
"Apa? Jadi benar pria tadi adalah Daddy Aldrich? Sungguh jahat sekali Daddy kepada Mommy," batin Alexander mulai geram mengepalkan keras tangan kanannya di saku celana, seolah siap menghantam wajah Aldrich saat itu.
"Ternyata ini lah alasan Mommy tidak mau menjelaskan kejahatan apa yang telah Daddy Al lakukan. Mommy lebih memilih bungkam. Tidak....! tidak, Mom.... Aku tidak akan membiarkan air mata Mommy jatuh kembali untuk pria brengsek itu lagi. Mereka harus menerima hukuman atas dosa-dosa yang mereka perbuat kepada ku dan Mommy."
Bocah yang tengah berdiri di balik pintu, dan berhasil mencuri dengar tanpa sengaja itu, mulai mengeraskan rahang sekuatnya. Kemarahan bocah genius tersebut nyaris saja tertangkap oleh Jane dan Gordon saat si genius memukul tembok yang suaranya terdengar sampai kamar.
Gordon segera membuka pintu di carinya sumber suara namun tidak dilihatnya siapa pun di luar kamar. Kamar sebelah pun masih tertutup rapat. Tak hanya sampai di situ, Gordon juga berjalan mengitari area kamar namun tidak ditemukan siapa siapa, dan pria itu akhirnya memilih kembali ke kamar.
"Huhhfttt....! Syukurlah Daddy tidak melihatku," batin Genius mengusap dada dan membuang napas.
"Siapa?" tanya Jane.
"Bukan siapa-siapa, mungkin saja hanya OB yang kebetulan lewat sayang," sahut Gordon.
Tak lama berselang setelah keduanya berbincang, waktu merujuk akan segera berganti sore. Namun pasangan tersebut melewatkan jam makan siang, akibat insiden kampus. Mereka hendak turun dan makan siang di lantai bawah hotel.
Sementara bocah yang baru saja keluar dari persembunyian, segera beranjak dari balik pot besar, berjalan dengan mengendap menuju lobby. Sesampainya di depan pintu lobby, Alexander kembali berjalan hingga jalan raya dan mencegat taksi lewat. Beberapa menit taksi yang ditunggu datang, bocah delapan tahun itu segera masuk setelah mengobrol beberapa saat dengan sang sopir.
"Kira-kira jauh kah Rumah Sakitnya, Tuan?" celetuk Alexander yang kini duduk di samping sopir taksi. Pria yang usianya lebih tua dari Gordon.
"Tidak jauh anak kecil," ujar sopir taksi.
Hari kini mulai beranjak berganti sore, bocah delapan tahun tersebut segera turun dan membayar taksi yang ditumpangi dengan sebuah jam branded, sebab tanpa berpikir panjang bahwa dia kini tidak sedang di negaranya.
Pasangan yang sedang menikmati makan siang, tiba-tiba dikejutkan oleh bunyi telepon yang bersumber dari dalam saku Gordon.
"Apa? Bagaimana putraku bisa ke sana? Apa saja yang kalian lakukan? kenapa tidak mencegahnya?"
Jane seketika membulatkan lebar kedua bola matanya mendengar sang suami yang begitu panik. Wanita itu meletakkan kembali gelas berisi air putih yang baru saja diminum.
"Cepat kalian cegah putraku, bawa pulang segera! Jika tampan melawan katakan ini perintahku."
Gordon menutup panggilan teleponnya dengan wajah gusar. Berdiri seketika sambil berkacak pinggang serta memijat kening, Ia juga menoleh ke arah sang istri. Yang seolah meminta penjelasan dari nya.
"Sayang tenang lah! Apa pun itu aku mohon kamu tetap tenang ya? Tampan kita baik baik saja."
Jane semakin panik dan penasaran, bangkit dari duduknya dan mendekati sang suami lalu mengguncang tubuh pria tersebut.
"Katakan, ada apa dengan Putraku? Siapa yang menelepon barusan?" suara panik Jane terdengar oleh beberapa pasang mata yang juga tengah menikmati makan siang.
"Tenang Honey, anak buah ku sekarang sedang membawanya pulang. Sebaiknya kita kembali ke kamar."
Gordon segera menarik tangan Jane, membawanya kembali menaiki lift menuju kamar yang berada di lantai empat.
Di depan rumah sakit, sopir taksi yang masih tidak percaya melihat jam tangan pemberian si genius sebagai ganti ongkos taksi. Tergagap gugup sekaligus gemetar, sebab ia tahu itu bukan jam tangan merk sembarangan.
"Anak kecil, si- siapa yang hendak kamu temui di sini?" tanya sang sopir terbata sembari kedua bola matanya terus melihat ke arah jam di tangan Alexander.
"Bukan siapa-siapa Paman. Ini, ambillah! Maaf aku lupa tidak membawa uang," ucap Alexander setengah memaksa menyodorkan jam miliknya kepada si sopir.
Tanpa banyak ucap pria paruh baya yang masih duduk di depan kemudi mobil, segera mengambil uang tersebut. Ia paham akan situasi yang dihadapi saat itu. Dan segera meninggalkan tempat itu.
"Seperti nya anak ini bukan bocah sembarangan," batin sang sopir di sepanjang jalan.
"Terima kasih sudah membayar taksi ku. Tapi biarkan aku masuk ke dalam sana. Aku ingin menemui seseorang," tolak si genius sopan kepada bodyguard sang ayah.
"Sebaiknya Tuan muda ikut kami. Sebelum tuan Gordon marah."
"Daddy?" ujar genius kaget.
"Iya, Tuan muda."
"Sejak kapan kalian mengikutiku? Kalian pergilah, aku masih ada urusan. Bilang kepada Daddy aku akan segera kembali ke hotel setelah urusan ku selesai," tolak genius.
Seperti perintah dari Gordon, jika si genius melakukan perlawanan maka mereka diperbolehkan membawa pulang paksa bocah tersebut.
Tak mudah untuk membawa anak kecil itu pulang, selain perdebatan mereka juga segan untuk berbuat kasar terhadap putra majikannya. Terpaksa tiga orang bertubuh tinggi besar itu membawa paksa Alexander untuk segera masuk ke dalam mobil. Terjadi perlawanan oleh Alexander yang terus berontak saat di gendong paksa. Sehingga mengalihkan perhatian sepasang mata yang melihat dari kejauhan.
"Apa yang terjadi di sana?" ucap seorang pria yang baru saja keluar dari pintu utama rumah sakit, namun hanya melihat punggung bocah kecil yang digendong seorang bodyguard masuk ke dalam mobil dan terlihat memberontak.
"Halo, Tuan, kami telah berhasil membawa Tuan muda kembali," tutur salah satu bodyguard yang kini duduk di samping genius.
"Baguslah, segera bawa kembali ke hotel!" balas Gordon.
"Syukurlah," ucap Jane berhasil bernapas lega setelah mendengar berita dari bodyguard sang suami.
"Kenapa anak kecil itu dibawa paksa masuk ke dalam mobil? Apakah mereka penjahat yang sedang menculik anak?" batin pria yang baru saja melihat kejadian di halaman parkir rumah sakit, yang tak lain adalah Aldrich.
"Apa aku harus mengikuti mereka? siapa tahu mereka benar kawanan penculik," gumam Aldrich terus bergejolak ingin menolong bocah tersebut.
Secepat kilat mobil sport warna putih yang baru saja keluar dari halaman rumah sakit, segera mengejar mobil yang juga baru saja meninggalkan area rumah sakit.
Tak ingin kehilangan jejak mobil yang sedang dibuntutinya, Aldrich terus mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Kali ini jiwa kemanusiaan Aldrich benar-benar merasa tergugah dan terpanggil. Entah karena ikatan batin yang tak ia sadari atau hanya sebuah ketidaksengajaan saja.
"Hotel?" gumam Aldrich saat mobilnya berhenti tepat di depan hotel tempat Jane dan Gordon menginap.
Lagi-lagi Aldrich gagal melihat dengan jelas wajah bocah tersebut, karena yang terlihat masih sama, yaitu punggung belakang. Dan ia bergegas mencari tempat parkir, kemudian mengejar ketiga pria tersebut.
Dengan napas memburu, Aldrich menerobos masuk dan berlari mencari keberadaan tiga pria barusan. Karena ia tidak tahu di kamar mana pria itu membawa bocah tersebut, Aldrich memutuskan naik menggunakan tangga manual. Terang saja hal itu menguras habis tenaganya dan tepat di lantai ke empat saat ia sedang mengatur napasnya sejenak. Ia terlihat kaget bukan main.
"Putraku!" gumam Aldrich lirih, berdiri mematung.
****
BERSAMBUNG....