Alexander is Cumlaude

Alexander is Cumlaude
Kecemburuan Gordon



"Ya, Tuhan! tulisan ini, bagaimana Tuan Gordon bisa tahu bahwa hari ini adalah hari ulang tahun Alexander," gumam Jane kembali mengalir air matanya, berusaha menyambungkan rangkaian keanehan kejutan yang ia terima hari ini.


"Apa itu Kau?" berkali-kali Jane bergumam dengan kalimat yang sama masih tidak percaya dengan semua keanehan yang ia terima, namun semua tulisan dan kejutan-kejutan itu mengingatkan ia akan sosok pria delapan tahun lalu yang pernah menyelamatkan dirinya beserta sang putra.


Jane berlari menuju kamarnya dan menyumpal bibirnya di balik bantal, meluapkan tangisannya sejadinya. Agar tidak terdengar oleh sang putra.


Malam itu jam menunjukkan pukul 22.00 waktu setempat. Tidak puas sebelum mendapat jawaban dari semua tanda tanyanya. Jane segera mengganti pakaian dan mencegat taksi. Pergi menemui Gordon di kediamannya.


"Teeettt.... teeeeett....!" Jane menekan bel rumah Gordon dengan keras, berharap pintu akan segera dibuka oleh pemiliknya.


Seorang pria yang kebetulan sedang menonton film di dalam, segera keluar membuka pintu. Jane berharap pria yang membuka pintu adalah Gordon sendiri.


"Jane!" sapa Daren, kaget. Tersenyum bahagia melihat kehadiran wanita yang dicintainya di depan matanya.


Bibir Jane terkunci rapat seketika, bahkan kedua netranya memancarkan tatapan kecewa saat itu. Karena pria yang ia cari tidak ada di sana.


"Jane, ada apa malam-malam datang kemari?" tanya Daren lembut, menatap Jane yang terlihat gugup dengan mata sembab.


"Apa terjadi sesuatu terhadap Tampan, Jane?" pria ini mengguncang tubuh Jane pelan.


Jane masih diam terpaku, netranya berkeliaran mencari keberadaan Gordon. Kebisuan Jane semakin membuat Daren penasaran. "Katakan Jane jangan diam saja!"


Sikap lembut Daren semakin membuat hati Jane terasa sakit. Ia sadar perhatian dan perasaan Daren terhadapnya adalah tulus, namun sayangnya hati Jane sudah tertambat pada sosok pria yang pernah menyelamatkan dirinya bersama sang putra. Yang kini baru ia temukan kembali sosok tersebut, setelah sekian tahun ia mencari keberadaan nya namun tidak ada jawaban, sebab Gordon sengaja merahasiakan nama serta alamat pada rumah sakit tempat Jane dirawat dulu. Takdir kini menjawab tanya Jane dan membawa wanita ini di kediaman Gordon, yang tengah mengabiskan waktunya di mini bar yang ada di ruang kerja Gordon.


"Maaf, sepertinya aku hanya terbawa perasaan saja, Tuan. Aku permisi pulang, Alex sendirian di rumah," pamit Jane berusaha menghindari tatapan Daren.


Saat Jane hendak melangkah pergi, Daren menarik tangan Jane, dan membuat wanita itu terjerembab ke dalam pelukan Daren. Adegan romantis itu ditangkap oleh Gordon dari jendela ruang kerjanya yang tak jauh dari tempat Daren dan Jane berdiri.


"Lupakan dia Gor, dia adalah wanita yang dicintai oleh adik mu, harus kah kamu egois dan menjadi penghalang hubungan mereka."


Gordon membatin penuh kecewa, menatap sang adik yang sedang memeluk wanita yang sama, sama-sama mereka cintai. Ada rasa cemburu yang tak bisa Gordon tahan, ada perasaan yang kini mulai tumbuh dengan subur di hatinya untuk Jane. Namun tak bisa ia ungkap kan. Tanpa sadar kedua netra Gordon mulai basah, masih melihat sang adik bersama Jane dengan segelas anggur merah di tangannya.


"Lupakan! lupakan, Gor tentang dia! Dia mencintai adik mu, bukan dirimu," perang batin Gordon, berusaha meredam kecamuk di dadanya.


Sementara Jane yang takut jikalau Gordon akan salah paham dengan Daren, ia segera melepas pelukan Daren seketika, dan berpamit pulang. Karena malam sudah mulai larut, maka Daren pun memaksa Jane untuk mengantarnya sampai apartemen, sedangkan Gordon hanya bisa melihat kepergian mereka dari balik tirai, dengan perasaan sakit.


****


BERSAMBUNG....