Gordon mengunci tubuh Jane pada dinding ruang lift dan tak dapat bergerak atau bergeser sedikit pun. Perlahan Gordon mulai mendekatkan wajahnya dan segera menyantap bibir ranum nan merekah milik Jane.


Jane hanya bisa pasrah memejamkan mata menikmati ciuman hangat yang baru pertama kali ia rasakan selama hidupnya. Ciuman yang sama-sama ia inginkan karena saling mau, bukan sebuah keterpaksaan napsu bejat semata. Keduanya hanyut dan terlena dalam buai ciuman hangat pagi itu. Seolah mereka lupa sedang berada di mana saat itu. Dunia serasa milik mereka berdua. Hanya ada rasa bahagia yang tak bisa mereka jelaskan dan ungkapkan.


Setelah sekian tahun lamanya kedua insan tersebut saling merindu dan menyimpan perasaan dengan rapi dalam hati masing-masing. Hingga takdir mempertemukan kembali dan kini mereka sedang menikmati buai cumbu asmara di pagi yang indah di kota London.


***


BERSAMBUNG....